Sabtu, 08 Agustus 2020

Benang Merah Black Hawk Down dan 13 Hours: the Secret Soldiers of Benghazi

Benang Merah Black Hawk Down dan 13 Hours: the Secret Soldiers of Benghazi

Jakarta, Swamedium.com — Film Black Hawk Down (2001) dan 13 Hours: the Secret Soldiers of Benghazi (2016) memiliki kesamaan dalam beberapa hal. Selain sama-sama film perang buatan Amerika Serikat (AS), berikut ini data amatan perbandingan keduanya.

Terinspirasi oleh Peristiwa yang Sesungguhnya
Black Hawk Down (BHD) menggambarkan perang di Ibu Kota Somalia, Mogadishu, pada 1993. BHD mengisahkan jatuhnya dua helikopter UH-60 Black Hawk (buatan) Sikorsky milik resimen penerbangan operasi spesial 160 (160th SOAR) AS, yaitu Super Six-One dan Super Six-Four.

Sebagian pihak dan tokoh-tokoh yang difilmkan sesuai dengan pelaku sejarah, seperti batalion pertama 160th SOAR, detasemen Delta, dan batalion ketiga resimen Ranger 75 AS, serta seorang pemimpin suatu faksi di Somalia, Mohamed Farrah Hassan Aidid.

Meskipun begitu, ada pula ketidakakuratan dan timbul kontroversi. Misalnya, peran negara lain yang tergabung dalam pasukan operasi Somalia II PBB (UNOSom II), selain AS, yakni Malaysia dan Pakistan tidak difilmkan sedikit pun. Padahal, masing-masing satu tentara dari kedua negara itu gugur dalam Pertempuran Mogadishu pada 1993.

Brigjen. (Purn.) Abdul Latif Ahmad, yang saat itu menjadi komandan pasukan Malaysia di Mogadishu, menyatakan kepada kantor berita AFP, BHD akan mengesankan para penonton Malaysia bahwa pertempuran di medan perang yang sesungguhnya hanya diikuti oleh tentara AS saja, sedangkan tentara Malaysia dikirim ke sana hanya sebagai sopir bus semata yang mengangkut tentara AS.

13 Hours: the Secret Soldiers of Benghazi (13H) mendeskripsikan serangan di Benghazi, Libya, pada 2012. 13H berfokus pada kisah enam anggota keamanan AS yang berusaha menyelamatkan duta besar J. Christopher Stevens–dan yang lainnya–yang tewas pada akhirnya.

Kritik terhadap 13H bermunculan, antara lain dari masyarakat Libya yang sebenarnya justru berkontribusi besar dalam menyelamatkan sang duta besar (dubes) AS. Menteri Kebudayaan dan Informasi Libya, Omar Gawaari, mengungkapkan 13H berlebihan dalam menunjukkan kepahlawanan tim keamanan AS, padahal mereka gagal total menyelamatkan dubes Stevens dan yang lainnya.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.