Minggu, 17 Januari 2021

Apakah yang Raja Salman Cari di Asia?

Apakah yang Raja Salman Cari di Asia?

Raja Salman (Manuel Lopez Figueroa/Reuters)

Oleh Ankit Panda*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Ketika Raja Salman berkunjung ke Asia, ini patut diingat bahwa Riyadh mempertimbangkan ke arah timur tidaklah mendadak, tetapi tersimpan sebuah rencana strategis menggabungkan antara prioritas rencana transformasi nasional (the National Transformation Plan, NTP) dengan agenda global Arab Saudi yang lebih luas.

Pada hari-hari terakhir Februari 2017, Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud, didampingi oleh 600 delegasi tangguh, memulai perjalanan selama sebulan ke Asia Pasifik, yaitu Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Jepang, Tiongkok, dan Maladewa, serta Yordania.

Raja-raja Kerajaan Arab Saudi (KAS) jarang melakukan kunjungan regional seambisius itu, tetapi apa yang dilakukan oleh Raja Salman ialah sebuah lanjutan dari ambisi yang tidak dapat dijangkau oleh KAS di Asia Pasifik sejak wafatnya Raja Abdullah pada 2015.

Media negeri KAS dan Istana telah menggambarkan perjalanan itu terutama berhubungan dengan urusan energi dan investasi, tetapi konteks geopolitik yang lebih luas mendorong tur regional sebulan yang jarang ini untuk melihat lebih dekat.

Perjalanan Raja dapat terdiri menjadi dua bagian: Tiongkok dan Jepang akan memenuhi kumpulan prioritas, sedangkan perjalanan ke Malaysia, Indonesia, dan Maladewa akan memenuhi yang lainnya.

Tiongkok dan Jepang
Pertama, ketika harga minyak mentah mulai pulih dari titik nadirnya pada akhir 2015 hingga awal 2016, Riyadh tetap berkomitmen dengan rencana jangka panjangnya untuk mengurangi ketergantungannya kepada penghasilan dari minyak. Dalam proyek itu, KAS akan membutuhkan partner dan investor dari region Asia Pasifik yang bersedia.

NTP–gagasan Mohammed bin Salman–mengandung hampir 350 target bagi lembaga-lembaga pemerintahan yang akan memerlukan investasi asing langsung berkelanjutan.

Sesungguhnya, kunjungan Raja Salman harus dilihat sebagai kulminasi gerakan yang diberlakukan oleh Wakil Putra Mahkota, Mohammad bin Salman al-Saud, pada semester kedua 2016, ketika NTP dilancarkan, segera diikuti oleh kunjungannya ke Tiongkok dan Jepang secara khusus.

Di Jepang dan Tiongkok, Wakil Putra Mahkota–yang juga Menteri Pertahanan–mendapat jaminan dari Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, bahwa Jepang dan Tiongkok akan mempromosikan investasi inbound untuk KAS.

Tokyo dan Beijing sebagai jaringan importir energi yang luas melihat hubungan yang baik dengan KAS sebagai fundamental dalam kepentingan nasional mereka. Tiongkok mendekati Amerika Serikat (AS) sebagai importir minyak mentah terbesar sedunia pada Oktober 2016.

Wakil Putra Mahkota dapat mengerjakan banyak hal. Aset berharga dalam NTP bagi KAS ialah penawaran umum perdana untuk perusahaan minyak raksasa KAS, Saudi Arabian Oil Company (Saudi Aramco atau Aramco).

Bersama Tiongkok, KAS pun melihat pengimbang geopolitik AS yang makin signifikan. Kebijakan luar negeri AS berkembang tidak menentu sejak inaugurasi Donald Trump sebagai presiden.

Secara khusus, di saat mengintensifkan persaingan regional dengan Iran, KAS menerima reputasi baru pada awal 2016 setelah KAS mengeksekusi seorang pendeta syiah terkemuka, Nimr al-Nimr, KAS melihat nilai dari pengaruh berhubungan dengan Tiongkok.

Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, dan Maladewa
Kumpulan negara kedua yang termasuk dalam rencana perjalanan Raja Salman–Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, dan Maladewa–mendorong target geopolitik bagi KAS dalam cara yang berbeda.

Pertama, keempat negara bermayoritas Muslim, bahkan Islam menjadi agama negara di Brunei Darussalam dan Maladewa. (Indonesia ialah negara sekularis secara konstitusi. Konstitusi Malaysia membiarkan negara sekularis, tetapi membenarkan peran Islam yang mencolok di masyarakat). Keempatnya pun merupakan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Melihat hubungan KAS dengan empat negara itu semata-mata dengan kacamata Islam, tentu saja, akan menggampangkan taraf kepentingan Riyadh. Akan tetapi, kapan pun Raja KAS mengunjungi suatu negara bermayoritas Muslim, fitur-fitur retorika pan-Islam ada dalam agenda secara menonjol dan keempatnya tanpa terkecuali.

Selain itu, meskipun persepsi dan spekulasi yang berkembang luas terhadap KAS sebagai pihak yang berperan membolehkan penyebaran berbagai kelompok bersenjata Muslim, seperti al-Qaeda dan ISIS, selama puluhan tahun, KAS telah bekerja lembur untuk memperkuat posisinya sebagai kelompok pusat kontraterorisme di dunia Muslim.

Pada 15 Desember 2015, di bawah pimpinan Wakil Putra Mahkota, Riyadh mendeklarasikan Aliansi Militer Islam (AMI) yang terdiri dari negara-negara bermayoritas Muslim untuk memerangi ISIS. Pada Januari 2016, Wakil Putra Mahkota bertemu menteri pertahanan Indonesia dan Malaysia serta wakil menteri pertahanan Brunei Darussalam untuk berunding tentang AMI.

Maladewa sebagai salah satu negara penyumbang anggota asing ISIS terbanyak bergabung di AMI. Malaysia mendukung AMI, tetapi tidak terlibat dalam peran militer. Indonesia dan Brunei Darussalam hanya mengungkapkan dukungan untuk inisiasi AMI.

Raja Salman akan mempertimbangkan untuk mendukung persepsi kerja sama pan-Islam dalam memerangi terorisme di region itu, selain itu juga meningkatkan agenda bilateral yang lebih umum.

Khusus bersama Malaysia dan Indonesia, Raja Salman dan para penasihatnya akan meningkatkan kerja sama ekonomi yang sejalan dengan target-target NTP. Jakarta yang menerima kunjungan Raja KAS lagi setelah 47 tahun berharap mendapatkan imvestasi sebesar $25 miliar.

Dalam kunjungan Raja Salman ke Kuala Lumpur pada hari pertama, perusahaan minyak negara Malaysia, Petronas, dan Saudi Aramco telah bersepakat bahwa Aramco akan berinvestasi sebanyak $7 miliar untuk sebuah proyek kilang minyak dan petrokimia di Malaysia.

Mempertimbangkan ke Arah Timur
Arab Saudi seperti negara-negara di Asia Pasifik, berperan untuk pusat gravitasi urusan dunia yang berganti dari Barat ke Timur pada tahun-tahun mendatang.

Rencana dramatis KAS ialah memeriksa dengan teliti model ekonominya, memasangkan (nilai ekonominya) dengan tawaran bersejarahnya untuk merawat posisinya sebagai pemimpin Muslim dunia, dan memungkinkan untuk mengikuti hubungan dengan negara-negara Asia Pasifik tanpa pilihan.

*Penulis merupakan seorang analis keamanan, politik, dan ekonomi global serta editor senior The Diplomat.

Red.: Pamungkas

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita