Rabu, 21 Oktober 2020

Gerindra: Ada Model Kecurangan Baru dalam Pilkada DKI

Gerindra: Ada Model Kecurangan Baru dalam Pilkada DKI

Direktur Advokasi dan Hukum BPN Prabowo-Sandi, Sufmi Dasco Ahmad

Hasil hitung nyata rekap C1 oleh KPUD DKI telah diumumkan. Pasangan calon (paslon) Anies Baswedan-Sandiaga Uno ada di posisi kedua setelah paslon Basuki-Djarot.

Perolehan suara Anies-Sandi cukup tinggi dan hampir dipastikan lolos ke putaran kedua, namun menurut Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad hasil tersebut belum memenuhi harapan.

”Kami melihat adanya model kecurangan baru yang berbeda dengan praktik-praktik kecurangan pada pilkada sebelumnya,” kata Dasco dalam siaran persnya, Minggu (19/2).

Dia mengungkapkan, selama ini biasanya kecurangan didominasi pada proses rekapitulasi berjenjang yang dimanipulasi. Namun pada Pilkada DKI tahun ini yang paling mengkhawatirkan adalah adanya migrasi pemilih yang berakibat adanya penggelembungan jumlah pemilih di TPS. 

”Banyak sekali pemilih yang tidak dikenali warga setempat dan tanpa identitas yang lengkap memaksa untuk memilih,” ungkapnya.

Bahkan, di daerah tertentu, pencoblosan masih terjadi setelah lewat batas waktu pencoblosan pukul 13.00 WIB. 

Dasco mengaku telah melihat rekaman video antrean pemilih yang panjang. Disebutkan hal tersebut, terjadi di wilayah Mall of Indonesia, Kelapa Gading. Padahal, waktu sudah menunjukkan jam 13.15 WIB.

Fenomena tersebut sangat aneh, karena Jakarta adalah kota yang tidak terlalu luas jika dibandingkan dengan provinsi lain. Tidak sulit bagi warga Jakarta untuk memilih di TPS yang sesuai dengan KTP-nya.

”Paling lama waktu tempuh tiga jam dan pilkada dijadikan hari libur, gak macet. Jadi, sebenarnya nyaris tidak ada alasan bagi pemilih untuk memilih tidak di TPS tempat dia terdaftar,” tegasnya. (ls)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.