Wednesday, 24 April 2019

Jakarta, Kota Termacet Keempat di Dunia

Jakarta, Swamedium.com — Kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta tampaknya masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat yang beraktifitas di ibukota negara ini.

Baru-baru ini produsen GPS TomTom merilis hasil pelacakan satelitnya terhadap kondisi lalu lintas jalan di malam hari pada jam sibuk di seluruh dunia. Pelacakan dari satelit GPS TomTom tersebut memantau kondisi lalu lintas jalan malam hari di 390 kota dari 48 negara di seluruh dunia.

Yang mencengangkan dari hasil pelacakan tersebut adalah, ternyata Jakarta menempati urutan ke empat dari 15 kota dengan kondisi lalu lintas jalan di malam hari terburuk di dunia.

Berikut adalah peringkat kota dengan kondisi lalu lintas jalan di malam hari pada jam sibuk yang dirilis GPS TomTom:

1. Bangkok, Thailand
2. Mexico City, Meksiko
3. Bucharest, Rumania
4. Jakarta, Indonesia
5. Moskow, Rusia
6. Chongqing, Cina
7. Instanbul, Turki
8. St. Petersburg, Rusia
9. Zhuhai, Cina
10. Santiago, Chili
11. Guangzhou, Cina
12. Shijiazhuang, Cina
13. Shenzhen, Cina
14. Los Angeles, AS
15. Beijing, Cina

Pakar lalu lintas senior dari TomTom, Nick Cohn mengatakan bahwa kota-kota dengan lalu lintas terburuk dari aspek kemacetan telah menjadi korban dari kesuksesan mereka sendiri. Cohn menyayangkan pertumbuhan ekonomi dan melonjaknya populasi penduduk diterjemahkan ke dalam penambahan jumlah kendaraan yang dimiliki setiap orang.

“Ini akan menjadi tantangan bagi setiap pemerintah kota untuk menjaga hal tersebut,” kata Cohn sebagaiman yang dirilis CNN, Senin (20/2).

Sementara di tempat terpisah, Ketua Umum Road Safety Association-Indonesia, Ivan Virnanda, menganggap sudah waktunya Pemerintah segera berbenah untuk menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman, selamat, terjangkau, selamat dan ramah lingkungan.

Hal itu perlu agar masyarakat mau beralih moda transportasi agar lalu lintas jalan tidak bertambah macet.

“Yang terpenting sekarang dilakukan adalah menciptakan people movement dengan mengedepankan penggunaan transportasi publik. Bukan vehicle movement dengan terus membangun dan menambah ruas jalan tanpa bisa mengendalikan pertambahan populasi kendaraan,” pungkasnya. (ls)

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)