Kamis, 29 Juli 2021

Perjalanan Menggapai Puncak Sejati Raung

Perjalanan Menggapai Puncak Sejati Raung

Wonorejo, Swamedium.com– Malam itu angin begitu keras berhembus, suara raungannya, dinginnya, menelan habis tubuh-tubuh kami yang berjalan terseok-seok di bibir kawah selepas menapaki Puncak Sejati Raung. Kabut perlahan pergi, bulan purnama, bintang-bintang, menampakkan keindahannya. Di kejauhan nampak kerlap-kerlip lampu, suasana kota, dan pancaran cahaya lampu kapal laut yang tengah bersandar di pelabuhan.

Banner Iklan Swamedium

Hari ke 1
Akhirnya, jadi juga tim kami yang berjumlah 5 orang mendaki Gunung Raung dengan target Puncak Sejati. Semua data telah berhasil dikumpulkan. Catatan-catatan perjalanan tim terdahulu tak ada habis-habisnya kami bedah bersama. Dengan menggunakan Kereta Gumarang pukul 18.11 WIB, kami pun meninggalkan Jakarta menuju Stasiun Surabaya Pasar Turi.

Hari ke 2
Pukul 06.50 WIB, kereta yang membawa kami tiba di Stasiun Surabaya Pasar Turi. Setelah mandi di toilet umum stasiun, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Gubeng menggunakan jasa angkutan yang banyak ditawarkan di area stasiun tersebut.

Bapak-bapak berkumis dengan ramah menyapa kami, “Mau kemana, Mas? Stasiun Gubeng? Ayo, berangkat, Mas.”

Dua puluh menit kemudian, kami pun tiba di Stasiun Gubeng. Sementara, Kereta Ekonomi Sri Tanjung untuk tujuan Kalibaru baru akan berangkat pukul 15.10 WIB, berarti kami harus bersabar menunggu hingga 5 jam.

Pukul 15.10 WIB, kami meninggalkan Gubeng menuju Kalibaru dengan Kereta Sri Tanjung. Sebenarnya, untuk bisa mencapai Puncak Sejati, ada dua pilihan jalur yang bisa dilalui, jalur Kalibaru yang dirintis oleh tim Pataga Surabaya (SBY) dan jalur Glenmore yang sempat dibuka oleh beberapa tim, di antaranya oleh Mapala UI dan Satu Bumi. Tim kami memilih lintasan Kalibaru dengan entry point (titik masuk) Desa Wonorejo.

Pukul 21.40 WIB, Kereta Sri Tanjung yang membawa kami tiba di Stasiun Kalibaru, dilanjut ojek motor menuju Basecamp, yaitu rumah Ibu Suto. Setelah beramah-tamah, kami pun bergegas mengevaluasi perlengkapan dan schedule (jadwal) perjalanan untuk keesokan harinya.

Hari ke 3
Setelah packing (pengemasan) ulang dan sarapan pagi buatan Bu Suto, kami berpamitan untuk memulai mendaki Gunung Raung. Untuk sampai ke Pos I/Pondok Bpk. Sunarya (916 mdpl), bisa ditempuh dengan ojek motor dari Basecamp.

Pukul 11.45 WIB, tim mulai bergerak, melewati jalan aspal perkampungan, melewati Wana Wisata Air Terjun Tirto Kemanten. Perjalanan dilanjutkan melewati jalan tanah yang di kanan-kirinya bukit-bukit yang telah berubah menjadi perkebunan kopi dan alpukat. Setelah melewati jembatan Dam/Bendungan, jalan tanah mulai menanjak. Pukul 12.35 WIB, kami tiba di Pos I/Pondok Bpk. Sunarya (916 mdpl).

Pos ini merupakan sumber mata air terakhir. Di depan pondokan terdapat papan arah panah menunjukkan jalur menuju sungai. Setelah mengisi air 12 liter/orang dan makan siang dengan menu roti tawar + keju + sosis, kami pun memulai pergerakan menuju target camp, yaitu Camp Cemara (1.777 mdpl). Beban yang kami bawa selain air, rata-rata 25 kg/orang ditambah air 12 liter/orang, bisa dibayangkan jumlah beban yang harus dibawa per orang memang menyimpang jauh dari batas ideal 1/3 berat badan kami masing-masing.

Selepas Pos I, jalur cukup landai, diawali dengan menelusuri sisa areal perkebunan kopi dan dilanjutkan dengan memasuki hutan yang di beberapa tempat telah ditebangi, baik untuk diambil kayunya maupun akan dibuka untuk dijadikan lahan perkebunan. Di sini jalur agak membingungkan karena tidak terdapat string line (mungkin dahulunya ada, kemudian hilang karena adanya penebangan-penebangan pohon).

Hujan turun dengan deras. Beban yang berat bertambah berat, ditambah puluhan pacet yang bergelayutan pesta pora di sekujur badan, dari kaki, tangan, perut, sampai leher. Tidak ada yang terbebas dari emutan pacet dan gigitan agas hutan itu. Stamina Tim yang memang kurang beristirahat semenjak dari Jakarta turun drastis.

Pukul 16.54 WIB, Tim memutuskan untuk membuka “lapak” yang ada di jalur. Malam ini kurang bersahabat, hujan dan angin terus menderu-deru sampai pagi. Di sela-sela evaluasi dan briefing, kami menghitung-hitung penghasilan pacet hari ini, rata-rata mendapatkan 10 ekor. (lumayanlah….)

Hari ke 4
Pukul 05.57 WIB, korlap hari ini sudah mempersiapkan menu makan pagi (nasi, sayur sosis, empal sapi). Di luar tenda, hujan masih saja mengguyur bumi. (Waduh, jadi males, nih…). Setelah hujan reda, kami pun segera packing (berkemas).

Pukul 12.10 WIB, kami segera melanjutkan pergerakan, masih dengan target yang sama Camp Cemara (1.777 mdpl). Pukul 13.38 WIB, hujan pun kembali turun, cukup deras. Flysheet segera dibentangkan. Coffe break di ketinggian 1.400 mdpl dengan menu roti, keju, saus kacang merah.

Pukul 15.00 WIB, kembali melanjutkan pergerakan, masih dengan medan yang sama menembus duri rotan. Semua cover carrier hancur lebur, terkoyak-koyak keganasan duri rotan tersebut. Pukul 16.45 WIB, tim memutuskan untuk membuka “lapak” di ketinggian 1.429 mdpl. Seperti hari kemarin, hujan turun sampai pagi, walaupun sempat berhenti beberapa jam.

Hari ke 5
Seperti biasa, pukul 05.57 WIB korlap hari ini sudah mempersiapkan menu makan pagi (nasi goreng empal sapi). Target hari ini masih tetap sama, Camp Cemara (1.777 mdpl).

Pukul 10.07 WIB, Tim mulai bergerak, menembus kerapatan alang-alang, duri, dan pohon jelatang (penyengat). Pukul 12.15 WIB, coffe break di lahan terbuka pada ketinggian 1.600 mdpl dengan menu roti, sereal, cokelat. Cuaca cerah, di kejauhan nampak pemandangan kota-kota.

Pukul 16.00 WIB, kami tiba di Camp Cemara (1.777 mdpl), lanjut membuat camp (perkemahan). Malam ini cuaca sangat bersahabat, terang bulan, kerlip bintang di angkasa, nyala api unggun, ditemani oleh lagu Ebiet G. Ade dan Boomerang, menambah nikmat rasa kopi hitam yang kami seruput.

Hari ke 6
Setelah packing (berkemas) dan sarapan (pagi), kami bergegas melanjutkan pergerakan, tidak tanggung-tanggung target yang harus dikejar adalah “Summit Attack” atau Pos IV/Camp 9 Pataga SBY (3.023 mdpl). Karena dari hasil evaluasi dan briefing semalam, apabila hari ini tidak bisa mencapai Camp 8 – Camp 9 Pataga SBY, maka diputuskan tim akan kembali turun ke Dusun Wonorejo.

Pukul 08.00 WIB, start (mulai) pergerakan meninggalkan Camp Cemara (1.777 mdpl). Selepas Camp Cemara, kondisi jalur cukup berat, nyaris tanpa “bonus”, namun beban di carrier telah berkurang, membuat pergerakan agak lebih cepat. Hujan kembali turun dengan deras, tetapi tidak menyurutkan perjuangan kami untuk mencapai “Sejati”.

Pukul 11.50 WIB, makan siang di ketinggian 2.150 mdpl, segera flysheet kami bentangkan untuk menahan sekaligus menampung air hujan. Setelah makan siang, pergerakan pun dilanjutkan, motivasi untuk mencapai Puncak Sejati membuat kami seolah tak kenal lelah untuk mencapai “Summit Attack” pada hari ini.

Pukul 16.40 WIB, kami pun tiba di Camp 8 Pataga SBY (2.675 mdpl). Perasaan haru menyelimuti kami, walaupun medan yang berat ditambah hujan yang mengguyur ternyata tidak membuat kami hilang semangat untuk menggapai Puncak Sejati. Segera kami mendirikan tenda dan memasak menu makan malam, evaluasi dan briefing pun segera digelar untuk menghemat waktu istirahat kami.

Hari ke 7
Pukul 05.00 WIB, korlap hari ini telah menyiapkan menu makan khusus untuk muncak sekaligus mengecek peralatan panjat yang harus dibawa untuk perorangan dan kelompok.

Pukul 06.00 WIB, kami pun memulai pergerakan dengan membawa peralatan yang telah dipersiapkan semalam, sebagian barang bawaan ditinggal di dalam tenda di Camp 8. Harness, cowstail, figure, jummar telah terpasang rapi di badan. Medan yang dilalui cukup menanjak, jalur terbuka jelas. Pukul 08.56 WIB, kami tiba di Puncak Bendera (3.159 mdpl).

Kabut menyelimuti… angin meraung-raung… segera kami mengikatkan kernmantel dynamic ke harness yang kami pakai, “moving together” berjalan di tebing-tebing terjal yang di kanan-kirinya jurang menganga. Selepas Puncak Bendera, jalur menyusur turun punggungan sempit. Bagian yang sulit mulai terasa ketika mulai mendaki ke Puncak 17, karena harus melalui 2 tebing yang terjal. Satu per satu kami mulai memanjat, gerimis pun mulai turun, sejenak kami berdo’a semoga diberikan kekuatan dan kemudahan mencapai “Sejati”.

Menaiki kubah Puncak 17 dengan kondisi bebatuan dan pasir yang rapuh dan mudah ambrol, sementara di bawah menanti jurang yang puluhan meter dalamnya. Begitu leader telah memasang pengaman di Puncak 17, anggota tim yang lain menyusul menggunakan jummar sebagai alat bantu yang sekaligus mengamankan tubuh mereka hingga tiba di atas. Saat menuruni Puncak 17, dekat dengan ujung Curah Malang (ini sebutan penduduk setempat untuk jurang yang dalam), bergantian kami rappelling, dan berpindah ke punggungan berikutnya untuk mencapai track (jalur) terakhir menuju Puncak Sejati. Di depan nampak berdiri kokoh barisan batu besar yang disebut sebagai Puncak Tusuk Gigi, jika dilihat sekilas dari bawah tidak nampak adanya jalur untuk mencapai Puncak Tusuk Gigi tersebut.

Pukul 16.00 WIB, kami tiba di Puncak Sejati Raung (3.344 mdpl). Segera kami sujud syukur, saling berjabat tangan merayakan kesuksesan ini. Sore ini cuaca cerah bersahabat, dari sini pemandangan nampak begitu indah… Gunung Argopuro… Mahameru… Agung… Selat Bali begitu jelas terlihat. Namun sayang, handy cam. yang kami bawa tidak bisa berfungsi, jadi kami mengabadikan momen ini hanya dengan kamera digital. Setelah mengambil beberapa gambar, kami pun bergerak turun, berkejaran dengan datangnya gelap. Do’a kembali dipanjatkan, semoga diberikan kemudahan dan kekuatan.

Pukul 18.10 WIB, kami tiba di area kubah Puncak 17. Gelap-pun datang… segera kami kenakan headlamp. Angin terus menderu-deru, membuat tubuh kami bergoyang-goyang, rain coat (jas hujan) yang kami pakai tidak cukup ampuh untuk melawan dingin, tubuh kami menggigil bergetaran.

Malam itu angin begitu keras berhembus, suara raungannya.. . dinginnya.. . menelan habis tubuh-tubuh kami yang berjalan terseok-seok di bibir kawah selepas menapaki Puncak Sejati Raung. Kabut perlahan pergi, bulan purnama… bintang-bintang… menampakkan keindahannya. Di kejauhan nampak kerlap-kerlip lampu… suasana kota dan pancaran cahaya lampu kapal laut yang tengah bersandar di pelabuhan.

Menuruni Puncak 17 jalurnya paling sulit, apalagi di tebing yang dari puncak, kami lalui dengan rappeling, sehingga memakan waktu yang cukup lama, sementara itu dingin terasa sangat menusuk tulang dan angin yang meraung-raung menebarkan banyak pasir, sehingga mengganggu pandangan.

Akhirnya, kami berhasil juga menuruni Puncak 17 dengan selamat, tetapi “membeku” dan bergelap-gelap ria, di depan masih ada satu tebing lagi yang harus dilalui, yang ini pun dapat kami lalui dengan baik, tinggal scrambling menuju Puncak Bendera.

Akhirnya, baru sekitar pukul 21.00, kami berhasil mencapai Puncak Bendera tanpa kekurangan sesuatu apa pun. Bendera jalur yang kami tancapkan di sepanjang jalur pendakian ternyata amat berguna sebagai penanda… lebih-lebih pada saat gelap dan berkabut seperti saat ini.

Pukul 21.45 WIB kami tiba di Pos IV Pataga SBY (3.023 mdpl), dan perjalanan pun kami lanjutkan kembali hingga Camp 8 Pataga SBY (2.675 mdpl).

Hari ke 8
Karena lelah kejar target ke Puncak Sejati, tidur kami semalam nyenyak sekali. Pukul 13.15 WIB cuaca begitu hangat, setelah packing (berkemas) dan makan pagi+siang, kami bergegas melanjutkan pergerakan turun dengan target Basecamp Ibu Suto.

Sempat mablang salah jalur, tetapi akhirnya berhasil menemukan jalur utama. Pukul 21.30 WIB kami tiba di Camp 2 Pataga SBY (1.431 mdpl) dan memutuskan untuk membuka camp (kemah atau tenda).

Hari ke 9
Pukul 08.15 WIB, setelah sarapan pagi dan packing (berkemas) kami melanjutkan pergerakan turun.

Pukul 10.00 WIB, tiba di Pos I/Pondok Bpk. Sunarya (916 mdpl). Turun ke sungai untuk bersih-bersih sambil menunggu Hasan and friendsOjekker”.

Pukul 15.00 WIB, tiba di Basecamp Ibu Suto yang sedang sibuk mencari contact persons anak-anak Pataga SBY untuk jaga-jaga mengevakuasi tim kami, apabila belum sampai juga pada hari ini.

Sebuah Catatan Perjalanan
Menggapai Puncak Sejati Raung via Kalibaru
Ditulis untuk swamedium.com
-Mang Ucuy dan Tim-

Banner Iklan Swamedium

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita