Minggu, 18 April 2021

Ini Penjelasan Kapolri Kepada Komisi III DPR

Ini Penjelasan Kapolri Kepada Komisi III DPR

Foto: Saat Aksi 212 jilid dua pada 21 Februari 2017 di depan Gedung DPR/MPR. (jurnalis warga/swamedium.com)

Jakarta, Swamedium.com — Komisi III DPR RI, Rabu (22/2) menggelar rapat kerja dengan Kapolri Tito Karnavian, sebagai kelanjutan aspirasi aksi 212 Jilid dua Selasa kemarin.

Banner Iklan Swamedium

Tito diminta penjelasannya tentang kasus kriminalisasi terhadap ulama di hadapan Komisi III DPR RI di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta. Dia memaparkan penanganan Kasus Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab dan Ketua GNPF-MUI Ustadz Bachtiar Nasir.

Tito menerangkan, bahwa kasus ini berawal dari laporan masyarakat yang kemudian menjadi bahan penyelidikan kepolisian.

“Sekali lagi ini adalah laporan dari masyarakat. Kalau ada laporan Polri tentu menindaklanjuti,” kata Tito dalam rapat kerja.

Tito menjabarkan, Pertama Habib Rizieq dijerat dugaan kasus penghinaan Pancasila versi presiden pertama RI Soekarno dan yang melaporkan adalah Sukmawati Soekarnoputri, dan kasus ini masih ditangani oleh Polda Jabar.

Kedua, sambung Tito, Habib Rizieq dijerat dugaan kasus penyebutan lambang palu arit dalam uang Rupiah yang diterbitkan Bank Indonesia dan yang melaporkan adalah masyarakat. Kasus ini masih dalam proses oleh Polda Metro Jaya dan memasuki pemanggilan saksi termasuk desainer pembuat uang.

Kemudian, kasus penistaan agama yang menjerat Habib Rizieq berawal dari laporan organisasi mahasiswa Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia. Kasus ini, kata Tito masih didalami dan sudah memasuki proses pemeriksaan ahli bahasa, ahli pidana, dan juga tengah berkoordinasi dengan MUI.

“Setelah itu, baru diketahui apakah dilanjutkan ke penyidikan atau tidak,” jelas Tito.

Selanjutnya, soal ujaran kebencian yang dilakukan Habib Rizieq terhadap kelompok Pertahanan Sipil. Atas hal itu, Habib Rizieq dilaporkan oleh kelompok Hansip ke Polda Metro Jaya. Tidak hanya itu, kasus ini juga dilaporkan ke Polisi di daerah Kalimantan dan Sumatera Selatan.

“Kasus ini ‎masih tahap pemeriksaan saksi ahli,” tuturnya.

Terakhir, kami Polri masih mendalami kasus dugaan percakapan tidak senonoh antara yang diduga terjadi antara Habib Rizieq dengan pengusaha Firza Husein. Kasus ini masih dalam pendalaman dan saat ini polisi sudah melakukan penyitaan terhadap telepon genggam yang terlibat dalam kasus tersebut.

“Kasus dengan Firza masih pemeriksaan ahli digital forensik, apakah foto itu benar atau tidak. Kemudian akan ditingkatkan apakah akan ada tersangka atau tidak,” imbuhnya.

Sementara itu, mengenai kasus yang menjerat ketua GNPF-MUI Tito menyebut ada laporan tentang dugaan pelanggaran Undang-Undang (YUU) Yayasan, UU Perbankan dan juga tindak pidana pencucian uang. Kasus ini pun sedang didalami anggotanya.

“Sesuai UU yayasan nomor 28/2004 dijelaskan dana yayasan tidak dapat digunakan oleh pihak ketiga. Untuk kegiatan keagamaan ini dikuasai oleh Bachtiar Nasir yang merupakan pihak ketiga, itu melanggar Pasal 5 UU 28/2004 dengan ancaman hukuman selama 5 tahun ,” tandasnya.

Komisi III DPR hanya baru mendengarkan penjelasan dari sisi Kapolri. Rapat kerja Komisi III DPR RI dan Kapolri saat ini masih berlangsung. (jm/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita