Selasa, 29 September 2020

Atap Sulawesi Kami Datang: Rante Mario 3.478 mdpl (Bagian 1)

Atap Sulawesi Kami Datang: Rante Mario 3.478 mdpl (Bagian 1)

Enrekang, Swamedium.com — Semua carrier sudah dipacking (dikemas) rapi, mobil Elf carteran sudah datang, segera barang-barang bawaan disusun di dalam mobil. Pukul 08.00 WITA, kami pun meninggalkan Makassar menuju Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Hari ke 1
14.30 WITA, mobil berhenti di samping lapangan bola yang berseberangan dengan bangunan sekolah, tampak anak-anak berseragam Pramuka sedang latihan baris-berbaris. Hampir 7 jam sudah di dalam Elf menuju Pasar Baraka. Carrier segera diturunkan, perjalanan dilanjutkan berjalan kaki menuju sekretariat KPA Lembayung. Pak Dadang sebagai tuan rumah menyambut kami ramah, mempersilakan tim untuk beristirahat dan bersih-bersih.

Hari ke 2
Pagi yang cerah, geliat warga desa yang hilir mudik untuk berkebun dan berdagang mewarnai hari ini. Suara raungan truk berisi semen dan pasir mendekat ke tempat kami yang sudah bersiap-siap merapikan carrier masing-masing. “Ayo, ji, naikkan rangsel kita ke mobil,” teriak om Jhon, senior Mapala STIEM Bongaya-Makassar, yang menemani perjalanan kami untuk mendaki Pegunungan Latimojong. Rupanya truk ini nanti yang akan mengantar tim kami menuju Desa Karangan, desa terakhir di kaki Pegunungan Latimojong. Truk tanpa dinding dan atap, hanya tiang-tiang plat besi di kiri-kanan sebagai penahan dan pembatas. Carrier berbaris rapi diikat dengan tambang, dan kita pun satu per satu mulai berlompatan ke dalam truk dan duduk sekenanya di atas karung-karung pasir dan semen.

10.00 WITA, Bismillah… “Gas, mi… hajaaarrr…” teriak bang Mail, anggota Mapala STIEM Bongaya-Makassar, dari atap truk memulai perjalanan meninggalkan sekretariat KPA Lembayung, Baraka.

Rute hari ini: Desa Baraka–Desa Rante Lemo–Desa/Dusun Karangan.

Perjalanan menuju Dusun Rante Lemo layaknya pengarungan (arung jeram), banting kiri-kanan, naik-turun di jalan tanah berlumpur membelah punggungan bukit berbukit, sebelah kiri jalan dinding batu, di kanan jalan jurang lumayan dalam. “Mainkan bang… mainkan…” canda bang Mail. “Yuuhuuu… gaaas teruus…” teriak kami ke sopir truk yang susah payah mengendalikan mobilnya yang amblas di jalan tanah. Mobil tak bergerak, suara mesin mobil menderu-deru, ternyata salah satu ban mobil amblas cukup dalam di jalan tanah. Kami semua turun dari truk, berusaha membantu mendorong mobil supaya bisa terbebas dari jebakan lubang jalanan.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.