Kamis, 24 September 2020

Mental Kaya VS Mental Miskin

Bandung, Swamedium.com — Kaya secara finansial didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki sejumlah harta atau penghasilan yang banyak. Seseorang juga bisa dikatakan kaya jika memiliki penghasilan yang lebih besar dari biaya hidupnya.

Benarkah demikian? Kaya, dalam bahasa Arab bisa menggunakan kata ghani, artinya tidak membutuhkan. Kebalikan dari ghani adalah fakir yang artinya membutuhkan. Maka, kaya sebetulnya bukan dilihat dari ukuran kuantitas seberapa besar penghasilan atau total aset yang dimiliki. Kaya adalah kondisi ketika anda sudah merasa tidak memerlukan lagi, atau merasa sudah cukup dengan harta atau penghasilan kita.

Mental Kaya
Mentalitas kaya adalah mental orang yang tidak merasa kekurangan, atau merasa cukup dengan yang dimilikinya. Maka, ia tidak merasa kehilangan dengan berbagi. Tidak merasa kehilangan ketika memberi karena sudah merasa kaya.

Orang yang memiliki mental kaya, ia akan bersyukur atas segala rezeki yang Allah berikan kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu,” (QS. Ibrahim [14] : 7).

Mental Miskin
Sebaliknya, mentalitas miskin adalah tidak pernah merasa cukup dan puas. Selalu merasa kurang dan ingin lebih, lebih, dan lebih. Walau harta sudah melimpah ruah sampai tidka habis diwariskan pada beberapa generasi, tetapi tetap saja tidak merasa cukup. Kikir ketika member, karena masih merasa kurang untuk diri sendiri juga. Jadi, orang-orang yang memiliki mentalitas miskin itu, fokusnya adalah mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri.

Padahal, dalam Islam diajarkan bahwa sekian persen dari harta yang kita miliki, adalah bukan milik kita. Ada hak orang lain di sana. Seperti hak kaum yatim dan dhuafa. Harta yang seharusnya kita bersihkan atau sedekahkan itu, bagaimanapun caranya tetap akan keluar dari harta kita. Ada tiga pilihan agar harta kita bersih.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.