Sabtu, 17 April 2021

Menembus Belantara Leuser (Bagian 2)

Menembus Belantara Leuser (Bagian 2)

Kutacane, Swamedium.com — Pukul 13.00 WIB, dengan panas yang menyengat 23º C, kami melanjutkan pergerakan. Medan berikutnya tidak jauh berbeda kondisinya seperti dari Camp Padang Rumput tadi. Banyak ‘bonus’.

Banner Iklan Swamedium

Pukul 17.25 WIB, kami tiba di area dengan sebuah telaga atau lebih tepatnya kami sebut kubangan di dekatnya. Kami telah tiba di Camp Kolam Badak (2.550 mdpl).

Baca juga: Menembus Belantara Leuser (Bagian 1)

Hari ke 7
“Target hari ini Camp Putri,” ucap Bang Udin di sela-sela doa. Setelah menanam paket makanan (paket 11), pukul 09.45 WIB, kami mulai bergerak. Baru start pergerakan, kami sudah dipaksa menikmati ‘Tanjakan Tenyom’ yang disebut ‘eskalator mati’ oleh orang-orang Sumatra.Berharap berakhir, ternyata di balik bukit yang sedang kami daki terdapat bukit lagi yang menjulang tinggi. Kami terkesima seraya menggeleng-gelengkan kepala. Bang Udin nampak jauh di depan kami, begitu kecil. Panas matahari yang menyengat membuat kami cepat lelah, peluh mengucur deras.

Pukul 11.30 WIB, kami tiba di Camp Bivak Kaleng (2.970 mdpl). Dataran terbuka yang di sana-sini tampak berserakan sampah kaleng berkarat. Menurut bang Udin, kaleng-kaleng itu merupakan peninggalan Belanda sewaktu ekspedisi Leuser pertama pada 1937. Berbeda dengan informasi yang kami dapat dari sebuah buku petualangan, kaleng-kaleng itu adalah bekas kemasan makanan yang didrop dari helikopter untuk rombongan pendaki yang kehabisan perbekalan.

Hari yang melelahkan, kondisi beberapa anggota tim terlihat sedikit menurun. Setelah memasang flysheet untuk makan siang, beberapa dari kami segera merebahkan badan, berharap kondisi tubuh bisa kembali fit untuk melanjutkan perjalanan nanti.

Pukul 14.00 WIB, setelah makan siang, kami melanjutkan pergerakan, masih naik-turun bukit dengan medan yang terbuka. Terkadang harus bergelayut pada akar pohon menghindari jurang dan pijakan yang longsor. Jam menunjuk angka 16.00 WIB, di depan terlihat kepulan asap dengan teriakan-teriakan kecil anggota tim memberi semangat. Rupanya rombongan depan telah sampai di Camp Putri. Bergegas kami mempercepat langkah. Area terbuka di ketinggian 2.930 mdpl ini memberikan kami pemandangan Puncak Syamsudin Mahmud, Puncak Loser, dan Puncak Leuser.

Hari ke 8
Pukul 06.00 WIB. Thermometer membaca suhu 9ºC. Selepas “tos” pukul 08.45 WIB, tim pun bergerak. Target hari ini Camp Krueng Kluet. Puncak Loser nampak dekat sekali, membuat semua anggota tim terlihat lebih bersemangat. Dua bukit di depan santapan pertama kami. Menurut bang Udin, bukit itu bernama Bukit Penangisan India. Sewaktu Mr. Jali menjadi guide (pemandu) turis dari India, turis tersebut menangis di bukit ini karena tak tahan dengan siksaan jalurnya. Sepanjang jalur masih juga menyisakan portal-portal pohon tumbang. Lebih parah, beberapa anggota tim terpaksa harus melepas carrier di pundak karena tidak muat saat melintas portal.

Pukul 11.10 WIB, kami sampai di dataran yang cukup terbuka, cocok untuk area makan siang kami. Segera flysheet dibentangkan untuk menahan laju sinar matahari yang memancarkan panas menyengat. Lebah terbang hilir mudik di hadapan kami, banyak sekali. Mungkin merasa terganggu oleh kehadiran kami, beberapa anggota tim disengat oleh lebah, untunglah racunnya tidak begitu kuat. Karena shelter ini belum mempunyai nama, kami menamakannya Camp Lebah. Terdapat sumber air yang jernih tak jauh dari camp ini.

Setelah menanam paket makanan (paket 10), pukul 12.50 WIB, kami melanjutkan pergerakan. Bergelayut di akar-akar pohon menjadi rute pertama kami selepas Camp Lebah, berlanjut naik-turun bukit dan akhirnya tiba di kawasan terbuka dengan banyak batu berserakan, kami telah sampai di Camp Bivak Batu (2.945 mdpl). “Ayo, main… main…” ucap bang Udin mengakhiri istirahat sejenak kami.

Serentak kami pun melanjutkan pergerakan. Setelah dua jam perjalanan, kami dihadapkan dengan lembah yang sangat curam dan dalam. Irama aliran sungai terdengar dari dasar lembah. Kami menuruninya dengan hati-hati, sesekali harus bergelayutan di akar-akar pohon agar tidak jatuh akibat medan yang licin dan ekstrem. Sungai Krueng Kluet pertama pun kami jumpai. Selepas sungai jalur menanjak kembali, kemudian landai cenderung menurun.

Pukul 17.30 WIB, kami tiba di Camp Krueng Kluet. Camp (perkemahan) ini hanya dapat menampung paling banyak tiga tenda, itu pun dengan medan yang tidak rata alias miring. Tidur malam ini terpaksa dikondisikan, ditambah lagi dengan udara yang cukup dingin.

Hari ke 9
Pukul 09.15 WIB, kami mulai pergerakan. Target hari ini Puncak Loser. Lima menit selepas meninggalkan camp (perkemahan), kami berjumpa dengan sungai Krueng Kluet kedua. Lebarnya tidak jauh berbeda, sekitar 3 meter. Kami menyeberang dengan hati-hati, batu yang menjadi pijakannya licin sekali. Selepas sungai, kami memasuki hutan lumut. Kemudian, naik-turun bukit yang cukup terbuka dan lumayan landai.

Pukul 11.55 WIB, kami tiba di punggungan yang menghubungkan Puncak Loser dengan Puncak Syamsudin Mahmud, bang Udin menyebutnya Shelter Simpang Puncak. Paket makan siang pun segera dibuka.

Rute selanjutnya, yaitu kawasan padang rumput terbuka. Kabut tebal sesekali menghalangi jarak pandangan.

Pukul 15.00 WIB, kami sampai di area padang rumput yang luas, lebih luas dari padang rumput sebelumnya yang telah kami lalui. Tampak genangan-genangan air di sepanjang jalur. Area ini biasa disebut sebagai ‘Lapangan Bola’. Vegetasi ilalang, perdu, dan anggrek-anggrekan sangat mendominasi, hanya di beberapa tempat saja terselip kantong semar (Nephentes sp) berwarna merah, kuning, dan hijau. Bang Udin dan rombongan pertama nampak kecil di puncak bukit di seberang kami, terkadang hilang dari pandangan tertutup kabut tebal. Sedikit membuat ‘sakit hati’ kami yang tertinggal jauh di belakang. Dengan jarak pandang hanya sekitar 3 meter saja, kami bergegas mengejar rombongan di depan yang masih naik-turun beberapa bukit lagi.

Akhirnya, kami tiba di sebuah area datar yang luas penuh bebatuan sangat besar. Betul-betul sebuah pemandangan baru yang amat berbeda menuju puncak. Batu-batu pipih tersusun bertingkat-tingkat di sepanjang jalur, sengaja dibuat sebagai patokan arah para pendaki menuju area Puncak Loser. Di depan tampak aliran air keluar dari celah-celah bebatuan.

Pukul 17.00 WIB, kami tiba di area Puncak Loser, area padang rumput datar yang luas. Tenda-tenda telah berdiri, api unggun pun telah menyala. Bang Isa dan bang Hamdan menyambut kedatangan kami, mereka guide-guide (pemandu-pemandu) senior didikan Mr. Jali yang sedang membawa rombongan Manunggal Bhawana-ITI. Suhu sudah mencapai 8º C, kami segera berganti pakaian hangat. Sarasehan kecil-kecilan pun tergelar. Cerita selama pendakian team Dharmapala-APP dan team MB-ITI silih berganti terdengar. Rencana esok mengadakan upacara memperingati hari kemerdekan R.I pun akhirnya kami bicarakan bersama. ——- Bersambung ——-

Sebuah Catatan Harian
Menembus Belantara Leuser (Bagian 2)
Ditulis untuk swamedium.com
-Apriyanti Lestari dan Tim UKM Dharmapala APP-

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita