Selasa, 19 Januari 2021

Tunda Laporkan Pelanggaran HAM Asosiasi Sepak Bola Israel, FIFA Tuai Kecaman

Tunda Laporkan Pelanggaran HAM Asosiasi Sepak Bola Israel, FIFA Tuai Kecaman

Ilustrasi: Konflik dua anggota FIFA, IFA dan PFA.

Ramallah, Swamedium.com — Hampir enam bulan setelah FIFA Monitoring Committee Israeli-Palestine menyampaikan rekomendasinya atas sepak bola di region itu, lembaga-lembaga HAM meningkatkan perhatiannya terhadap kegagalan komite tersebut dalam menyelesaikan status enam tim sepak bola kolonialis Israel yang bermarkas di teritori Palestina.

Banner Iklan Swamedium

Komite yang berdiri pada Mei 2015 dan bertugas menyampaikan berbagai keluhan bangsa Palestina, termasuk tim-tim sepak bola kolonialis Israel yang bermarkas di teritori Palestina, memiliki masa akhir mandat sampai kongres FIFA pada Mei 2017.

Presiden asosiasi sepak bola Palestina (PFA), Jibril Rajoub, mengatakan bahwa dirinya tidak mengerti penundaan berbulan-bulan itu. Ia menggambarkannya sebagai “kesalahan fatal”.

Biarpun begitu, Jibril menyatakan kepada Al Jazeera bahwa penting juga untuk menyelesaikan proses itu bersama komite pengawas tersebut. PFA mengatur pertemuan dengan komite pengawas itu pada Rabu (22/3), yang akan menjadi rapat terakhir menjelang kongres FIFA.

“Sekarang, kami punya pertemuan terakhir dan kami harus menjelaskan posisi kami. Jika mereka akan mengatasi persoalan ini, itu bagus. Jika tidak, kami tidak punya pilihan lain; kami akan pergi ke kongres Mei nanti di Bahrain dan menuntut pemberian sanksi untuk federasi Israel,” tegas Jibril.

Enam tim sepak bola itu bermarkas di permukiman yahudi di seluruh Tepi Barat. Keenamnya adalah Kiryat, Arba, Givat Zeev, Maaleh Adumim, Ariel, Oranit, dan Tomer.

Bangsa Palestina dan komunitas internasional telah menegaskan bahwa permukiman kolonialis Israel dibangun di tanah bangsa Palestina, melanggar hukum internasional, dan merupakan rintangan besar bagi solusi mengatasi konflik warga kolonialis Israel dan bangsa Palestina.

Rezim kolonialis Israel membantahnya dengan menyatakan permukiman yang didebatkan itu dibangun di Area C Tepi Barat, sehingga tidak melanggar hukum. Menurut Persetujuan Oslo, kolonialis Israel menguasai Area C–Area A dan Area B Tepi Barat merupakan teritori Palestina.

Sementara itu, dewan keamanan PBB menyampaikan resolusi pada Desember 2016 yang menegaskan kembali tentang pelanggaran hukum permukiman kolonialis Israel di tanah bangsa Palestina.

Dalam kasus enam tim sepak bola bermarkas di permukiman itu, PFA mendakwa asosiasi sepak bola Israel (IFA) melanggar statuta atau anggaran dasar FIFA karena mengadakan kompetisi di teritori anggota asosiasi yang lain tanpa izin.

Dalam laporan yang terbit pada September 2016, Human Rights Watch menyatakan, “dengan membiarkan IFA menyelenggarakan pertandingan di permukiman itu, FIFA mempertandingkan aktivitas bisnis yang mendukung pemukiman Israel, bertentangan dengan komitmen HAM yang telah FIFA tegaskan.”

Sari Bashi, direktur advokasi Human Rights Watch, mengungkapkan perhatian terhadap penundaan tersebut dan menyerukan FIFA agar berhenti mendukung pertandingan di permukiman itu.

“Statuta FIFA sudah jelas. Dan FIFA baru-baru ini menegaskan kembali komitmennya untuk memenuhi tanggung jawab HAM-nya. Itulah posisi Human Rights Watch. Dengan membiarkan klub-klub ini bermain di permukiman, FIFA berkontribusi dalam pelanggaran HAM berat,” tegas Sari.

FIFA menolak berkomentar tentang perkembangan komite pengawas, tetapi komite itu sepertinya akan menyampaikan rekomendasinya pada pertemuan terakhir bersama PFA dan IFA nanti.

Sebelum pertemuan itu, koalisi organisasi-organisasi HAM Palestina dan internasional mengecam kegagalan FIFA dalam bertindak perihal klub-klub yang bermarkas di permukiman, dan mendakwa badan sepak bola dunia itu tunduk pada tekanan politik untuk melemahkan rekomendasinya dalam laporan yang FIFA susun.

“Komite itu telah berada di bawah tekanan kuat dari rezim Israel agar melunakkan rekomendasinya untuk mengecualikan klub-klub permukiman itu dari liga resmi Israel. Penundaan [presiden FIFA, Gianni] Infantino dalam menerbitkan laporan itu menunjukkan bahwa ia tidak hendak mendukung penggertakan terhadap Israel,” ungkap Sharaf Qutaifan dari Palestinian Campaign for the Cultural and Academic Boycott of Israel.

Jika laporan komite pengawas ditunda hingga kongres FIFA Mei nanti, yang akan membahas segala persoalan dari berbagai hal, itu akan melemahkan efek laporan dan mengurangi kemungkinan suara secara signifikan pada kongres, kata Sharaf. (ais)

Sumber: Al Jazeera

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita