Senin, 26 Juli 2021

Kisah Mustafa ‘El Loco’ Habibie

Kisah Mustafa ‘El Loco’ Habibie

Foto: Cristian Gonzales, penyerang timnas PSSI yang sudah gaek masih produktif mencetak gol. (foto;ist)

Malang, Swamedium.com– Tim Singo Edan, Arema FC benar-benar menjadi Singo yang Edan saat menjamu tim Kabau Sirah, Semen Padang FC pada leg kedua babak semifinal piala Presiden 2017 di stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu (5/3) malam WIB.

Banner Iklan Swamedium

Lima gol berhasil diborong penyerang gaek Arema, Cristian Gonzales. Masing-masing tiga gol di babak pertama dan dua gol di babak kedua. Lima gol tersebut sekaligus menghentikan perlawanan Semen Padang FC.

Pria yang bernama lengkap Cristian Gerard Alvaro Gonzales lahir di Montevideo, Uruguay pada 30 Agustus 1975. Gonzales berasal dari keluarga Katolik yang taat, namun ia merasa telah mendapatkan hidayah. Hati kecilnya seperti berbisik,”Saya harus memeluk agama Islam”.

“Di dekat mess-nya waktu di PSM ada masjid. Tiap pagi dia mendengar suara azan. Dia pikir itu suara orang bernyanyi lalu mulai tanya-tanya,” ujar Eva.

Setiap pagi, meski tidak melaksanakan sholat subuh, pemain timnas PSSI itu selalu bangun pagi dan mengamati dirinya saat menunaikan sholat subuh. Gonzales juga takjub saat melihat dirinya mengambil air wudhu dan mengenakan mukena berwarna putih.

“Menurutnya Islam itu suci. Sebelum menghadap Allah harus mengambil air wudhu dan pakai mukena. Kalau ke gereja dia pakai baju biasa saja. Inilah yang makin membuat Gonzales makin tertarik Islam,”lanjut Eva.

Perkembangan karir El Loco sebetulnya tidak lepas dari peran Eva. Setiap kali pemain sepak bola ini mau berangkat bertanding, wanita yang biasa dipanggil Amor oleh Gonzales ini selalu memanjatkan do’a kepada Allah SWT. Dalam berdoa terkadang Eva sengaja mengeraskan suara dengan harapan Gonzales dapat mendengarnya.

Kebiasaan inilah yang membuat Gonzales makin tertarik dengan ajaran Islam. Ia sendiri tidak akan beranjak pergi sebelum kekasihnya selesai berdoa. Karena dari doa inilah Gonzales menemukan kedamaian dan ketenangan yang selama ini tidak didapatkan dari agama yang dianut sebelumnya. Doa ini pula yang membuat dirinya semakin bersemangat dan optimis setiap kali bertanding di lapangan hijau.

Tidak hanya itu, Gonzales terkadang memperhatikan kebiasaan Eva yang selalu mengucapkan Bismillah ketika mau melakukan sesuatu atau mengucapkan Istighfar ketika dihadapkan pada konflik, serta ucapan lainnya yang menjadi doa umat Islam. Indonesia merupakan negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam, selama ini Gonzales hanya mengenal Islam melalui istrinya dan ini dirasa tidak cukup. Sekarang pemain yang doyan sup ayam ini bisa langsung menemukan Islam dari para penganutnya.

“Saya tidak pernah memaksa Gonzales masuk Islam”. Ungkap Eva “Kadang-kadang setelah saya baca buku tentang ajaran Islam, saya simpan buku itu di meja dan Gonzales diam-diam membacanya, maka dia kemudian tahu bagaimana sikap suami terhadap istrinya dalam Islam dan bagaimana sikap istri terhadap suaminya” Lanjutnya mengenang saat pertama kali tinggal di Indonesia bersama Gonzales.

Pada tanggal 9 Oktober 2003 Christian Gonzales memutuskan untuk masuk Islam atas dasar kemauan sendiri dengan disaksikan oleh ustadz Mustafa di Mesjid Agung al Akbar Surabaya. Christian Gerard Alfaro Gonzales kemudian diberi nama Mustafa Habibi. Nama Mustafa diambil dari guru spiritualnya, ustadz Mustafa sedangkan Habibi (cintaku) diambil karena rasa cinta sang istri amat besar kepada Christian Gonzales.Islam memiliki kesan tersendiri bagi Gonzales “Karena di dalam Islam setiap ada sesuatu ada ucapan doanya seperti ketika masuk rumah mengucapkan assalamualaikum, ketika mau melakukan sesuatu diawali dengan basmalah, dan setiap melangkah dalam Islam selalu aja ada bacaan. Dan ini menjadi hati saya merasa tenang” Ungkap Eva mengutip ucapan Gonzales.

Saat aksi bela ulama 112 yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta, penyerang Arema FC ini kedapatan menjadi salah satu peserta aksi bela ulama tersebut. Pria yang selalu melakukan sujud syukur usai mencetak gol ini mengungkapkan pendapatnya.

“Sebagai umat Muslim, kita berkewajiban membela ulama yang merupakan guru-guru kita,” ungkap Gonzales.

Mustafa Habibie, demikian nama Islam dari Cristian Gonzales selalu melaksanakan ibadah shola tahajud bersama istri dan anaknya. Menurut Eva, suaminya itu selalu mengatur alarm jam nya pada jam 1 pagi untuk shalat tahajud bersama dan berdoa. Menurutnya terdapat suatu kekuatan yang menyemangati hidupnya, terlebih setelah ia menjadi Muallaf, kekuatan itu tidak lain adalah kekuatan doa.

Perkenalannya dengan dunia sepak bola, dimulai ketika Gonzales berusia 6 tahun. Semula ayahnya berharap Gonzales dapat meneruskan jejaknya menjadi seorang militer, namun karena kegilaannya terhadap dunia sepak bola, harapan itu tak terpenuhi.

Menginjak usia ke 18 tahun, pria yang menyukai warna hitam ini bertemu dengan seorang wanita beragama Islam asal Indonesia, Eva Nurida Siregar di Cile, Amerika latin pada tahun 1994. Saat itu Eva menekuni salsa di sekolah Vinadelmar. Lama berkenalan akhirnya Gonzales menyimpan hati pada Eva. Dan tak lama kemudian Cintanya berbalas.

Pada tahun 2002 pria yang menyukai aktor Tom Cruise ini menerima sebuah tawaran dari agen sepak bola untuk bermain di Indonesia. Ia pun tertarik dan akhirnya menerima tawaran tersebut dengan merumput di Indonesia bersama PSM Makassar pada tahun 2003.

Caranya bersyukur usai mencetak gol dengan sujud syukur memiliki kesan tersendiri bagi Gonzales “Karena di dalam Islam setiap ada sesuatu ada ucapan doanya seperti ketika masuk rumah mengucapkan assalamualaikum, ketika mau melakukan sesuatu diawali dengan basmalah, dan setiap melangkah dalam Islam selalu aja ada bacaan. Dan ini menjadi hati saya merasa tenang” Ungkap Eva mengutip ucapan Gonzales.

Keislaman pria penggemar Manchester United ini kemudian dilegalkan di Kediri dengan Piagam muallaf dari Urusan agama setempat sekaligus melegalkan pernikahan antara Christian Gonzales dengan Eva Siregar.Sang ibu, Meriam Gonzales saat dikabarkan keislaman anaknya, menerima dengan ikhlas agama yang dipilih anak tercintanya, ia hanya berharap anaknya meraih kesuksesan di masa depan.

Untuk menjalin hubungan keluarga, Gonzales dan Eva setiap hari tidak ketinggalan menghubungi ibunya, hanya sekedar menanyakan kabar dari negara nun jauh di sana. Seakan menemukan air di gurun sahara, begitulah kondisi pemain yang mencetak 33 gol untuk PSM Makassar saat itu.

Selain Ustadz Mustafa yang menjadi guru spiritualnya, Gonzales juga memiliki guru lain yakni Hj. Fatimah, ulama terkenal asal Mojosari dan Hj. Nurhasanah turut menjadi guru spiritual Gonzales. Bahkan Majlis Ulama Gresik sendiri sampai mengangkat Gonzales beserta keluarganya sebagai anak angkat mereka.

Saat bermukim di Kediri, ayah empat anak ini bermain membela Persik Kediri dan tinggal di perumahan Taman Persada. Rumah ini menjadi awal kehidupan baru bagi Mustafa Habibi. Islam telah banyak merubah dirinya. Setiap kali pertandingan akan digelar keesokan harinya, Eva sang istri selalu mengadakan pengajian yang dihadiri oleh ibu-ibu sekitar rumahnya dan diakhiri dengan pembacaan doa. Sementara pengajian berlangsung, Gonzales selalu memperhatikan pengajian dan duduk di samping Eva atau terkadang ia duduk di belakang ibu-ibu pengajian.

Namun Gonzales bukanlah manusia yang sempurna, sama seperti pemain lainnya dalam pertandingan sepak bola, konflik kadang tidak bisa dihindari. Tercatat pada tahun 2004, Gonzales pernah memiliki masalah dengan Abu Shaleh Pengurus Pengda PSSI Banten saat PSM Makassar menjamu Persikota Tanggerang. Tahun 2006, Gonzales bermasalah dengan Emanuel de Porras striker PSIS.

Setahun kemudian Gonzales berurusan dengan wasit Rahmat Hidayat saat melawan Pelita Jaya Jawa Barat dan pada tahun 2008 Gonzales berurusan dengan Erwinsyah Hasibuan bek dari PSMS. Tentunya permasalahan ini berujung pada sanski yang dikeluarkan tim disiplin PSSI, mulai dari denda sampai larangan bermain. Sanksi ini bagi Gonzales merupakan ujian berat, dan pada saat yang sama guru-guru spiritual Gonzales selalu membimbing dan menyemangati Gonzales untuk tetap bangkit dan bersabar menerima cobaan. Terbukti, nasehat ini berhasil membawa Gonzales terus bangkit dan kembali berlaga untuk menciptakan gol di lapangan hijau.

Popularitas dan harta yang melimpah ruah tidak begitu mempengaruhi Gonzales, ia bukanlah tipe orang yang suka menghambur hamburkan uang. Bahkan ia akan sangat marah jika ada orang yang mengajaknya ke klub atau tempat hiburan malam dan tak segan Gonzales akan memutuskan hubungan dengan orang tersebut.Harta yang ia raih dari perjuangannya di persepakbolaan lebih suka ia berikan kepada anak yatim, fakir miskin dan ibu-ibu pengajian sebagai zakat dan shadaqah.

Hal ini dilakukan karena Gonzales mengetahui kewajiban zakat yang ia baca dari buku-buku keislaman milik istrinya.Sempat Gonzales beserta istrinya berkeinginan untuk menunaikan haji tahun 2008, namun Allah berkehendak lain uang yang di dapatkan dari peralihan top skor sebanyak 50 juta digunakan guna membiayai operasi istrinya untuk melahirkan anak keempat, Vanesa Siregar Gonzales.

Perihal kebiasaannya dalam pertandingan sepak bola, pemain yang rajin bersih-bersih rumah ini setiap kali berangkat bertanding selalu membawa tasbih di dalam tasnya dan beberapa buku doa sebagai perbekalan. Selain melakukan sujud syukur ketika menciptakan gol, bagi Gonzales bentuk rasa syukur ketika berhasil mencetak gol adalah dengan mengangkat telunjuknya ke mulut seraya menengadah ke langit, hal ini merupakan isyarat rasa syukur terhadap Allah yang Maha Esa.

Bahkan pada saat membela tim Persib Bandung, pria berkalung ayat kursi ini menggunakan nomor punggung 99. Nomor ini dipilih bukan tanpa alasan, 99 merupakan isyarat asma Allah yang dikenal dengan asmaul husna.

Terkait harapannya ke depan, Gonzales sangat perhatian dengan keluarga “Saya berharap anak-anak menjadi anak yang shaleh dan sehat wal afiyat, semoga Allah melindungi, supaya ketika masalah datang ya cepat hilang,” demikian keinginan Gonzales.

Banyak kritikus timnas baik dari suporter maupun pengamat berpendapat, masuknya Gonzales membuat regenerasi timnas tak berjalan. Maklum saja, meski masih ada banyak pemain senior di skuat 2014, Gonzales harus bercengkerama dengan “ABG-ABG” di timnas. Salah satunya bintang muda Indonesia, Evan Dimas Darmono, yang jadi teman sekamarnya selama pemusatan latihan.

Gonzales cuek saja dengan cibiran orang. Saat itu, ia memilih menikmati petualangan dan kebersamaan dengan pemain di tim nasional. Termasuk Evan Dimas yang menurut dia adalah pemain langka di Indonesia. “Ada yang bilang kami seperti bapak dengan anak, atau paman dengan keponakan. Saya kagum dengan Evan, dia penurut dan tipikal gelandang yang sulit ditemukan,” kata Gonzales.

Empat gelar top scorer liga (LI 2005, LI 2006, LI 2007, ISL 2008-2009) sudah cukup membuktikan bahwa El Loco adalah salah satu striker top yang bermain di liga Indonesia. Berkarier selama dua dekade alias sudah separuh usianya saat ini, belum membuatnya puas. Ia masih ingin berkarya di lapangan hijau, sampai pada suatu saat nanti fisiknya tak lagi memungkinkan untuk bermain selama 90 menit.

Gonzales alias Mustafa Habibie, alias EL Loco, Si Gila, Si Tua-tua Keladi, atau Papito, berencana mengabadikan hasil kerjanya di Indonesia lewat sebuah buku dan museum kecil-kecilan bernama The Museum of Gonzales (ls/dr)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita