Minggu, 17 Januari 2021

Menembus Belantara Leuser (Bagian 3, Habis)

Menembus Belantara Leuser (Bagian 3, Habis)

Kutacane, Swamedium.com — Pukul 17.00 WIB, kami tiba di area Puncak Loser, area padang rumput datar yang luas. Tenda-tenda telah berdiri, api unggun pun telah menyala. Bang Isa dan bang Hamdan menyambut kedatangan kami, mereka guide-guide (pemandu-pemandu) senior didikan Mr. Jali yang sedang membawa rombongan Manunggal Bhawana-ITI. Suhu sudah mencapai 8º C, kami segera berganti pakaian hangat. Sarasehan kecil-kecilan pun tergelar. Cerita selama pendakian team Dharmapala-APP dan team MB-ITI silih berganti terdengar. Rencana esok mengadakan upacara memperingati hari kemerdekan R.I pun akhirnya kami bicarakan bersama.

Banner Iklan Swamedium

Sebelumnya:
Menembus Belantara Leuser (Bagian 1)
Menembus Belantara Leuser (Bagian 2)

Hari ke 10
Pagi yang super dingin, di luar tenda nampak butiran-butiran es menyelimuti plastik-plastik pembungkus barang-barang kami, meskipun matahari telah bersinar terang. Suhu pukul 3 pagi tadi mencapai 3º C, suhu terendah yang kami rasakan selama pendakian. Bergegas kami mengenakan seragam biru DHARMAPALA, hari ini kami akan melakukan upacara bendera memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan R.I di Puncak Loser yang tinggal selangkah lagi di depan.

Hanya lima menit kami telah tiba di tugu batu sekunder bernomor 227, Tim Panser UKM DHARMAPALA-APP telah menginjakkan kaki di Puncak Loser (3.404 mdpl).

Jabatan tangan rekan-rekan Manunggal Bhawana–ITI kami sambut dengan hangat, rona keceriaan nampak jelas di raut wajah kami. Pukul 09.30 WIB, kami segera memulai rangkaian upacara bendera. Bang Hamdan selaku pembina, bang Isa memilih posisi pemimpin doa. Upacara yang diikuti oleh total 20 orang ini (Dharmapala-APP: 11 orang, Mapaptri: 1 orang, Gentala: 2 orang, Manunggal Bhawana-ITI: 3 orang dan Tim Guide: 3 orang) berlangsung dengan penuh khidmat. Cuaca pun ikut cerah bersahabat. Selepas upacara bendera pukul 10.15 WIB, kami melanjutkan pergerakan menuju Puncak Leuser. Team MB-ITI bergerak pulang, kemarin mereka telah mencapai Puncak Leuser lebih dulu dari kami.

Dari lokasi 3.404 mdpl ini, jelas terlihat Puncak Leuser dengan punggungan yang tipis dan dindingnya yang sebagian ditutupi oleh kabut. Segera kami menuruni punggungan yang terjal, satu per satu anggota tim pun hilang “ditelan” oleh gumpalan kabut tebal.

Terkadang kami harus free climbing di tebing-tebing batu, ekstra hati-hati agar tidak terperosok ke dalam jurang, meskipun sudah tidak membawa beban di pundak, semua barang kami tinggalkan di camp (perkemahan). Karena kehilangan jalur, salah seorang anggota tim berteriak-teriak memanggil rombongan di depan. Tiba-tiba awan hitam datang bergumpal ke arah kami, dan hujan gerimis pun turun.

Pukul 11.30 WIB, kami tiba di pedataran yang terdapat sebuah telaga yang jernih. Di sana-sini terlihat kantong semar dengan ukuran ekstra besar beraneka warna, merah, kuning, hijau, cokelat kehitaman, bahkan yang bermotif belang macan ada. Bang Udin nampak asyik melinting kaung di tepian telaga, sesekali pandangannya terlihat serius menatap gumpalan awan hitam. Di sela masak untuk makan siang, bang Udin bercerita tentang pantangan-pantangan yang ada di daerah ini, di antaranya jangan berteriak karena akan mengakibatkan turun hujan. Kami jadi teringat pengalaman tadi di jalur sewaktu menuju Danau Leuser ini.

Setelah makan siang, beberapa putri yang ikut dalam pendakian ini tidak ingin melanjutkan pergerakan ke Puncak Leuser, namun setelah diberi dukungan semangat mereka bangkit kembali. Memang hanya tinggal semangat yang kami miliki setelah semua tenaga tersedot habis “ditelan” oleh jalur. Track (jalur) langsung menanjak, tumpukan batu pipih menjadi patokan kami di jalur yang tertutup oleh kabut, agar anggota tim yang ketinggalan tidak perlu berteriak-teriak minta petunjuk arah. Beberapa anggota tim nampak berjalan terseok-seok menapaki bebatuan yang menanjak, membuat laju pergerakan semakin lambat. Setelah hampir 2 jam meninggalkan danau Leuser, dari atas terdengar kumandang adzan, rombongan pertama telah tiba di Puncak Leuser.

Tanpa memedulikan sakit di kaki, kami mempercepat langkah agar bisa segera tiba di puncak. Suara adzan bergema di dinding-dinding batu, tak lama petir pun menggelegar, awan hitam bergelombang berarak di atas kepala, dan hujan pun turun dengan derasnya. Pukul 14.30 WIB, seluruh anggota tim telah tiba di Puncak Leuser (3.119 mdpl). Suasana haru menyelimuti, kami saling berpelukan, air mata tak kuasa jatuh terurai. Akhirnya tujuan kami tercapai sudah. Bendera telah dikibarkan di Puncak Leuser.

Setelah mengambil beberapa foto tim di puncak, kami bergegas turun karena hujan semakin deras diselingi oleh halilintar. Dingin menjalari seluruh tubuh, kedua kaki dan tangan seperti mati rasa, sulit untuk digerakkan. Terbersit keinginan untuk duduk beristirahat di lahan yang landai, namun segera kami tepis. Di sepanjang jalur turun tampak butiran-butiran kristal es sebesar telur cicak, berserakan banyak sekali jumlahnya, penasaran salah seorang anggota team mengambilnya segenggam. Pantas seluruh badan terasa beku ternyata kami diguyur oleh hujan es alami. Di depan, dalam celah tebing batu kami melihat bang Udin duduk berlindung dari hujan di bawah kanopi batu, mata menatap tajam kumpulan awan hitam yang memuntahkan air hujan, mulutnya seperti merapal sesuatu. Bang Udin meminta kami mendahuluinya. Dengan susah payah kami berhasil naik ke atas tebing batu. Entah lewat mana tiba-tiba bang Udin telah ada di depan kami. Hujan deras pun berhenti seketika. Aneh, tetapi nyata…?!

kristal es

Pukul 16.45 WIB, rombongan pertama tiba di tempat camp (perkemahan), tim sweaping tiba setengah jam kemudian. Terus menerus diguyur oleh hujan es membuat kondisi 2 anggota tim putri drop, bahkan salah satunya sempat tak sadarkan diri. Segera kami masukkan ke dalam tenda, teh manis hangat menjadi obat mujarab pertama, “disusul” oleh bubur serealia, memberi pertahanan tubuh dari serangan hipotermia. Untunglah pengetahuan tentang berpetualang di alam bebas yang kami peroleh di organisasi membuat seluruh anggota tim tidak panik saat menghadapi situasi genting.

Setelah semua anggota tim mengenakan pakaian hangat, hujan yang sempat berhenti turun lagi dengan derasnya ketika kami sudah aman di dalam tenda. Selepas makan malam, karena kelelahan, seluruh anggota tim tertidur. Malam ini kami tidak sempat berevaluasi dan briefing, apalagi untuk membuat api unggun. Mudah-mudahan esok stamina tim kembali pulih untuk menghadapi rute turun gunung yang tidak jauh berbeda dengan naiknya. Akan tetapi, yang pasti terbayar sudah janji kami. Tim Panser UKM DHARMAPALA-APP telah berhasil mengibarkan bendera di ‘puncak yang hilang’, Puncak Loser dan Puncak Leuser. Harga yang pantas untuk pengalaman yang tak terlupakan. Salam Lestari…!

Sebuah Catatan Harian
Menembus Belantara Leuser (Bagian 3, Habis)
Ditulis untuk swamedium.com
-Apriyanti Lestari dan Tim UKM Dharmapala APP-

Banner Iklan Swamedium

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita