Senin, 12 April 2021

Al Maidah 51, Sudah Jelas dan Terang, Tidak Ada Keraguan

Al Maidah 51, Sudah Jelas dan Terang, Tidak Ada Keraguan

Jakarta, Swamedium.com — “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [Al-Maidah: 51]

Banner Iklan Swamedium

Terjemahan ayat yang mulia ini saya petik dari Terjemahan Al-Qur’an Departeman Agama Republik Indonesia, dan selaras dengan penjelasan para ulama ahli Tafsir Al-Qur’an dan Bahasa Arab berikut ini :

Al-Imam Abu Bakr Al-Jashshosh Al-Hanafi rahimahullah (w. 370 H) berkata kitab Tafsir beliau,

“Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa orang kafir tidak boleh menjadi wali bagi seorang muslim.” [Ahkaamul Qur’an, 4/99]

Makna wali memang memiliki cakupan makna yang luas, dan pemimpin atau penguasa termasuk dalam cakupan maknanya. Disebutkan dalam kamus-kamus Bahasa Arab,

“Perwalian dengan dikasrah huruf awalnya bermakna sultan (penguasa).” [Mukhtaarus Shihah, hal. 345, Lisaanul Arab, 15/407, Tajul ‘Arus, 40/242]

Perwalian juga bermakna bersifat loyal atau lawan dari permusuhan, makna ini juga disebutkan dalam kamus-kamus Bahasa Arab,

“Wali adalah lawan kata musuh.” [Mukhtaarus Shihah, hal. 345, Tajul ‘Arus, 40/242]

Ahli Tafsir Mazhab Syafi’i Al-Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullah (w. 774 H) berkata dalam kitab Tafsir beliau,

“Dalam ayat ini Allah ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bersikap loyal kepada Yahudi dan Nasrani.” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/132]

Dan tidak diragukan lagi bahwa memilih pemimpin termasuk sebesar-besarnya sikap loyal. Oleh karena itu “Ulama seluruhnya sepakat atas haramnya memilih pemimpin kafir”.

Imam Besar Mazhab Syafi’i Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah telah menukil ijma’ dari Al-Qodhi ‘Iyadh,

“Berkata Al-Qodhi ‘Iyadh, Ulama telah sepakat (ijma’) bahwa kepemimpinan tidak sah bagi seorang kafir, dan jika seorang pemimpin muslim menjadi kafir maka harus diselengserkan.” [Syarah Muslim, 12/229]

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah :

“Syarat pemimpin haruslah seorang muslim, karena Allah ta’ala berfirman, ‘Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.’ (An-Nisa: 141). Dan kepemimpinan adalah sebesar-besarnya jalan (untuk menguasai kaum muslimin).” [Al-Fishol, 4/128]

Maka jelaslah keharaman memilih pemimpin kafir berdasarkan Al-Qur’an dan kesepakatan ulama Islam, sehingga apabila para ulama mengingatkan kaum muslimin untuk tidak memilih pemimpin kafir, dari sisi mana dianggap memanipulasi ayat? (JM)

Wallahu’alam bishawab

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita