Sabtu, 19 September 2020

Menembus Belantara Leuser (Bagian 3, Habis)

Menembus Belantara Leuser (Bagian 3, Habis)

Kutacane, Swamedium.com — Pukul 17.00 WIB, kami tiba di area Puncak Loser, area padang rumput datar yang luas. Tenda-tenda telah berdiri, api unggun pun telah menyala. Bang Isa dan bang Hamdan menyambut kedatangan kami, mereka guide-guide (pemandu-pemandu) senior didikan Mr. Jali yang sedang membawa rombongan Manunggal Bhawana-ITI. Suhu sudah mencapai 8º C, kami segera berganti pakaian hangat. Sarasehan kecil-kecilan pun tergelar. Cerita selama pendakian team Dharmapala-APP dan team MB-ITI silih berganti terdengar. Rencana esok mengadakan upacara memperingati hari kemerdekan R.I pun akhirnya kami bicarakan bersama.

Sebelumnya:
Menembus Belantara Leuser (Bagian 1)
Menembus Belantara Leuser (Bagian 2)

Hari ke 10
Pagi yang super dingin, di luar tenda nampak butiran-butiran es menyelimuti plastik-plastik pembungkus barang-barang kami, meskipun matahari telah bersinar terang. Suhu pukul 3 pagi tadi mencapai 3º C, suhu terendah yang kami rasakan selama pendakian. Bergegas kami mengenakan seragam biru DHARMAPALA, hari ini kami akan melakukan upacara bendera memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan R.I di Puncak Loser yang tinggal selangkah lagi di depan.

Hanya lima menit kami telah tiba di tugu batu sekunder bernomor 227, Tim Panser UKM DHARMAPALA-APP telah menginjakkan kaki di Puncak Loser (3.404 mdpl).

Jabatan tangan rekan-rekan Manunggal Bhawana–ITI kami sambut dengan hangat, rona keceriaan nampak jelas di raut wajah kami. Pukul 09.30 WIB, kami segera memulai rangkaian upacara bendera. Bang Hamdan selaku pembina, bang Isa memilih posisi pemimpin doa. Upacara yang diikuti oleh total 20 orang ini (Dharmapala-APP: 11 orang, Mapaptri: 1 orang, Gentala: 2 orang, Manunggal Bhawana-ITI: 3 orang dan Tim Guide: 3 orang) berlangsung dengan penuh khidmat. Cuaca pun ikut cerah bersahabat. Selepas upacara bendera pukul 10.15 WIB, kami melanjutkan pergerakan menuju Puncak Leuser. Team MB-ITI bergerak pulang, kemarin mereka telah mencapai Puncak Leuser lebih dulu dari kami.

Dari lokasi 3.404 mdpl ini, jelas terlihat Puncak Leuser dengan punggungan yang tipis dan dindingnya yang sebagian ditutupi oleh kabut. Segera kami menuruni punggungan yang terjal, satu per satu anggota tim pun hilang “ditelan” oleh gumpalan kabut tebal.

Terkadang kami harus free climbing di tebing-tebing batu, ekstra hati-hati agar tidak terperosok ke dalam jurang, meskipun sudah tidak membawa beban di pundak, semua barang kami tinggalkan di camp (perkemahan). Karena kehilangan jalur, salah seorang anggota tim berteriak-teriak memanggil rombongan di depan. Tiba-tiba awan hitam datang bergumpal ke arah kami, dan hujan gerimis pun turun.

Pukul 11.30 WIB, kami tiba di pedataran yang terdapat sebuah telaga yang jernih. Di sana-sini terlihat kantong semar dengan ukuran ekstra besar beraneka warna, merah, kuning, hijau, cokelat kehitaman, bahkan yang bermotif belang macan ada. Bang Udin nampak asyik melinting kaung di tepian telaga, sesekali pandangannya terlihat serius menatap gumpalan awan hitam. Di sela masak untuk makan siang, bang Udin bercerita tentang pantangan-pantangan yang ada di daerah ini, di antaranya jangan berteriak karena akan mengakibatkan turun hujan. Kami jadi teringat pengalaman tadi di jalur sewaktu menuju Danau Leuser ini.

Pages: 1 2 3

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.