Senin, 25 Oktober 2021

DAS Mampang, Indikator Prestasi Pengelolaan Air Jakarta

DAS Mampang, Indikator Prestasi Pengelolaan Air Jakarta

Perbandingan DAS Mampang saat banjir lokal 2007 dan dalam keadaan normal. (RRP/Swamedium)

Jakarta, Swamedium.com — Daerah aliran sungai (DAS) Mampang, Jakarta Selatan, merupakan titik pembuktian berhasil atau gagalnya suatu pemerintahan Provinsi DKI Jakarta dalam mengelola perairan di Ibu Kota Indonesia ini.

Banner Iklan Swamedium

Kali Mampang adalah satu-satunya kali yang hampir 100% hanya berada di Jakarta, karena tidak ada hubungannya dengan daerah atau provinsi yang lain, jadi tidak terpengaruh oleh banjir kiriman dari hulu di Selatan. Oleh sebab itu, ia menjadi indikator prestasi pengelolaan saluran air setiap gubernur DKI menurut Ir. Fatchy Muhammad, seorang hidrogeolog.

Sungai atau kali yang lain, seperti Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Grogol, Kali Krukut, Kali Ciliwung, Kali Cipinang, dan Kali Sunter, berhulu di provinsi lain. Pengelolaannya merupakan kerja sama antara Pemprov. DKI dan pemprov. yang bersangkutan.

Kekeliruan program ‘normalisasi’ sungai Pemprov. hanya memperlebar dan memperdalam sungai, air langsung mengalir (terbuang) ke laut. “Buang, buang, buang!” Saat musim hujan, Jakarta kebanjiran; saat musim kemarau, kekeringan, tidak ada persediaan air (tanah).

Ketika banjir lokal (curah hujan 110 mm/hari atau 550 mm/5 hari) 2007, DAS Mampang luber luar biasa. Padahal, jika dikelola dengan baik, DAS Mampang justru dapat mengalirkan air hujan dan konservasi di sekitarnya dapat menampung air hujan itu, sehingga tidak menyebabkan banjir lokal atau air terbuang sia-sia.

Fatchy mengusulkan rencana konservasi daripada ‘normalisasi’ sungai untuk pengelolaan air hujan dan air kiriman dari hulu saat menjadi pembicara di Jaya Suprana Institute, Jumat (10/3) malam (baca: Normalisasi versus Konservasi). Luas DAS Mampang adalah 31,6 km². Dengan luas seperti itu, Pemprov. dan masyarakat dapat mengoptimalkannya dengan membuat sumur resapan (SR) serta ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang terbuka biru (RTB) atau waduk resapan.

Menurut Fatchy, dengan curah hujan rata-rata sekitar 50 mm/jam dan kapasitas SR 7.000 lt/jam, Pemprov. sebenarnya berkewajiban membuat 45.143 SR, sedangkan masyarakat membuat 54.171 SR di DAS Mampang. Selain itu, idealnya ada 17 lokasi RTH dan RTB yang total luasnya 852,500 m² di sana. (RRP)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita