Selasa, 30 November 2021

Belajar Jadi Investor Melalui Reksa dana Syariah

Belajar Jadi Investor Melalui Reksa dana Syariah

Jakarta, Swamedium.com – Kemiskinan mendatangkan kekufuran. Sebuah hadist yang populer ini mengingatkan umat Islam untuk lebih giat mencari rejeki dan pandai mengelola keuangannya. Salah satu caranya dengan berinvestasi di reksa dana syariah. Produk investasi ini dikeluarkan oleh industri pasar modal dan biasanya dipasarkan oleh perbankan atau perusahaan sekuritas.

Banner Iklan Swamedium

Reksa dana syariah mengajak kita yang tidak memiliki dana besar dan waktu yang cukup untuk menjalankan bisnisnya sendiri bisa tetap berinvestasi agar dananya produktif. Karena, reksa dana syariah, tentu dana yang dikelola oleh manajer investasi itu akan diinvestasikan ke produk-produk syariah.  Sayangnya, jumlah reksa dana syariah yang beredar di masyarakat masih sangat sedikit.

Menurut Statistik Perbandingan Reksa dana Syariah dan Reksa dana Konvensional yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah reksa dana syariah hingga per Februari 2017 ini baru 140 jenis, sedangkan reksa dana konvensional sebanyak 1,321 jenis. Artinya, porsi reksa dana syariah baru 9,58% dari total jumlah reksa dana di masyarakat yang mencapai 1.461 jenis.

Selain itu, jumlah dana kelolaannya atau disebut Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana syariah baru mencapai 4,55% atau Rp16.204,97 miliar dibandingkan NAB reksa dana konvensional yang mencapai Rp340.186,39 miliar. Melihat data tersebut, bisa dikatakan bahwa kontribusi umat Islam dalam mendorong perekonomian lewat industri pasar modal masih kecil.

Bagaimana perkembangan total reksa dana  tahun ini? Ketua Komisioner Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida memprediksikan pertumbuhan reksa dana tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, yakni sekitar 24-25%.

“Tahun lalu kan 24%. Tahun ini biasamya pertumbuhannya sekitar itu ya, 24-25%” kata dia beberapa waktu lalu.

Salah satu faktor yang membuat kegiatan reksa dana terus berkembang ialah, banyaknya sarana yang mendukung untuk mempermudah masyarakat menjangkau reksa dana.

“Bagaimana membuat masyarakat lebih paham apa itu pasar modal, apa itu produk-produknya, salah satunya reksa dana dan bagaimana mereka bisa memasuki pasar modal, serta memberikan sarananya. Online trading reksa dana itu sudah banyak, masyarakat juga sudah dengan mudah dapat mengakses reksa dana dimana saja kapan saja,” kata dia.

Reksadana syariah diperkenalkan pertama kali pada tahun 1995 oleh National Commercial Bank di Saudi Arabia dengan nama Global Trade Equity dengan kapitalisasi sebesar US$ 150 juta. Menurut fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) No. 20/DSN-MUI/IV/2001, Reksa Dana Syariah (Islamic investment funds) sebagai reksa dana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariat Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai milik harta (Shahib al-mal/rabb al-mal) dengan manajer investasi sebagai wakil shahib al-mal, maupun antara manajer investasi sebagai wakil shahib al-mal dengan pengguna investasi.

Sedangkan reksa dana sendiri dapat diartikan sebagai wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam potofolio efek oleh manajer investasi. Dana yang dikelola oleh manajer investasi ini diinvestasikan ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek atau sekuritas lainnya. Jika membandingkan dengan reksa dana konvensional, keduanya tidak memiliki banyak perbedaan. Perbedaan mendasar yaitu hanya terletak pada cara pengelolaan dan prinsip kebijakan investasi yang diterapkan.

Adapun jenis reksa dana ada empat, yaitu reksa dana saham syariah, reksa dana campuran syariah, reksa dana pendapatan tetap syariah dan reksa dana pasar uang syariah. (maida)

Banner Iklan Swamedium

 

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita