Kamis, 29 Juli 2021

Mengingat Sejarah Masjid Istiqlal Berdampingan dengan Gereja Katedral

Mengingat Sejarah Masjid Istiqlal Berdampingan dengan Gereja Katedral

Jakarta, Swamedium.com – Penting rasanya bagi umat islam di Indonesia untuk mengingat kembali sejarah pembangunan Masjid Raya Istiqlal yang terletak di jantung ibu kota DKI Jakarta. Hal ini bertujuan memperteguh nilai-nilai yang terkandung di balik perjalanan panjang Masjid yang kemarin merayakan Milad atau hari jadi ke 39.

Banner Iklan Swamedium

Pluralisme menjadi salah satu nilai utama dari keberadaan Masjid yang diprakasai oleh Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno pada 24 Agustus 1951 ini. Pasalnya, tidak hanya karena perancangnya Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan, tapi juga letaknya yang berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta.

Masjid ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Jakarta. Kebanyakan wisatawan yang berkunjung umumnya wisatawan domestik, dan sebagian wisatawan asing yang beragama Islam.

Masyarakat non-Muslim juga dapat berkunjung ke masjid ini setelah sebelumnya mendapat pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal, meskipun demikian bagian yang boleh dikunjungi kaum non-Muslim terbatas dan harus didampingi pemandu.

Ini menjadi bukti bahwa Indonesia sebagai negeri yang mampu merawat keberagaman dan perbedaan, seperti yang dikatakan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memberikan pidatonya perayaan Milad ke 39 Masjid Raya Istiqlal, kemarin semalam.

“Kenapa Istiqlal dibangun di sini bukan di Tanah Abang? Untuk memberikan suatu tekanan dalam toleransi beragama. Di depannya Katedral, di sebelah sana gereja besar,” ujar pria yang biasa disapa JK ini.

Masjid besar yang berlokasi di Jalan Katedral, Jakarta Pusat ini menjadi panutan bagi Masjid lainnya. Perannya semakin berkembang seiring zaman yang semakin maju. Fungsinya pun harus disesuaikan dengan perubahan zaman.

“Harus memberi ketauladanan dengan contoh-contohnya. Fungsi sosial, pertemuan dan acara-acaranya harus dijalankan dengan tanggung jawab,” katanya.

JK mengingatkan agar Masjid menjadi tempat yang menyejukkan bagi umat muslim dan masyarakat. Masjid juga ikut bertanggungjawab atas perubahan sosial kemasyarakatan. Sebab, tuntunan hidup bermasyarakat datang dari masjid melalui dakwah yang menyejukkan hati.

“Masjid tanggung jawabnya kepada masyarakat tidak ke pemerintah. Harus bisa membedakan antara munkar dan makar, kalau perilaku yang korup itu munkar kalau menggulingkan sesuatu nah makar itu. Tidak bisa diterima,” pungkasnya.

Bangunan utama Masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat.

Bangunan utama masjid dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar masjid. Masjid ini mampu menampung lebih dari dua ratus ribu jamaah.

Editor: Robbi Khadafi

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita