Senin, 18 Januari 2021

Ini Kata Habib Rizieq Sebelum Memasuki Ruang Sidang

Ini Kata Habib Rizieq Sebelum Memasuki Ruang Sidang

Jakarta, Swamedium.com — Habib Rizieq menjadi saksi ahli agama dalam sidang penistaan agama dengan terdakwa Ahok di auditorium Kementerian Pertanian, Jln. RM. Harsono, Jakarta Selatan, Selasa (28/2). Sebelum memasuki ruang sidang, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu menjelaskan tentang kasus penistaan agama hingga latar belakang ia dijadikan sebagai saksi ahli.

Banner Iklan Swamedium

Berikut ini penjelasan Habib Rizieq kepada para wartawan:
Pertama, “Jadi, jangan percaya sama orang,” maka siapa pun yang mengatakan kalimat ini berarti telah mengatakan kepada masyarakat (agar) jangan percaya pada siapa pun juga, untuk jangan percaya pada surah Al-Maidah 51 yang mengajak tidak memilih nonmuslim.

Kedua, “… enggak pilih saya ….” Ini memperjelas pernyataan yang dilontarkan (oleh) terdakwa dalam konteks Pilkada. Itu enggak ada hubungannya dengan perikanan. Itu berarti Pilkada.

Ketiga, “Dibohongi pakai Al-Maidah 51.” Siapa yang dibohongi? Tentu orang Islam yang dengar pidato tersebut, yang dipanggil (oleh) terdakwa dengan ‘bapak’ dan ‘ibu’. Itu berarti surat Al-Maidah di sini dijadikan (sebagai) alat kebohongan, tetapi juga sumber kebohongan. Jadi, terdakwa mengatakan dibohongi surat Al-Maidah, berarti dibohongi (oleh) Alquran. Siapa (yang) membohongi umat Islam? Yang pakai Al-Maidah 51, siapa pun dia, karena terdakwa tidak menyebut si a dan si b. Siapa yang dimaksud? Siapa pun yang pakai Al-Maidah 51 untuk menerangkan kepada umat Islam untuk tidak memilih yahudi dan nasrani sebagai pemimpin umat Islam. Jadi, siapa saja, mulai Nabi, para sahabat, begitu juga para ulama. Yang ingin saya garis bawahi.

Keempat, “… macam-macam itu ….” konotasinya bisa disampaikan kepada orang atau kepada Alquran(nya). Macam-macam itu surat Al-Maidah 51, berarti ini pelecehan.

Kelima, “… takut-takut ….” maksudnya takut pilih terdakwa nanti masuk neraka. Berarti konteksnya adalah Pilkada. Sekaligus melecehkan muslim yang memilih nonmuslim sebagai pemimpinnya.

Keenam, “… dibodohin ….” berarti bukan saja menyampaikan warga Pulau Seribu dibohongi Al-Maidah, tetapi juga dibodohi. Ini semakin mempertegas penodaan yang dilakukan (oleh) terdakwa. Yang ingin saya sampaikan, kalau terdakwa menyampaikan tanpa menyebutkan siapa orangnya, berarti ini mencakup semua. Bukan hanya penodaan Alquran, tetapi (juga) penghinaan (kepada) Rasulullah, Nabi, dan para sahabat, dan seluruh umat Muslim.

Apa ada ayat yang menguatkan?

Cukup dikatakan penodaan kalau seseorang mengubah-ubah ajaran agama Islam atau menghina prinsip dalam agama Islam.

Saya direkomendasikan (oleh) MUI karena MUI diminta (untuk) merekomendasikan beberapa ahli agama. Ketua MUI juga bilang, menugaskan Rizieq mengawal kasus ini sampai tuntas. Artinya, ada korelasi dengan rekomendasi yang dikeluarkan (oleh) MUI supaya saya menjadi ahli di bidang agama dan saya bersedia.

Aulia? Ini bentuk plural atau jamak dari kata wali. Ada beberapa makna teman setia: orang kepercayaan, pelindung, ada lagi maknanya penolong, dan ada juga maknanya pemimpin, sehingga dalam kitab tafsir, kelima makna tadi kita jumpai. Para ahli tafsir klasik, apakah diartikan semua sepakat ayat tersebut sah dijadikan (sebagai) dalil haramnya memilih pemimpin kafir bagi umat Islam. Mereka boleh berbeda dalam tafsir aulia, tetapi tidak dalam hukumnya. Kenapa? Karena kalau jadi teman setia/kepercayaan saja tidak boleh, apalagi jadi pemimpin! (yog/Pamungkas)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita