Rabu, 12 Mei 2021

Memahami Sistem Bagi Hasil di Tabungan Syariah

Memahami Sistem Bagi Hasil di Tabungan Syariah

Foto: Warga IPB siap hijrah dari bank konvensional ke bank syariah. (ist)

Jakarta, Swamedium – Meski bank syariah di Indonesia sudah ada sejak tahun 1991 atau sudah berusia 26 tahun, yang ditandai dengan kelahiran Bank Muamalat, masyarakat masih belum paham dengan konsep bagi keuntungan bila menempatkan dananya di tabungan syariah.

Banner Iklan Swamedium

Pertanyaan tentang perbedaan bagi hasil dengan bunga di bank konvensional masih selalu muncul. Semoga tulisan ini bisa membantu pembaca untuk lebih mengenal tabungan syariah.

Tabungan syariah kini menjadi alternatif menarik bagi sebagian masyarakat yang menginginkan kehidupan yang bebas dari jeratan riba atau bunga. Apalagi, riba sangat dilarang dalam ajaran Islam.

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berpendapat, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi mengambil riba, maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah:275)

Ekonomi berbasis riba memang sangat dilarang. Bedanya dengan tabungan di bank konvensional, tabungan syariah tidak mengenal sistem bunga, tapi menggunakan sistem bagi hasil. Penabung atau deposan akan mendapat imbal hasil berupa prosentase bagi hasil atas dana yang dikelola oleh bank.

Contohnya, nisbah bagi hasilnya 60%:40%. Hal itu berarti 60% untuk bank sebagai pengelola dana (mudharib) dan 40% untuk pemilik modal (shahibul maal). Artinya, keuntungan yang diperoleh dari pengelolaan dana tabungan itu sebesar 40% akan dibagi kepada seluruh nasabah bank bersangkutan sesuai dengan besarnya nilai tabungannya.

Dalam tabungan syariah, akad yang dipakai biasanya mudharabah muthlaqah, yaitu akad antara pihak pemilik modal dan pengelola dana untuk memperoleh keuntungan, yang kemudian akan dibagikan sesuai nisbah yang disepakati. Mudharib atau bank diberi kekuasaan penuh untuk mengelola modal atau menentukan arah investasi sesuai syariah.

Besar nisbah bagi hasil antara bank dan penabung ini bisa 50%:50% atau 55%:45% tergantung dari kesepakatan bersama. Artinya, kalau penabung sudah memercayakan dananya dikelola oleh bank Islam, dia tentu sudah sepakat dengan bagi hasil itu, karena besaran nisbahnya diinformasikan saat membuka rekening di bank Islam.

Dalam konsep bagi hasil ini, seandainya bank menderita kerugian pun, tentu nasabah juga turut menanggung risiko kerugian. Tapi, sistem bagi hasil yang difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional saat ini adalah dengan sistem revenue sharing, karena yang dibagikan adalah pendapatan bank, bukan keuntungan.

Idealnya, sistem bagi hasil dalam bank syariah memang profit & loss sharing. Artinya, deposan maupun pihak bank sama-sama menanggung risiko. Tapi, berdasarkan pertimbangan banyaknya moral hazard, akhirnya sistem revenue sharing yang menjadi pilihan paling tepat untuk kondisi sekarang.

Penabung di bank Islam untuk kondisi saat ini tidak menanggung risiko, namun menurut Konsultan Syariah MC Consulting Wahyu Dwi Agung, imbal hasil yang diperoleh penabung itu tidak bisa dikategorikan sebagai riba atau bunga.

Alasannya, imbal hasil yang diperoleh penabung itu naik atau turun tergantung dari kinerja bank. Sementara kalau bunga, ungkapnya, hasilnya sudah diperjanjikan terlebih dahulu dan nilainya tetap, bagaimanapun kondisi kinerja bank.

Agar bank tetap mampu memberikan imbal hasil, Wahyu menjelaskan bank harus beroperasi secara efisien atau tidak negative spread, biaya operasionalnya lebih besar daripada keuntungannya.

Perubahan kultural
Sistem bagi hasil profit & loss sharing , kata Wahyu, membutuhkan perubahan kultural dari masyarakat. Namun untuk kondisi saat ini, sistem bagi hasil tersebut bisa juga diterapkan untuk pembiayaan bidang lainnya.

Dalam operasionalnya, sesuai fungsi bank sebagai alat intermediasi yang menyalurkan dana ke masyarakat, dana yang dikumpulkan bank dari penabung atau deposan itu akan disalurkan bank Islam untuk investasi membiayai kegiatan sektor riil.

Bank Islam tidak akan mengizinkan uang nasabah itu digunakan untuk transaksi valuta asing karena hal itu masuk dalam kegiatan spekulasi. Tak heran, bila penyaluran dana bank syariah ke sektor riil selama tahun 2005- 2006 melampaui 100%.

Artinya, dana bank Islam yang disalurkan ke sektor riil itu sudah melebihi dana yang disimpan masyarakat. Sehingga, sebagian modal bank pun disalurkan untuk membiayai sektor riil.

Fakta FDR (financial to deposits ratio) di bank syariah yang melebihi angka 100% [batas maksimum FDR dari Bank Indonesia adalah 110%] itu menunjukkan bahwa bank syariah dalam kondisi sehat. Fungsi bank sebagai intermediasi berjalan, sehingga dananya bisa disalurkan ke masyarakat dengan baik untuk membantu menggerakkan roda perekonomian.

Secara tidak langsung, penabung di bank Islam juga turut memberikan kontribusi dalam membantu memperbaiki perekonomian. Selain mendapat pahala, penabung juga merasa tenteram, karena imbal hasil yang diterimanya halal. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita