Selasa, 15 September 2020

Memahami Sistem Bagi Hasil di Tabungan Syariah

Memahami Sistem Bagi Hasil di Tabungan Syariah

Foto: Warga IPB siap hijrah dari bank konvensional ke bank syariah. (ist)

Jakarta, Swamedium – Meski bank syariah di Indonesia sudah ada sejak tahun 1991 atau sudah berusia 26 tahun, yang ditandai dengan kelahiran Bank Muamalat, masyarakat masih belum paham dengan konsep bagi keuntungan bila menempatkan dananya di tabungan syariah.

Pertanyaan tentang perbedaan bagi hasil dengan bunga di bank konvensional masih selalu muncul. Semoga tulisan ini bisa membantu pembaca untuk lebih mengenal tabungan syariah.

Tabungan syariah kini menjadi alternatif menarik bagi sebagian masyarakat yang menginginkan kehidupan yang bebas dari jeratan riba atau bunga. Apalagi, riba sangat dilarang dalam ajaran Islam.

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berpendapat, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi mengambil riba, maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah:275)

Ekonomi berbasis riba memang sangat dilarang. Bedanya dengan tabungan di bank konvensional, tabungan syariah tidak mengenal sistem bunga, tapi menggunakan sistem bagi hasil. Penabung atau deposan akan mendapat imbal hasil berupa prosentase bagi hasil atas dana yang dikelola oleh bank.

Contohnya, nisbah bagi hasilnya 60%:40%. Hal itu berarti 60% untuk bank sebagai pengelola dana (mudharib) dan 40% untuk pemilik modal (shahibul maal). Artinya, keuntungan yang diperoleh dari pengelolaan dana tabungan itu sebesar 40% akan dibagi kepada seluruh nasabah bank bersangkutan sesuai dengan besarnya nilai tabungannya.

Dalam tabungan syariah, akad yang dipakai biasanya mudharabah muthlaqah, yaitu akad antara pihak pemilik modal dan pengelola dana untuk memperoleh keuntungan, yang kemudian akan dibagikan sesuai nisbah yang disepakati. Mudharib atau bank diberi kekuasaan penuh untuk mengelola modal atau menentukan arah investasi sesuai syariah.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.