Rabu, 20 Januari 2021

Atap Sulawesi Kami Datang: Rante Mario 3.478 mdpl (Bagian 1)

Atap Sulawesi Kami Datang: Rante Mario 3.478 mdpl (Bagian 1)

Enrekang, Swamedium.com — Semua carrier sudah dipacking (dikemas) rapi, mobil Elf carteran sudah datang, segera barang-barang bawaan disusun di dalam mobil. Pukul 08.00 WITA, kami pun meninggalkan Makassar menuju Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Banner Iklan Swamedium

Hari ke 1
14.30 WITA, mobil berhenti di samping lapangan bola yang berseberangan dengan bangunan sekolah, tampak anak-anak berseragam Pramuka sedang latihan baris-berbaris. Hampir 7 jam sudah di dalam Elf menuju Pasar Baraka. Carrier segera diturunkan, perjalanan dilanjutkan berjalan kaki menuju sekretariat KPA Lembayung. Pak Dadang sebagai tuan rumah menyambut kami ramah, mempersilakan tim untuk beristirahat dan bersih-bersih.

Hari ke 2
Pagi yang cerah, geliat warga desa yang hilir mudik untuk berkebun dan berdagang mewarnai hari ini. Suara raungan truk berisi semen dan pasir mendekat ke tempat kami yang sudah bersiap-siap merapikan carrier masing-masing. “Ayo, ji, naikkan rangsel kita ke mobil,” teriak om Jhon, senior Mapala STIEM Bongaya-Makassar, yang menemani perjalanan kami untuk mendaki Pegunungan Latimojong. Rupanya truk ini nanti yang akan mengantar tim kami menuju Desa Karangan, desa terakhir di kaki Pegunungan Latimojong. Truk tanpa dinding dan atap, hanya tiang-tiang plat besi di kiri-kanan sebagai penahan dan pembatas. Carrier berbaris rapi diikat dengan tambang, dan kita pun satu per satu mulai berlompatan ke dalam truk dan duduk sekenanya di atas karung-karung pasir dan semen.

10.00 WITA, Bismillah… “Gas, mi… hajaaarrr…” teriak bang Mail, anggota Mapala STIEM Bongaya-Makassar, dari atap truk memulai perjalanan meninggalkan sekretariat KPA Lembayung, Baraka.

Rute hari ini: Desa Baraka–Desa Rante Lemo–Desa/Dusun Karangan.

Perjalanan menuju Dusun Rante Lemo layaknya pengarungan (arung jeram), banting kiri-kanan, naik-turun di jalan tanah berlumpur membelah punggungan bukit berbukit, sebelah kiri jalan dinding batu, di kanan jalan jurang lumayan dalam. “Mainkan bang… mainkan…” canda bang Mail. “Yuuhuuu… gaaas teruus…” teriak kami ke sopir truk yang susah payah mengendalikan mobilnya yang amblas di jalan tanah. Mobil tak bergerak, suara mesin mobil menderu-deru, ternyata salah satu ban mobil amblas cukup dalam di jalan tanah. Kami semua turun dari truk, berusaha membantu mendorong mobil supaya bisa terbebas dari jebakan lubang jalanan.

12.00 WITA, truk yang membawa kami tiba di Desa Rante Lemo, suara gonggongan anjing bersautan, menandakan ada tamu/pendatang. Pasir dan semen pun diturunkan di sebuah rumah yang sedang dibangun, setelah istirahat beberapa menit, kami pun melanjutkan “pengarungan darat” menuju Dusun Karangan. Menyeberangi aliran sungai, menanjak, berkelok-kelok dengan pemandangan pegunungan yang masih asri. Tiga jam berselang truk yang kami tumpangi mulai memasuki desa terakhir. Ya, kami telah tiba di Desa Karangan. Tampak rumah panggung tinggi mendominasi bentuk rumah di desa ini. Meskipun akses menuju lokasi masih rusak, aliran listrik telah menjamah hampir seluruh rumah.

16.00 WITA, carrier sudah pindah dari truk ke rumah Pak Dusun, basecamp pendaki yang terletak persis bersebelahan dengan masjid. Hari ini tim bermalam di desa ini, mengumpulkan tenaga untuk memulai pendakian esok hari, Latimojong kami datang kepadamu!!!

Hari ke 3
07.30 WITA, pemanasan dimulai, peregangan otot-otot leher, tangan, pundak, pinggang, dan kaki. Hari yang cerah untuk sebuah pendakian. Do’a dipanjatkan, teriakan semangat, dan saling memotivasi mengisi pagi yang cerah ini.

09.00 WITA, kami pun mulai pergerakan menuju punggungan-punggungan Latimojong. Track awal berjalan menyusuri kebun-kebun kopi dan cengkeh milik para penduduk, dengan medan berbukit-bukit, di lembah sebelah kiri tampak Sungai Karangan mengalir deras. Setelah melewati dua aliran air, kami dihadapkan pada sebuah bukit dengan medan cukup terjal, panas semakin terik membakar kulit, keringat mengalir deras dengan beban di pundak menapaki bukit terbuka, napas mulai tersengal karena debu-debu yang naik beterbangan. ——- Bersambung ——-

Sebuah Catatan Harian
ATAP SULAWESI KAMI DATANG: RANTE MARIO 3.478 MDPL (Bagian 1)
Ditulis untuk swamedium.com
Mang Ucuy dan Tim UKM Dharmapala APP

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita