Jumat, 30 Juli 2021

Filosofi Pengacara Ala Kapitra Ampera

Filosofi Pengacara Ala Kapitra Ampera

Foto: Pengacara Habib Rizieq, Kapitra Ampera. (ist)

Jakarta, Swamedium.com– Kuasa hukum Habib Rizieq Syihab, Kapitra Ampera menjelaskan, filosofi profesi pengacara adalah membela orang yang benar dan mengingatkan orang bahwa dirinya bersalah dari perbuatannya.

Banner Iklan Swamedium

Pernyataan itu terungkap ketika salah satu jamaah Al Quran Learning (AQL) Islamic Center mengajukan pertanyaan tentang alasannya memilih profesi yang distigmakan ‘Maju tak Gentar Membela yang Bayar’.

“Memang ada persepsi bahwa pengacara itu membela orang yang salah. Tetapi secara filosofinya, pertama, pengacara itu membela orang yang benar dan kedua, mengingatkan orang yang salah dari perbuatannya,” jawabnya Saat mengisi pengajian di AQL Islamic Center, Tebet Utara, Jakarta Selatan, Kamis (2/3) malam.

Ia pun bertanya kepada jamaah apakah Ustadz Bacthiar Nasir salah.

“Apakah Ustadz Bachtiar Nasir salah? Apakah Habib Rizieq salah?” tanyanya.
“Enggak,” jawab jamaah kompak.

Dirinya pun menambahkan, pernah ada seorang pemuda yang mendatangi rumahnya dengan membawa uang Rp 2 Miliar untuk membantu bapaknya yang terjerat kasus korupsi meski bukan pejabat pemerintah.

“Saya pun menyuruhnya untuk ke kantor dengan bilang bahwa Kapitra tidak ada disini tetapi disana (kantor).”

“Sebab saya tidak mau mengurusi pekerjaan di rumah,” tuturnya.

Pemuda itu pun besoknya mendatangi kantor tempat Ketua Harian Himpunan Advokat Pengacara Indonesia (HAPI) itu bekerja.

“Ternyata dia meminta saya menolong bapaknya yang dituduh korupsi oleh kepolisian. Dan uang yang diambilnya sebesar Rp400 juta,” tuturnya.

Kapitra pun bertanya kembali apa yang diinginkan pemuda tersebut. Dan dijawab bahwa pemuda itu ingin bapaknya bebas.

“Kalo kamu nyuruh bapakmu untuk mengaku kesalahannya, saya akan bela.Tetapi, kalo kamu meminta bapakmu bebas. Kamu bawa dua kali lipat dari yang kamu bawa pun, saya enggak bersedia,” klaimnya.

Pemuda itu pun akhirnya luluh juga, kata Kapitra. Singkat cerita sang klien pun bersedia untuk mengakui kesalahannya dari tingkat penyidikan hingga tingkat penuntutan.

“Saat pemeriksaan terdakwa bapak itu pun menceritakan bagaimana caranya dia bisa mengambil uang negara. Dari membuat dokumen palsu hingga membuat stempel dan memperoleh uang dari negara,” jelasnya.

Pada proses penuntutan, Kapitra menyebutkan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) itu menuntut hukuman empat tahun penjara.

“Usai membacakan tuntutan, majelis pun bertanya kepada saya butuh waktu berapa lama untuk membuat pembelaan? Saya pun bilang, sekarang juga.”

“Saya bilang dalam pembelaan majelis hakim bahwa saya baru ketemu dengan orang yang mau mengaku kesalahannya dan semoga dapat dijadikan landasan majelis hakim dalam mengambil keputusan,” ungkapnya.

Ia pun mengklaim, dengan melakukan hal tersebut maka pihak Jaksa yang telah menyusun tuntutan merasa dihargai karena memang yang dituju oleh proses pengadilan adalah kebenaran.

“Akhirnya bapak itu mendapat putusan hukuman satu tahun. Dan jaksa pun tidak melakukan banding karena sudah dua pertiga,” ungkapnya.

Dirinya pun menegaskan, inilah filosofi dari profesi pengacara. “Bukankah mengajak orang mengakui kesalahan adalah amal shaleh,” pungkasnya. (JM/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita