Minggu, 24 Januari 2021

Mental Kaya VS Mental Miskin

Bandung, Swamedium.com — Kaya secara finansial didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki sejumlah harta atau penghasilan yang banyak. Seseorang juga bisa dikatakan kaya jika memiliki penghasilan yang lebih besar dari biaya hidupnya.

Banner Iklan Swamedium

Benarkah demikian? Kaya, dalam bahasa Arab bisa menggunakan kata ghani, artinya tidak membutuhkan. Kebalikan dari ghani adalah fakir yang artinya membutuhkan. Maka, kaya sebetulnya bukan dilihat dari ukuran kuantitas seberapa besar penghasilan atau total aset yang dimiliki. Kaya adalah kondisi ketika anda sudah merasa tidak memerlukan lagi, atau merasa sudah cukup dengan harta atau penghasilan kita.

Mental Kaya
Mentalitas kaya adalah mental orang yang tidak merasa kekurangan, atau merasa cukup dengan yang dimilikinya. Maka, ia tidak merasa kehilangan dengan berbagi. Tidak merasa kehilangan ketika memberi karena sudah merasa kaya.

Orang yang memiliki mental kaya, ia akan bersyukur atas segala rezeki yang Allah berikan kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu,” (QS. Ibrahim [14] : 7).

Mental Miskin
Sebaliknya, mentalitas miskin adalah tidak pernah merasa cukup dan puas. Selalu merasa kurang dan ingin lebih, lebih, dan lebih. Walau harta sudah melimpah ruah sampai tidka habis diwariskan pada beberapa generasi, tetapi tetap saja tidak merasa cukup. Kikir ketika member, karena masih merasa kurang untuk diri sendiri juga. Jadi, orang-orang yang memiliki mentalitas miskin itu, fokusnya adalah mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri.

Padahal, dalam Islam diajarkan bahwa sekian persen dari harta yang kita miliki, adalah bukan milik kita. Ada hak orang lain di sana. Seperti hak kaum yatim dan dhuafa. Harta yang seharusnya kita bersihkan atau sedekahkan itu, bagaimanapun caranya tetap akan keluar dari harta kita. Ada tiga pilihan agar harta kita bersih.

Pertama, dengan cara sukarela, seperti membayar zakat dan sedekah. Kedua, jika itu tidak dilakukan, bisa jadi harta kita akan bersih dengan cara terpaksa. Yaitu membiayai yang sakit, atau justru diri kita yang sakit. Membiayai kerugian dan kemalangan lainnya yang menimpa. Ketiga, yaitu dengan cara dipaksa. Misalnya dicuri.

Jangan Takut untuk Berbagi
Bagaimana dengan sedekah? Sedekah nunggu kaya dulu? Wah, jangan-jangan justru karena tidak pernah bersedakah atau tidak ikhlas dalam bersedekahlah yang membuat kita tidak jadi orang kaya. Karena sedekah itu bukan masalah seberapa besar harta yang kita miliki, tapi seberapa besar rasa syukur kita dengan cara berbagi dengan orang lain.

Kalaupun tidak ada sama sekali untuk disedekahkan. Bahkan Rp. 1000 pun tidak ada, setidaknya sedekahlah dengan apa yang kita bisa. Mulai dari tersenyum manis kepada saudara sesama muslim. Bersikap ramah kepada sesama. Dan, membersihkan sampah yang berserakan di jalan.

Upayakan tetap ada sedekah dalam bentuk nyata lainnya. Karena sedekah adalah salah satu pintu rezeki. Jangan sampai kesempitan kita sekarang menjadikan kita kehilangan rasa syukur kepada Sang Pencipta, dan tidak mau lagi bersedekah. Hal ini tentu akan membuat rezeki malah bertambah sempit lagi. (Cristy Az-Zahra)

Penulis adalah salah satu santriwati Pondok Pesantren Daarut Tauhiid

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita