Jumat, 07 Mei 2021

Petani Kelapa Pangandaran Ingin Sejahtera Tanpa Riba

Petani Kelapa Pangandaran Ingin Sejahtera Tanpa Riba

 

Jakarta, Swamedium.com – Empat lembaga umat bergandengan tangan membantu para petani kelapa di Parigi, Pangandaran, Jawa Barat untuk membebaskan mereka dari jeratan utang rentenir sekaligus meningkatkan kesejahteraannya. Keempat lembaga itu adalah Koperasi Mitra Malabar, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Koperasi Produsen Mitra Kelapa Pengandaran (KPMKP) dan Lembaga Amil Zakat Al-Azhar (LAZ Al-Azhar).

Banner Iklan Swamedium

Nota kesepahaman (MOU) antara Koperasi Mitra Malabar, DPKLTS, Koperasi Produsen Mitra Kelapa Pangandaran, dan LAZ Al-Azhar yang ditandatangani pada 15 Maret 2017 itu tentang Penguatan Keuangan dan Kelembagaan KPMK Pangandaran dalam rangka program pengentasan riba yang menjerat para petani kelapa di Parigi Pangandaran. Mereka juga akan menyelenggarakan pelatihan agroforestri kelapa berbasis zero waste untuk anggota Koperasi Produsen Mitra Kelapa Pangandaran yang didukung oleh Kementerian KLH dan Kementerian Koperasi & UKM pada 15 – 16 Maret 2017.

Ketua Swadaya Petani Indonesia Eep S. Maqdir mengatakan MOU ini adalah rangkaian dari kegiatan pengelolaan perkebunan kelapa secara terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Awal mulanya adalah ketika sekelompok pengolah kelapa berniat meningkatkan kapasitas produksi industri pengolahan kelapa, ternyata terkendala dengan persoalan ketersediaan bahan baku kelapa, sehingga ratusan petani kelapa di Pangandaran terjerat gadai secara dzalim selama bertahun-tahun.

“Utang mereka selama bertahun-tahun tidak dapat dilunasi kepada rentenir, karena pohon kelapa mereka sampai ke hasil panennya juga dikuasai rentenir. Akibatnya mereka tidak dapat mengangsur pinjaman.” jelas pria yang biasa dipanggil Kang Eep ini kepada Swamedia.

Hal itulah, lanjut dia, yang mendorong sekelompok petani dan pengolah kelapa mendirikan koperasi dengan tujuan untuk membebaskan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Diawali oleh Koperasi Mitra Malabar, DPKLTS, dan Swadaya Petani Indonesia, maka berdirilah Koperasi Produsen Mitra Kelapa Pangandaran pada Desember 2016.

Dapat Dukungan

Dalam perjalanannya, KPMK Pangandaran mendapat dukungan dari berbagai pihak, seperti dari komunitas The Green Coconut Island, Persaki, dan juga mendapatkan bantuan wakaf bergulir dari LAZ Al-Azhar berupa dana talangan kepada para petani yang terjerat rentenir. Dengan dukungan tersebut, petani diharapkan dapat kembali menguasai kebun kelapanya, mencicil dana talangan tadi, dan juga mencukupi kehidupannya.

Oleh karena itu, menurut Kang Eep, KPMK Pangandaran memilik motto “Dari Kelapa Kita Bisa Sejahtera.” Kelapa memang memiliki potensi untuk dikembangkan pengolahannya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Tidak hanya dari daging kelapanya, tetapi juga dari air kelapa, sabut, cocofeat, tempurung/batoknya, dll.

Dia menjelaskan untuk 1 hektar kebun kelapa, dengan tegakan pohon kelapa 275 – 300 pohon, dapat dihasilkan produk turunan layer-1:

  1. Desiccated Coconut 3.150 kg / tahun
  2. Nata De Coco 4.400 kg / tahun
  3. Minyak Goreng 220 kg / tahun
  4. Briket tempurung 780 kg / tahun
  5. Cocofiber 2.200 kg / tahun
  6. Cocopeat 2.750 kg / tahun
  7. Galendo 150 kg / tahun

Desiccated Coconut merupakan produk olahan utama, sedangkan nata de coco sampai ke galendo adalah produk olahan “limbah” yang selama ini dibuang begitu saja. Dia menuturkan bahwa lahan kebun kelapa seluas 1 hektar jika disadap kelapanya dan diolah menjadi gula merah, dapat memberikan pendapatan sampai Rp1 milyar per tahun. Jauh di atas potensi pendapatan sawit. Jika limbah kelapa seperti sabut, batok dan lain-lainya diolah menjadi produk tersendiri, maka potensi ekonomi kebun kelapa semakin bertambah. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita