Sabtu, 16 Januari 2021

Bintang Hollywood Abaikan “Brand Israel”

Bintang Hollywood Abaikan “Brand Israel”

Oleh Catherine Rottenberg*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Para calon pemenang Oscar mungkin telah menyadari dengan betul bahwa kontroversi akan timbul jika menyetujui Brand Israel–kampanye pencitraan kementerian pariwisata Israel agar wisatawan asing mengunjungi negeri itu.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tampaknya, mungkin paradoksikal, lebih berobsesi dari sebelumnya untuk mempromosikan citra baik Israel di dunia internasional seiring pergerakan Israel yang kian lama kian berbahaya.

Pergerakan berbahaya itu, seperti Israel terbukti secara hukum melegalkan perampasan tanah-tanah pribadi milik warga Palestina.

Rezim Israel telah mengucurkan jutaan dolar untuk kampanye Brand Israel. Pada Desember 2016, surat kabar Haaretz melaporkan bahwa kementerian pariwisata telah diberikan anggaran pemasaran terbesarnya untuk mengubah citra Israel sebagai tujuan perjalanan.

Tampaknya, rezim tidak berhati-hati dalam upaya meyakinkan dunia internasional bahwa negara yahudi itu ialah satu-satunya negara demokrasi di Asia Barat.

Ilusi itu kelihatan makin sulit untuk bertahan seiring berjalannya waktu dan rupanya sedikit aktor internasional yang berpartisipasi dalam kampanye Brand Israel.

Pada hari-hari sebelum malam penghargaan Oscar 2017 ini, artikel-artikel yang tergesa-gesa memublikasikan bagaimana kementerian pariwisata berusaha membujuk 26 calon pemenang Oscar dengan paket perjalanan mahal ke Israel sekitar $55.000 per orang.

Para pegawai pemerintah membenarkan aksi mereka dengan bersikeras dalam pentingnya menjamu para selebritas dengan “real Israel”.

Jelas, apa yang dipertaruhkan di sini ialah proyeksi–dan penggambaran/pemetaan suatu wilayah yang berlebihan–dari keadaan Israel yang biasa saja.

Media-media utama melaporkan, bahkan satu dari dua belas bintang film pun tidak menyambut ajakan tersebut.

Keengganan para bintang Hollywood berpartisipasi dalam kampanye Brand Israel tentunya menandakan perubahan penting dalam hubungan AS dengan Israel.

Para pemeran film itu tidak membuat pernyataan publik atau tampil di muka umum untuk mendukung gerakan boikot, divestasi, dan sanksi (boycott, divestment, and sanctions movement, BDS). Oleh sebab itu, penolakan mereka jangan dipahami sebagai pernyataan politis.

Banyak muda-mudi AS–yang juga merupakan penggemar utama para selebritas itu–memandang Israel dan kebijakannya bersifat memecah belah karena proyek kolonial imigran Israel (atas Tanah Air Palestina) masih terus berlanjut hingga sekarang.

Meskipun mayoritas warga AS masih lebih bersimpati kepada warga Israel daripada bangsa Palestina, lebih dari sedekade ini, opini publik telah berbalik secara dramatis.

Penolakan para bintang Hollywood terhadap paket perjalanan mahal itu merefleksikan keinginan untuk menghindari diskusi panas dan sangat bertentangan itu.

Akhirnya, jika Hollywood telah mengajarkan kita semua akan hal itu, kita jangan pernah meremehkan kekuatan atau pengaruh kebudayaan populer.

*Penulis adalah seorang pengajar sastra Amerika abad XX dan teori feminis.

Red.: Pamungkas

Sumber: Al Jazeera. Foto: Todd Wawrychuck/EPA

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita