Rabu, 30 September 2020

Membungkam Shalat Adalah Membungkam Perjuangan Bangsa Palestina

Membungkam Shalat Adalah Membungkam Perjuangan Bangsa Palestina

Ilustrasi: Permukiman Palestina dengan pemandangan masjid. (Ammar Awad/Reuters)

Oleh Mariam Barghouti*

Ramallah, Swamedium.com — Pada awal pekan lalu, parlemen kolonialis Israel (Knesset) menyetujui usulan peraturan peredaman adzan di Yerusalem (al-Quds) dan Israel.

Adzan sudah menjadi bagian peradaban Muslim sejak kemunculan Islam dan bagian al-Quds sejak kehadiran bangsa Arab di region ini.

Di Islam, adzan merupakan pengingat, baik kepada Muslim maupun nonmuslim, akan elemen spiritual Islam sekaligus panggilan untuk menunaikan shalat berjamaah.

Kolonialis Israel tetap memonopoli sebagai “satu-satunya negara berdemokrasi di Asia Barat” yang sebenarnya hanya mitos belaka. 69 tahun yang lalu, perdana menteri pertama kolonialis Israel, Ben Gurion, mencatat dalam buku catatannya, “Kita harus melakukan apa pun untuk memastikan [bangsa Palestina] tidak akan datang kembali.”

Perlakuan terhadap penduduk asli Palestina sebagai warga kelas kedua dan ketiga melalui undang-undang yang diskriminatif ialah reifikasi–anggapan bahwa gejala kultural sudah berubah menjadi benda yang mengutamakan segi ekonomis daripada estetis, sehingga berfungsi untuk kepentingan manusia; anggapan bahwa ide abstrak perlu diperlakukan seakan-akan memiliki keberadaan yang objektif–yang dimaksud oleh Ben Gurion ketika ia mengisyaratkan bahwa bangsa Palestina harus diusir dari Tanah Airnya.

Langkah terakhir untuk membungkam adzan ialah upaya untuk menghilangkan peradaban Palestina di wilayahnya sendiri, yang telah dijajah dan diduduki oleh kolonialis Israel.

Kolonialis Israel berdalih bahwa adzan membisingkan bukan hanya kalangan mereka, melainkan juga populasi Arab. Hal itu merupakan pembenaran untuk ideologi kolonialisme mereka saja.

Melarang komunitas Muslim Palestina melakukan adzan ialah upaya untuk melenyapkan jejak peradaban Islam dan peradaban Palestina di al-Quds.

Adzan dianggap telah mengganggu warga yahudi Israel. Sementara itu, sirene pun bergema di jalan-jalan setiap pekan untuk Shabbat.

Rasialis Israel tidak hanya ingin memastikan pengikisan terhadap bangsa Palestina dan perlawanannya, tetapi juga menginginkannya segera terjadi secepat mungkin.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.