Selasa, 13 April 2021

Menembus Belantara Leuser (Bagian 1)

Menembus Belantara Leuser (Bagian 1)

Kutacane, Swamedium.com — Semua barang bawaan telah dinaikkan ke atas mobil L300 ‘Karsima’. Tepat pukul 21.30 WIB, kami pun meninggalkan Kota Medan, tujuannya adalah Dusun Kedah, Desa Penosan Sepakat, Aceh Tenggara. Desa terakhir di salah satu kaki Pegunungan Leuser.

Banner Iklan Swamedium

Hari ke 1
Pukul 11.05 WIB, kami tiba di kediaman Mr. Jali si “Macan Leuser”, di Dusun Kedah. Hampir 13 jam sudah kami tempuh perjalanan dari Medan. Beberapa rekan mengurus perizinan dan administrasi, sisanya melakukan packing (pengemasan) ulang barang yang tersisa ke dalam carrier. Perizinan selesai, negosiasi dengan guide (pemandu) pendakian beres… dan petualangan pun dimulai.

Pukul 18.00 WIB, tim memulai pergerakan. Bang Udin yang menjadi guide (pemandu) tim memimpin perjalanan, target hari ini bermalam di Green Sinebuk. Jalan yang kami lalui ialah jalan setapak melewati ladang penduduk, tak berapa lama kami menyeberangi sungai berarus deras dengan lebar sekitar 5 meter, berjalan di atas jembatan bambu yang melintang di atas sungai dengan beban di pundak.

Selepas sungai, tiba-tiba seekor babi hutan melintas di depan kami, berlari masuk ke dalam semak belukar, sambutan yang cukup meriah.

Kami tiba di Green Sinebuk (1.300 mdpl) pukul 19.00 WIB, areal bungalo yang dikelola oleh Mr. Jali. Nyala api unggun dan suara gitar menyeruak, rupanya sedang ada tamu dari luar negeri yang berkunjung di kawasan ini. Aroma bebek yang mereka panggang pun menghampiri hidung kami, cukup membuat perut kami berontak minta diisi.

Hari ke 2
Pukul 07.30 WIB, suhu 15º C, tim sudah bersiap-siap. Target hari ini Camp Bivak I. Setelah berdo’a, pukul 08.00 WIB, tim mulai bergerak. Track (jalur) awal melewati tepian sungai yang licin, dengan sebatang pohon tumbang di jalur yang menanjak. ‘Tanjakan Tenyom’ begitu kami menyebutnya. Sangat curam. Nafas pun memburu. Itu belum seberapa, karena kami juga harus menunduk, bahkan merayap di bawah portal-portal alam yang seolah sengaja diletakkan agar setiap pendaki menunduk memberi hormat pada gunung ini.

Pukul 09.40 WIB, kami tiba di area Tobacco Hut, area terbuka yang indah, dahulu lahan ini merupakan kawasan perkebunan tembakau milik petani Kedah. Jauh nun di utara terlihat Puncak Ngo Lembuh, salah satu puncak yang paling jarang dijamah oleh para pendaki. Suhu pagi hari ini adalah 23º C.

Sudah pukul 10.00 WIB, saatnya coffe break, kami pun beristirahat di sebuah pondok petani. Menurut Bang Udin, pondok itu adalah pondok milik Bang Isa, salah seorang guide (pemandu) didikan Mr. Jali. Altimeter menunjuk angka 1.600 mdpl.

Pukul 11.45 WIB kami tiba di pintu rimba, gerbang menuju perut Leuser. Memasuki hutan suasana berubah drastis, aroma lembab dan dingin menyelinap. Sinar matahari yang menyengat tidak mampu menembus lebatnya belantara. Tidak berapa lama kami pun langsung dihadapkan dengan tanjakan-tanjakan ekstrem yang seakan tak ada putusnya.

Menurut para guide (pemandu), rute Pintu Rimba hingga Puncak Angkasan adalah jalur terberat dan mereka menyebutnya ‘Jalur Percobaan’. Para pendaki Leuser yang kehilangan nyali biasanya memutuskan kembali turun di jalur percobaan ini, dan pertempuran hati pun dimulai.

Setelah makan siang, pukul 13.40 WIB, kami melanjutkan pergerakan. Beban carrier yang masih penuh, tanjakan yang tak putus-putus, dan portal-portal pohon tumbang membuat laju pergerakan kami terasa lambat, sangat menguras tenaga.

Pukul 17.00 WIB, kami sampai di Camp Simpang Angkasan (1.700 mdpl). Karena kondisi fisik yang telah menurun, akhirnya tim memutuskan untuk beristirahat di tempat ini.

Hari ke 3
Pagi ini suhu mencapai 15º C. Setelah berdo’a, kami memulai pergerakan pada pukul 08.30 WIB dengan target “Puncak Angkasan”. Portal-portal pohon tumbang kembali hadir, memaksa untuk menunduk dan mengeluarkan makian kecil. Pukul 10.30 WIB, kami tiba di Bivak I (2.590 mdpl).

Setelah makan siang dengan air yang pas-pasan karena sumber air yang ada kering, pukul 12.00 WIB, kami kembali bergerak. Medan yang dilalui masih hutan lumut tanpa ‘bonus’.

Medan sedikit ramah 3 jam kemudian. Jalur agak terbuka, di kiri-kanan banyak terlihat pohon-pohon kering hangus terbakar. Hari ini panas terasa menyengat.

Pukul 15.40 WIB, orang pertama dalam tim tiba di Puncak Angkasan (2.891 mdpl), tim sweaping tiba pada pukul 18.00 WIB. Di lokasi yang cukup terbuka ini, terdapat patok batu kotak puncak tersier dengan tulisan yang samar-samar hilang hampir tak terbaca. Tertera nomor registrasi 3356. Koordinat yang terbaca di GPS adalah N 03º 56’ 10,8” — E 097º 12’ 49,1”.

Bentangan punggungan saling bertumpuk satu sama lain. Jelas terlihat, walau kecil jauh di sana Puncak Syamsudin Mahmud (dahulu puncak tanpa nama) serta Puncak Loser diselimuti oleh awan putih. Lokasi yang cukup datar dan terbuka, dekat dengan sumber air yang hanya berupa kubangan kecil. Suhu berkisar 9ºC membuat badan menggigil jika berada di luar tenda.

Hari ke 4
Kami bangun kesiangan jam 06.30 WIB, suhu udara pagi ini 8º C. Mungkin karena kelelahan seharian kemarin menapaki ‘Jalur Percobaan’. Tim akhirnya baru start (mulai) pergerakan pada pukul 09.40 WIB.

Bergegas kami menuruni punggungan yang mengarah langsung ke lembah. Seperti biasa, merunduk dan merangkak menjadi santapan perjalanan hari ini, ditambah dengan banyaknya duri-duri rotan di tengah jalur. Pukul 12.05 WIB, kami tiba di Camp Kulit Manis I (2.650 mdpl).

Setelah makan siang dan menanam paket makanan (paket 13), kami kembali naik-turun bukit lagi. Pukul 15.10 WIB, kami tiba di puncak bukit yang ternyata Camp Kulit Manis II. Istirahat sejenak sambil mengisi veldfles dari kubangan kecil.

Rute selanjutnya naik-turun bukit yang cukup terbuka, di kiri-kanan jalur banyak terdapat batang-batang pohon yang hangus terbakar. Pukul 16.30 WIB, kami tiba di Camp Kulit Manis III. Selanjutnya, jalur menurun sangat curam, butuh konsentrasi ekstra, tak jarang harus bertahan pada cabang atau akar-akar pohon karena jalur jeblos sebatas lutut. Hari sudah mulai gelap, beberapa anggota tim nampak lelah, tetapi kami harus tetap jalan.

Pukul 18.40 WIB, tim tiba di Camp Lintasan Badak (2.319 mdpl). Menurut Bang Udin, dahulu memang di sini arena bermain Badak Sumatra (Dicerorhinus Sumatrensis), Mr.Jali sempat menyaksikan badak-badak itu, namun semenjak tahun 2000-an sudah tak nampak lagi. Semoga mereka hanya berpindah tempat saja, bukan punah.

Hari ke 5
Pukul 09.15 WIB, setelah menanam paket 12, kami mulai bergerak. Di depan langsung menghadang lagi ‘tanjakan tenyom’ dengan vegetasi rotan berduri di sepanjang jalur, tak jarang melukai telapak tangan kami yang tak sengaja memegangnya untuk dijadikan penahan agar tak melorot jatuh ke dasar lembah. Satu portal pohon tumbang telah bisa kami lewati dengan susah payah, di depan telah menanti kami ‘triple portal’ lagi yang lebih sempit. Keringat mengucur deras. Jalan jongkok, merangkak, tiarap tetap harus kami jalani.

Pukul 12.15 WIB, tim tiba di daerah yang cukup datar, Puncak Pepanji (2.440 mdpl). Tampak lubang-lubang buatan yang berfungsi untuk menampung air.

Sejenak kami beristirahat untuk makan siang, kemudian kembali menapaki kerapatan hutan lumut. Di tanah yang lembab nampak jejak harimau, masyarakat Gayo menyebutnya ‘nenek’.

Selain jejak, kami acap kali berjumpa dengan kotorannya yang penuh bulu kambing. Menurut Bang Udin, ‘si nenek’ habis pesta kambing. Untunglah, masih pesta kambing daripada pesta manusia. Bergegas kami mempercepat langkah meninggalkan area tersebut. Terus menapaki punggungan tipis yang di kiri–kanannya jurang terjal, tampak jauh di depan sebuah air terjun yang cukup tinggi. Menurut Bang Udin, air terjun ini merupakan pertemuan empat anak sungai Alas yang nanti akan kami lewati. Selepas hutan terlihat padang rumput yang luas, di sana-sini berserakan kantong semar (Nephentes sp) berwarna merah dan kuning. Mendung dan awan hitam mengiringi langkah kami menuju camp hari ini.

Pukul 18.15 WIB, kami sampai di Camp Padang Rumput (2.410 mdpl). Bukit-bukit yang telah kami lalui jelas terlihat. Puncak Tanpa Nama, Puncak Loser, Gunung Padang Sri Bulan, dan Gunung Bivak III berdiri angkuh di kejauhan.

Hari ke 6
Pagi ini cukup cerah, suhu 10º C. Pukul 09.00 WIB, kami mulai bergerak, target hari ini ‘Kolam Badak’. Tak berapa lama menuruni lembah, kami pun bertemu dengan aliran anak Sungai Alas pertama, lebarnya kurang lebih 50 cm. Kemudian, melewati satu bukit dan bertemu anak sungai kedua dengan lebar sekitar 3 meter. Anak sungai ketiga kami jumpai, lebarnya hanya 50 cm. Pukul 11.00 WIB, kami tiba di aliran keempat anak Sungai Alas, lebarnya sekitar 6 meter. Kami harus menyeberangi sungai dengan ketinggian air sebatas lutut orang dewasa. Batu yang kami pijak ternyata licin dan dingin sekali.

Selepas memanjat dinding sungai setinggi kurang lebih 2 meter, tim sampai di lahan terbuka, terlihat bekas-bekas perapian dan tiang-tiang kayu untuk bivak, mungkin bekas pendaki sebelumnya. “Camp Alas,” teriak Bang Udin menjawab pertanyaan di benak kami. Di ketinggian 2.458 mdpl ini kami beristirahat sejenak untuk makan siang dan mengganti kaos pergerakan kami yang sedari awal belum diganti.

Pukul 13.00 WIB, dengan panas yang menyengat 23º C, kami melanjutkan pergerakan. Medan berikutnya tidak jauh berbeda kondisinya seperti dari Camp Padang Rumput tadi. Banyak ‘bonus’.

Pukul 17.25 WIB, kami tiba di area dengan sebuah telaga atau lebih tepatnya kami sebut kubangan di dekatnya. Kami telah tiba di Camp Kolam Badak (2.550 mdpl). ——- Bersambung ——-

Sebuah Catatan Harian
Menembus Belantara Leuser (Bagian 1)
Ditulis untuk swamedium.com
-Mang Ucuy dan Tim UKM Dharmapala APP-

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita