Rabu, 23 September 2020

Dua Agenda Ini Perlu Dibahas Indonesia dengan Raja Salman

Dua Agenda Ini Perlu Dibahas Indonesia dengan Raja Salman

Jakarta, Swamedia.com – Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dari Kerajaan Arab Saudi akan mengunjungi Indonesia pada 1-9 Maret 2017 bersama 1500 rombongannya.

Menurut Anggota Komisi I DPR Sukamta, setidaknya ada dua agenda besar yang dapat dibicarakan antara Indonesia dan Arab Saudi. Pertama, harus mampu mendorong hubungan yang lebih erat antara Indonesia dengan Arab Saudi. Dengan peningkatan hubungan bilateral ini diharapkan memiliki dampak peningkatan volume perdagangan dan investasi.

“Saya mendengar Arab Saudi bersiap investasi senilai 300 triliun, ini jelas sangat baik bagi Indonesia. Penguatan hubungan bilateral ini juga bisa dimanfaatkan Indonesia untuk mengusulkan solusi perlindungan TKI di Arab Saudi,” ujar Sukamta dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (25/2).

Selain itu yang tentu diharapkan oleh umat Islam di Indonesia, adanya tambahan kuota Haji. “Saya berharap dalam pembicaraan yang dilakukan pemerintah RI bisa mendorong adanya kesepakatan atau MOU kedua belah pihak atas 3 hal tersebut dan ini akan sangat bermakna bagi Indonesia,” katanya.

Kedua, menguatkan peran kedua negara dalam isu regional Asia khususnya di kawasan dunia Islam. Pasalnya, Indonesia merupakan negara berpenduduk Islam terbesar sementara Arab Saudi dengan keberadaan Mekkah dan Madinah sebagai Kota Suci Ummat Islam dihormati oleh negara-negara Islam.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini berpandangan, kedua negara dapat memainkan peran strategis untuk mendorong upaya meredakan konflik dan ketegangan di negara-negara Islam.

“Pembicara soal ini akan sangat terkait dengan isu terorisme yang katanya akan dibahas oleh kedua negara. Selama konflik terus berjalan, akan menyuburkan tumbuhnya kelompok radikal seperti ISIS. Maka resolusi konflik perlu diwujudkan dan saya optimis kedua negara dapat memainkan peran ini dengan baik,” jelasnya.

Sukamta menambahkan, peran strategis kedua negara juga dapat dikembangkan untuk membangun masa depan dunia Islam yang mampu bersaing di tataran global.

“Selama ini pembicaraan di level regional sering didominasi pekerjaan rumah isu politik keamanan, saya kira dunia Islam perlu punya agenda setting sendiri, seperti penguatan kerjasama peningkatan sains dan teknologi, pengembangan industri, kerjasama sosial dan budaya. Ini akan lebih konstruktif membawa kemajuan,” pungkasnya. (*)‎

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.