Kamis, 24 September 2020

Pemain Sepak Bola Wanita Afghanistan Harus Hijrah

Pemain Sepak Bola Wanita Afghanistan Harus Hijrah

Mantan kapten tim sepak bola wanita Afghanistan, Khalida Popal, bersama seorang anggota tim, Shabnam Mabarz, yang mengenakan pakaian dari kepala hingga kaki dengan hijab terintegrasi. (Jan M. Olsen/AP)

København, Swamedium.com — Khalida Popal merupakan pemimpin tim sepak bola wanita Afghanistan, tetapi harus melarikan diri karena ancaman kematian. Kini, Khalida tinggal di Denmark, menentang presiden Amerika Serikat (AS), dan membantu para wanita mendapatkan kepercayaan diri melalui olahraga.

Khalida Popal (29) berisiko menjadi pemimpin tim sepak bola wanita Afghanistan. “Kadang-kadang aku masih bermimpi buruk,” lirihnya. “Para pria berdiri, melihatiku, dan menertawakanku atau ketakutan bahwa mereka akan memperkosaku.”

Sudah enam tahun sejak Khalida harus meninggalkan keluarga dan Tanah Airnya. Kehidupan dan keamanan dirinya terancam karena negerinya merupakan salah satu tempat paling berbahaya bagi kaum hawa.

Khalida belajar berolahraga sejak masih kecil dari ibunya yang seorang guru olahraga. Ibunya menanamkan keyakinan bahwa sepak bola dan olahraga yang lain tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membugarkan dan baik untuknya.

Banyak pihak keberatan selama ia mengampanyekan agar para gadis dapat berolahraga. Sebagiannya ialah para bapak dan pemuda. Mereka tidak membayangkan putri atau saudara perempuan mereka bermain sepak bola, bahkan mereka menganggap yang melakukannya sebagai wanita tunasusila dan perempuan jalang karena menodai nama baik keluarga dan budaya mereka.

Dengan kepopulerannya, kesuksesan timnya, dan posisinya di asosiasi sepak bola nasional, ia menjadi target yang mudah dikenali. Saat berjalan kaki, ada yang melemparinya dengan sampah. Ada pula yang menghardiknya melalui telepon. Tidak hanya membahayakan keamanan dirinya, tetapi juga semua yang dekat dengannya.

Ia mengenang, “Masalahku bukanlah Taliban bersenjata, bertali, berjubah dan bersepatu bot, melainkan orang-orang bermental (oknum) Taliban yang melawan para wanita dan suara mereka (yang tidak sopan dan kasar).”

Akhirnya, ia sadar dirinya tidak punya pilihan. “Kupikir aku harus pergi. Kalau tidak, aku akan ditembak. Aku memutuskannya pada malam hari. Aku tidak bercerita kepada siapa pun bahwa aku pergi, kecuali hanya bapak dan ibuku. Itu momen yang sangat sulit. Aku taktahu apa yang harus kukemas. Aku pun tidak tahu apakah aku akan kembali atau di mana aku akan berakhir. Aku hanya membawa tas dengan laptop dan satu foto timku. Aku tidak membawa perlengkapan sepak bolaku. Aku tidak membawa apa-apa lagi.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.