Kamis, 06 Mei 2021

Pemain Sepak Bola Wanita Afghanistan Harus Hijrah

Pemain Sepak Bola Wanita Afghanistan Harus Hijrah

Mantan kapten tim sepak bola wanita Afghanistan, Khalida Popal, bersama seorang anggota tim, Shabnam Mabarz, yang mengenakan pakaian dari kepala hingga kaki dengan hijab terintegrasi. (Jan M. Olsen/AP)

København, Swamedium.com — Khalida Popal merupakan pemimpin tim sepak bola wanita Afghanistan, tetapi harus melarikan diri karena ancaman kematian. Kini, Khalida tinggal di Denmark, menentang presiden Amerika Serikat (AS), dan membantu para wanita mendapatkan kepercayaan diri melalui olahraga.

Banner Iklan Swamedium

Khalida Popal (29) berisiko menjadi pemimpin tim sepak bola wanita Afghanistan. “Kadang-kadang aku masih bermimpi buruk,” lirihnya. “Para pria berdiri, melihatiku, dan menertawakanku atau ketakutan bahwa mereka akan memperkosaku.”

Sudah enam tahun sejak Khalida harus meninggalkan keluarga dan Tanah Airnya. Kehidupan dan keamanan dirinya terancam karena negerinya merupakan salah satu tempat paling berbahaya bagi kaum hawa.

Khalida belajar berolahraga sejak masih kecil dari ibunya yang seorang guru olahraga. Ibunya menanamkan keyakinan bahwa sepak bola dan olahraga yang lain tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membugarkan dan baik untuknya.

Banyak pihak keberatan selama ia mengampanyekan agar para gadis dapat berolahraga. Sebagiannya ialah para bapak dan pemuda. Mereka tidak membayangkan putri atau saudara perempuan mereka bermain sepak bola, bahkan mereka menganggap yang melakukannya sebagai wanita tunasusila dan perempuan jalang karena menodai nama baik keluarga dan budaya mereka.

Dengan kepopulerannya, kesuksesan timnya, dan posisinya di asosiasi sepak bola nasional, ia menjadi target yang mudah dikenali. Saat berjalan kaki, ada yang melemparinya dengan sampah. Ada pula yang menghardiknya melalui telepon. Tidak hanya membahayakan keamanan dirinya, tetapi juga semua yang dekat dengannya.

Ia mengenang, “Masalahku bukanlah Taliban bersenjata, bertali, berjubah dan bersepatu bot, melainkan orang-orang bermental (oknum) Taliban yang melawan para wanita dan suara mereka (yang tidak sopan dan kasar).”

Akhirnya, ia sadar dirinya tidak punya pilihan. “Kupikir aku harus pergi. Kalau tidak, aku akan ditembak. Aku memutuskannya pada malam hari. Aku tidak bercerita kepada siapa pun bahwa aku pergi, kecuali hanya bapak dan ibuku. Itu momen yang sangat sulit. Aku taktahu apa yang harus kukemas. Aku pun tidak tahu apakah aku akan kembali atau di mana aku akan berakhir. Aku hanya membawa tas dengan laptop dan satu foto timku. Aku tidak membawa perlengkapan sepak bolaku. Aku tidak membawa apa-apa lagi.

“Aku tidak punya waktu untuk bertemu teman-teman timku, mereka tidak tahu mengapa tiba-tiba aku menghilang. Untuk waktu yang sangat lama, aku tidak bercerita kepada mereka apa yang sebenarnya telah terjadi terhadapku. Aku tidak mau mereka menyerah karena mereka selalu memandangku sebagai seorang pemimpin, seorang berpengaruh yang berpihak kepada mereka.”

Khalida meninggalkan Ibu Kota Afghanistan, Kabul, menuju India. Ia tinggal di bawah radar selama beberapa bulan. Senantiasa berpindah-pindah dan takut ditemukan, lalu dikirim kembali ke Afghanistan karena tidak memiliki visa. Luar biasanya, ia masih dapat mengatur pertandingan untuk tim nasional, meyakinkan mereka bahwa semuanya baik-baik saja, meskipun ia menghilang tiba-tiba.

Lalu, ia dapat pergi ke pusat suaka di Norwegia, lalu ke pusat suaka yang lain di Denmark. Setelah hampir satu tahun di pengungsian, ia pun mendapat tempat tinggal.

“Aku bukan lagi diriku yang dulu. Aku katakan kepada diriku berkali-kali, aku tidak mau mengakhiri hidupku di pusat suaka di Denmark ini, bukanlah tujuanku. Aku merasa seperti seekor burung di dalam sangkar. Aku sangat sedih. Aku berhenti berbicara kepada siapa pun. Aku bermimpi seseorang datang, aku bermimpi mereka mengirimku kembali. Aku merindukan timku, gadis-gadis itu, aku dapat mendengar suara mereka memanggil namaku dan tertawa. Ini sungguh sulit bagiku.”

Kesempatan bermain untuk tim lokal gagal karena ia cedera lutut. “Secara serentak, aku kehilangan segalanya. Aku kehilangan negeriku, identitasku, aku berada di sebuah pusat suaka, aku kehilangan keluargaku, aku tidak dapat bermain. Aku merasa seperti boneka yang menggantung di udara. Aku tidak dapat terbang ke langit, namun juga tidak dapat mendarat ke tanah.”

Dengan bantuan seorang psikiater dan (obat-obat) antidepresan, kondisinya berangsur berubah. Ia mulai berenang dan bersepeda. Bekerja bersama wanita-wanita yang lain di pengungsian, ia menggiatkan mereka berolahraga agar merasa lebih baik, berfokus dan berusaha berpikir sesuatu yang lain daripada memikirkan situasi mereka. Hingga ia mendirikan organisasi, Girl Power.

“Saat aku sakit di pusat suaka, aku melihat wanita-wanita yang memiliki situasi yang lebih buruk dariku dan aku mau menolong mereka. Aku mengajak mereka berjalan ke luar, bermain sepak bola dan kukatakan kepada mereka, ‘Tendang bolanya.’ Mereka berlari mengejar bola, menendangnya dengan kaki tanpa alas atau sandal.”

Girl Power mengumpulkan relawan instruktur berbagai olahraga untuk membantu para pengungsi dan membangun jembatan antara mereka dan warga lokal Denmark. “Olahraga adalah alat yang bagus untuk memecahkan es dan membantu para wanita semakin percaya diri,” jelas Khalida.

Khalida pun merekrut para pelatih dari Amerika Serikat (AS) yang pernah bermain di tim sepak bola wanita level atas hingga mereka menjadi pelatih di AS. “Kami tidak dapat melanjutkan di Amerika karena sang presiden menentang Muslim dan para pengungsi,” katanya. “Jika orang-orang di negeriku, para pembenci itu, tidak dapat menghentikanku, Donald Trump atau [bahkan] seratus Trump pun tidak akan dapat menghentikanku,” tegasnya dengan senyum sinis. Ia sudah siap mengelola sesi latihan di Asia pada akhir tahun.

Tahun lalu, ia bekerja pada Hummel–produsen pakaian olahraga Denmark yang mensponsori tim-tim Afghanistan–mendesain hijab pertama yang digunakan untuk bermain sepak bola. “Ini untuk mengubah pola pikir, olahraga tidak menentang agama atau budaya, ini untuk memberikan kesempatan kepada para wanita yang mau mengenakan hijab dan bermain sepak bola.”

“Aku senang masih terlibat dalam sepak bola wanita dan senang masih dapat melakukan sesuatu untuk negeriku yang jauh bermil-mil. Aku bermain sebagai pemain bertahan. Itu yang kupikirkan, kepribadianku, untuk melindungi para wanita, untuk mempertahankan timku, untuk memperjuangkan genderku,” ungkap Khalida.

Sementara itu, Khalida akan memulai kursus manajemen olahraga bersertifikat dan menetapkan tujuan bekerja pada PBB atau FIFA. Ia sudah mengatakan kepada presiden FIFA, Gianni Infantino, ia yakin persamaan dapat dibawa ke arena internasional.

Didukung oleh kedua orang tuanya pada setiap langkah perjalanan luar biasanya. Khalida mencintai dan menghormati ibu dan bapaknya yang kini tinggal bersamanya di Denmark. “Aku tidak menyangka bahwa nanti aku akan memiliki anak, tetapi jika aku memiliki seorang putri, aku akan membiarkannya memilih ia mau menjadi apa. Aku akan membelikannya mainan yang ia mau. Aku tidak akan mengatakan kepadanya, ‘kamu seorang perempuan, mainan ini yang cocok untukmu, yang itu tidak pantas.’ Aku akan memberikannya mainan sepak bola dan boneka, lalu membiarkannya memilih.” (ais)

Sumber: the Guardian

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita