Sabtu, 04 Desember 2021

Perang di Jembatan Sungai Tigris, Pasukan Irak Tewaskan Seorang Komandan ISIS

Perang di Jembatan Sungai Tigris, Pasukan Irak Tewaskan Seorang Komandan ISIS

Seorang pria Irak yang meninggalkan rumahnya tiba di tempat pengungsian Hammam al-Alil di Mosul selatan, Irak, pada Selasa (14/3). (Thaier Al-Sudani/Reuters)

Mosul, Swamedium.com — Pasukan keamanan rezim syiah Irak menewaskan seorang komandan ISIS di Kota Tua, Mosul, pada Selasa (14/3), saat perang berfokus pada sebuah jembatan di atas Sungai Tigris.

Banner Iklan Swamedium

Perang makin intensif. Setelah beberapa hari sebelumnya hujan turun begitu lebat, rezim syiah Irak mengungsikan warga sipil dari Mosul barat. Mereka kedinginan dan kelaparan, tetapi setidaknya lega karena sudah bebas dari cengkeraman ISIS.

Para sniper atau penembak runduk ISIS sempat memperlambat gerak tim advance unit gerak cepat kementerian dalam negeri Irak di Jembatan Besi yang menghubungkan Mosul barat dan timur, tetapi pasukan elite itu tetap maju perlahan-lahan, kata pejabat Irak.

Tentara rezim syiah Irak yang lain pun merangsek ke Mosul barat, pertahanan terakhir ISIS yang mereka klaim sebagai ibu kota kekhalifahan yang mereka deklarasikan sendiri.

Polisi federal Irak membunuh Abu Abdul Rahman al-Ansary, seorang komandan militer ISIS di Kota Tua, Mosul, saat operasi membersihkan Distrik Bab al-Tob, kata seorang pejabat polisi federal.

Merebut Jembatan Besi berarti tentara rezim syiah Irak menguasai tiga dari lima jembatan di Sungai Tigris, Mosul, yang semuanya telah dirusak oleh ISIS dan serangan udara pimpinan Amerika Serikat (AS). Dua jembatan yang berada di paling selatan telah diambil alih sebelumnya.

“Kami tetap bergerak maju ke Jembatan Besi. Kami menyingkirkan para sniper yang bersembunyi di bangunan di sekeliling,” kata Brigjen. Mahdi Abbas Abdullah dari pasukan gerak cepat kepada Reuters.

Di dekat Museum Mosul, Pasukan Irak menggunakan kendaraan bersenjata dan tank untuk menyerang para sniper ISIS yang menghambat tentara Irak yang membersihkan area di sekitar Jembatan.

Satu serangan udara menargetkan satu posisi ISIS, menyerang satu bangunan. Asap dan debu “menelan” pasukan Irak di sekitarnya.

Kebisingan tembakan senapan dan senapan mesin besar dapat terdengar dari Mosul tengah. Senjata helikopter memberondong tanah dari atas pada Selasa pagi.

Pengungsian warga sipil
Di tengah perang, para pengungsi terus berdatangan dari distrik-distrik di barat, membawa koper, botol air minum, dan barang-barang yang lainnya. Sebagian menggendong anak-anak dan membantu kerabat yang sudah tua dan sakit dengan tongkat dan kursi roda.

Tentara Irak mengangkut mereka dalam truk, melalui jalanan Mosul–Baghdad, membawa mereka ke area pengungsi. Sebagian besar pergi saat dini hari atau ketika tentara mengambil alih lingkungan mereka. Makanan menjadi langka, kata mereka.

“Kami mengungsi pukul 05.00 setelah tentara tiba. Sebelumnya, ada sejumlah penembakan oleh ISIS,” kata Hamid Hadi, seorang guru. “Biasanya kami makan tomat yang dicampur dengan air.”

Ashraf Ali, seorang perawat, melarikan diri bersama istri dan kedua anaknya. Ia bercerita bahwa mortir berjatuhan di sekeliling saat mereka mengungsi. Mereka memanfaatkan momen tentara mengambil alih distrik mereka untuk keluar dari sana.

“ISIS ingin kami pindah ke area mereka, tetapi kami melarikan diri ketika tentara tiba,” katanya.

Lebih dari 200.000 warga Mosul telah telantar sejak Oktober 2016.

Menurut keterangan dari kementerian imigrasi, Selasa, 13.000 orang dari Mosul barat telantar. Mereka mencari bantuan dan akomodasi sementara.

“Ada lebih banyak warga di sebelah barat Kota dan mereka berusaha pergi karena tiada makanan dan suplai di daerah mereka,” terang seorang pejabat Irak yang mengurus para pengungsi. (ais)

Sumber: Reuters

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita