Selasa, 13 April 2021

Beban Berat Kemanusiaan di Mosul Bagian Barat

Beban Berat Kemanusiaan di Mosul Bagian Barat

Mosul, Swamedium.com — Warga Irak di wilayah barat Mosul telantar dan terjebak selama perang berlangsung. Kondisi mereka semakin pelik seiring berjalannya waktu serta gencarnya serangan tentara Irak untuk mengambil alih wilayah itu.

Banner Iklan Swamedium

Organisasi-organisasi kemanusiaan berkejaran dengan waktu untuk menyiapkan segala sesuatu apabila ratusan ribu warga sipil melakukan eksodus dari Mosul, Irak.

Angkatan bersenjata Irak meningkatkan serangan ke wilayah barat Mosul untuk mengambil alih Kota itu dari negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq and Syria, ISIS). Tindakan itu telah menggugah sejumlah organisasi kemanusiaan untuk segera memberikan bantuan bagi warga sipil di sana.

Perkemahan darurat didirikan di sembilan kota. Makanan dan kebutuhan dasar yang lain disediakan untuk 400.000 warga Irak yang mungkin akan mengungsi dari Mosul.

“Perhatian paling utama ialah kemungkinan kita akan mendapati kedatangan besar-besaran warga sipil yang telantar,” kata Hala Jaber, juru bicara the International Organization for Migration (IOM).

Menurut UNHCR, tempat-tempat yang dapat menampung setidaknya 60.000 orang di wilayah timur dan selatan Mosul sudah tersedia. Akan tetapi, beberapa kelengkapan, seperti toilet dan kamar mandi umum serta anggota keamanan, masih belum siap. Biasanya, persiapan itu memerlukan waktu selama enam pekan.

Sejak serangan dilancarkan pada 17 Oktober 2016, lebih dari 217.000 orang di Mosul sebelah timur telantar. Angkatan bersenjata Irak baru mengambil alih Mosul timur itu sebulan yang lalu, sedangkan organisasi-organisasi kemanusiaan telah lebih dahulu memberikan bantuan di sana. Sebanyak 57.000 warga telah pulang ke rumah masing-masing.

Sementara itu, pertempuran untuk merebut Mosul barat (yang warganya berjumlah sekitar 800.000) mungkin akan lebih sengit dan menantang. Alasannya, kendaraan-kendaraan tempur tidak dapat melewati jalanan-jalanan kecil yang sempit di permukiman padat di sana, kata seorang komandan Irak.

Sekitar 400.000 orang bermukim di daerah-daerah padat di Kota Tua, Mosul. Di dalam Kota Tua itu terdapat pasar-pasar kuno dan Masjid Raya al-Nuri.

“Gang-gang sempit di Kota Tua mungkin mengharuskan perkiraan pertempuran yang berbeda, sehingga level risikonya mencapai tingkat tidak terkendalikan,” terang Bruno Geddo, perwakilan UNHCR di Irak, kepada Al Jazeera. Ia memaklumi pertempuran di Mosul barat lebih sulit dibandingkan Mosul timur.

“Itulah mengapa kami memastikan kesiapan kami untuk kemungkinan datangnya warga secara besar-besaran,” lanjutnya.

Sudah tersedia tempat-tempat penampungan bagi 250.000 warga sipil, tetapi persoalan waktu perlu diperhatikan juga. Bruno mengatakan, “Jika mereka telantar dalam hitungan dua hari, ini dapat melebihi kapasitas. Kami perlu kapasitas yang cukup untuk kedatangan besar-besaran tersebut.”

Para pekerja kemanusiaan harus tetap beraktivitas, walaupun akan ada kemungkinan Kota Tua dikepung. Selain itu, hal-hal yang tidak terduga dalam perang pun senantiasa menyusahkan mereka tentunya.

“Kami tidak tahu apa yang akan terjadi selama operasi militer, tetapi kami harus siap untuk berbagai kemungkinan,” kata Lise Grande, koordinator kemanusiaan Perserikatan Bangsa di Irak.

Perbekalan untuk warga yang terjebak di Mosul barat sudah berkurang setelah jalanan utama menuju Suriah tidak dapat diakses sejak tiga bulan yang lalu. Sebagian toko makanan tertutup. Harga makanan di sana hampir dua kali lipat harga makanan di Mosul timur.

Harga bahan bakar untuk menghangatkan ruangan dan memasak makanan telah meroket. Para keluarga bercerita bahwa mereka membakar perabotan dan sampah agar dapat tetap hangat.

Berdasarkan sumber dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar 60% warga Mosul kekurangan air minum. Banyak warga bergantung kepada air mentah dari sumur setelah tanam-tanaman rusak karena perang.

Kondisi warga Mosul barat yang sangat menyedihkan diduga akan semakin parah akibat angkatan bersenjata Irak mendekati dan mengelilingi Kota Tua untuk membasmi ISIS.

“Banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Yang dapat kami duga sekarang ialah situasi seperti pengepungan kota oleh angkatan bersenjata. Mereka masuk dan mengambil orang-orang dari permukiman,” kata Bruno.

Ia menambahkan, “Namun, satu kemungkinan yang dapat muncul juga ialah ISIS akan menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia. Dalam kasus itu, kami akan memiliki situasi sulit yang berlarut-larut.”

Warga sipil di Mosul barat menyusup ke luar, bahkan sebagian di antara mereka membayar $2.000 agar dapat keluar dan menemui anggota keluarganya di Mosul timur.

Semenjak perang, kehidupan mereka berisiko. Sebagian warga terpaksa melanggar peraturan ISIS demi memperoleh kebutuhan mereka. (ais)

foto: ist.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita