Senin, 18 Januari 2021

Normalisasi versus Konservasi

Normalisasi versus Konservasi

Jakarta, Swamedium.com — Secara bahasa, normalisasi merupakan tindakan menjadikan normal (biasa) kembali; tindakan mengembalikan pada keadaan, hubungan, dan sebagainya yang biasa atau yang normal (KBBI V). Sudahkah sungai-sungai di Ibu Kota Indonesia normal kembali setelah program (baca: ‘proyek’) normalisasi Pemprov. DKI Jakarta? Sementara itu, apakah yang dimaksud dengan konservasi?

Banner Iklan Swamedium

Ir. Fatchy Muhammad, seorang hidrogeolog, menjadi narasumber dalam acara bertajuk “Sungai yang Normal” di Jaya Suprana Institute, Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (10/3) malam. Insinyur yang juga berasal dari Masyarakat Air Indonesia itu menyampaikan materi, “Genealogi Sungai-Sungai dan Krisis Tata Air Jakarta”.

Fatchy menjelaskan bahwa banjir Ibu Kota sudah terjadi sejak zaman kolonialis Hindia Belanda (masa VOC), yakni sewaktu gubernur jenderal Batavia Jan Pieterszoon Coen berkuasa (1619–1623 dan 1627–1629) pada 1621. Ia menyampaikan 3 contoh banjir dalam dua dekade terakhir, yaitu banjir lokal (curah hujan 550 mm/5 hari) dan kiriman (dari hulu) 2002, banjir lokal (500 mm/5 hari) 2007, serta banjir kiriman 2013–pemerintahan presiden SBY dan gubernur Joko Widodo–yang menyebabkan istana negara “tenggelam” dan tanggul kanal banjir barat (KBB) jebol. Kemudian yang paling terakhir, banjir Jakarta terjadi pada 16 Februari dan 21 Februari 2017.

“Bisa/enggak, Jakarta itu tidak banjir? Menurut hemat saya, bisa!” tegasnya.

“Normalisasi” sungai yang dilakukan oleh Pemprov. DKI sejauh ini tepat gunakah? Pada musim hujan, seperti banjir 2002 dan 2007, air langsung terbuang begitu saja ke laut. Sedangkan pada musim kemarau, tiada cadangan air tanah.

Pada zaman Pajajaran Prabu Siliwangi (1482–1521), air yang meresap berjumlah 73–97%, jadi yang terbuang 27 atau 3% saja. Lalu, ada perubahan pada zaman kolonialis Hindia Belanda. Seorang insinyur yang dikenal karena gagasannya tentang KBB, Hendrik van Breen, bertanggung jawab pula dalam perubahan kawasan Puncak menjadi perkebunan teh. Hingga perubahan drastis sejak era pemerintahan Republik Indonesia mulai eksis (setelah 1945), hanya 3–27% saja air meresap dan 97 atau 73% terbuang sia-sia. Berbanding terbalik dengan keadaan biasanya atau normal yang terdahulu.

Kanal banjir barat (KBB) dan timur (KBT) serta sungai-sungai yang lainnya berlebih muatan airnya, sementara ‘normalisasi’ (baca: pembetonan pinggiran sungai) menghalangi air sungai ke tanah. Oleh sebab itu, daerah-daerah di sekitar sungai kebanjiran, sedangkan Jakarta tetap kekeringan (air tanah), meskipun hujan melimpah ruah.

Ada sekian banyak rawa–tanah yang rendah (umumnya di daerah pantai) dan digenangi air, biasanya banyak terdapat tumbuhan air–di Jakarta yang sudah beralih fungsi, antara lain Rawa Bebek, Rawa Belong, Rawa Kerbau, Rawa Mangun (kini, Rawamangun), Rawa Sari (kini, Rawasari), dan Rawa Simprug.

Fatchy menawarkan solusi dalam upaya mengatasi banjir lokal Jakarta. Menurutnya, hindari ‘normalisasi’ (sungai) sebagai horizontal drainage (drainase horizontal). Sebaiknya, lakukan konservasi–pemeliharaan dan pelindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan; pengawetan; pelestarian–(lingkungan) sebagai vertical drainage (drainase vertikal) atau zero run off (tidak mengalir).

Langkah-langkah konkretnya adalah: (1) pengembangan ruang terbuka hijau (RTH) DKI sampai dengan 14%; (2) pengembangan ruang terbuka biru (RTB), seperti danau, embung, dan waduk, DKI sampai dengan 10%; (3) artificial recharge (pengisian ulang buatan), seperti sumur resapan dangkal dan dalam, oleh pemerintah DKI sampai dengan 50% dan oleh masyarakat kelas menengah sampai dengan 50%; (4) partisipasi masyarakat kelas bawah dalam pembuatan biopori.

Apabila langkah-langkah itu dijalankan dengan baik, jumlah air yang diserap akan kembali normal atau biasa (seperti dahulu), yaitu 73–97%, dan yang terbuang 27 atau 3%. Jadi, air tanah berlimpah dan Jakarta bebas banjir. (RRP)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita