Jumat, 22 Januari 2021

Bisnis Hotel Syariah Magnit di Industri Perhotelan

Bisnis Hotel Syariah Magnit di Industri Perhotelan

Jakarta, Swamedium.com – Lebih dari satu dasawarsa terakhir, setiap bisnis yang mengusung konsep syariah selalu mendapatkan respon positif dari masyarakat. Tak terkecuali, bisnis hotel syariah yang kini menjadi magnet ditengah ketatnya persaingan di industri perhotelan.

Banner Iklan Swamedium

Meningkatnya kesadaran umat Islam untuk menjalankan kehidupan sesuai tuntunan syariah, termasuk saat memilih hotel, memunculkan segmen pasar tersendiri. Salah satu contoh pengusaha yang imejnya melekat dengan bisnis hotel syariah adalah Riyanto Sofyan, Chairman PT Hotel Sofyan Syariah. Meski saat awal mendirikan hotel syariah, Riyanto Sofyan hanya berpikir untuk menjalankan usaha yang halal sesuai tuntunan agama Islam, ternyata hasilnya juga menguntungkan.

Perubahan konsep bisnis hotel konvensional ke hotel syariah ini dimulai sekitar tahun 1999. Saat itu, tentu orang sulit untuk membayangkan bisa sukses mengelola bisnis hotel dengan prinsip syariah. Kebanyakan orang justru bertanya-tanya,“Hotel kok pilih-pilih tamu, tidak ada klub malam dan tidak ada alkohol.Apa bisa?”

Namun kejeliannya dalam membidik segmen tamu yang ingin ketenangan saat menginap, membuat reposisi bisnis dari konvensional ke syariah justru berbuah manis. Mereposisi bisnis di saat kinerjanya sedang berjaya diakuinya sulit dipahami oleh banyak pihak, bahkan sang ayah sendiri, almarhum Doktor Sofyan Ponda. Apalagi, Riyanto Sofyan melakukan perubahan secara drastis.Target pasar hingga segmentasi pasar dari bisnis hotelnya berubah total, yang semula mengunakan cara-cara bisnis konvensional menjadi mengikuti prinsip ekonomi syariah. Pemahaman sederhananya, hotelnya tak lagi menyediakan minuman keras, klub malam hingga selektif dalam menerima tamu. Tamu yang bukan pasangan suami isteri juga tidak akan diterima bila menginap dalam satu kamar.

Tindakan peraih Master of Business Administration dari Europian University, Belgium ini awalnya memang ditentang sang ayah. “Kamu kemasukan fanatisme. Apa yang salah dengan bisnis kita. Tidak mencuri, tidak korupsi, tidak menerima fasilitas pemerintah,” kata Sofyan Ponda saat itu.

Memang sesuai paradigma bisnis konvensional, diakuinya tidak ada yang salah dalam cara-caranya berbisnis. Namun Riyanto bertekad mencari harta dengan cara tidak melanggar aturan agama Islam yang dipeluknya.

Awalnya, keluarga dan karyawan khawatir perubahan bisnis itu akan membuat pendapatan perusahaan merosot. Bahkan, bisnis hotelnya dikhawatirkan ambruk. Tapi, dia berkeyakinan perubahan konsep bisnis itu akan berhasil. Makanan sampah (Junk food) yang dijual restoran waralaba asing saja, bila dicitrakan bagus harganya bisa mahal, apalagi ajaran Islam yang baik.

Segmen pasar hotel syariah adalah tamu yang datang untuk tujuan istirahat atau urusan bisnis, yang membutuhkan tempat yang bersih, nyaman dan aman.Dengan menjadi hotel syariah, ayah empat anak ini juga membuktikan kalau pelanggannya justru bertambah lebih banyak. Pelanggan Hotel Sofyan tak hanya orang Islam, orang lokal, bahkan orang asing.

Menurut Sofyan, tantangan bisnis hotel syariah, benang merahnya sama dengan yang konvensional, yaitu pelayanan atau akomodasi. Meski syariah, pelayanan yang bagus tetap menjadi tuntutan konsumen.

Bukan Pertama

Hotel Sofyan sebenarnya bukan hotel syariah pertama di Indonesia. Tahun 1994, ungkapnya, di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, sudah ada satu hotel kecil yang menerapkan prinsip syariah. Bedanya, hotel itu tidak go public, sementara Hotel Sofyan, hotel syariah pertama yang mencatatkan saham di bursa.

Hotel Sofyan berdiri sekitar tahun 1970 di daerah Menteng dan Gondangdia, Cikini Jakarta. Tahap awal dimulai dengan 20 kamar tidur. Hotel tersebut masih dikelola secara konvensional. Bahkan, Hotel Sofyan saat itu memiliki citra kurang baik, disebut hotel “esek-esek.”

Perubahan konsep hotel terjadi setelah Riyanto Sofyan mengelola hotel itu. Tahun 1981, seusai Riyanto Sofyan meraih gelar teknik komputer di University Of Miami, AS, sang ayah yang sedang sakit keras memaksanya pulang untuk mengelola hotel. Padahal, dia saat itu sudah mendapatkan pekerjaan di AS yang gajinya lumayan besar.

Riyanto tidak langsung dipercaya menjabat direktur. Awal kerja di hotel, dia dipekerjakan sebagai waitress, tukang cuci piring, pembersih toilet, house keeping, room boy, dan jabatan lainnya berganti-ganti setiap dua pecan sekali sampai delapan bulan lamanya. “Tujuannya agar saya paham bisnis hotel. Saat itu saya menjadi pembantu bergaji termahal, karena gaji saya 3.000 dollar AS per bulan,” ujarnya saat itu sembari tertawa.

Baru tahun 1987, dia diangkat sebagai direktur, sementara direktur utama masih dipegang ayahnya. Selanjutnya, tahun 1989, dia menjabat direktur utama sekaligus yang membawa Hotel Sofyan menjadi perusahaan publik. “Waktu itu tahun 1989 belum krisis, lagi bagus-bagusnya. Kita waktu go public kan oversubscribe sampai 300 persen. Statusnya masih hotel konvensional,” paparnya.

Perusahaannya saat itu juga memiliki Hotman Bar di Menteng, yang namanya sedang meroket. Tapi, dia sudah berkomitmen untuk mengubah konsep bisnisnya sesuai syariah sehingga bar itu dijual. Kemudian, tahun 1994 sampai 1997, dia melaksanakan program pengkondisian kepada karyawan dan tamu, karena paradigma syariah tahun tersebut belum seperti sekarang. Saat itu, dia dikatakan gila, mau membuat hotel atau masjid.

Berbagai pelatihan menerapkan syariah termasuk menyeleksi tamu sesuai prinsip syariah yang penerapannya diawasi oleh Dewan Syariah Nasional diberikan kepada jajaran karyawannya. Secara bertahap dia melakukan perubahan. Tempat hiburan malam diubahnya menjadi tempat meeting, minuman keras diganti dengan minuman halal, dan lainnya. Pencitraan baru bisnis hotelnya itu membuahkan hasil. Pendapatan hotel justru terus meningkat.

Selain itu, kata Sofyan, waktu reposisi bisnis juga tepat karena tak lama kemudian, krisis ekonomi mendera Indonesia. Satu dollar AS yang semula bisa dibeli 2.000 rupiah melonjak sampai lebih 15.000 rupiah sehingga harga minuman keras yang masih harus diimpor juga menjadi mahal.

Ternyata, menjalankan bisnis sesuai syariah berbuah manis. Kelompok usaha Sofyan, kini juga merambah beragam bisnis mulai dari perhotelan, perkantoran, travel hingga menjual jasa konsultan manajemen hotel dan investasi properti melalui anak usaha PT Sofyan Reksagraha dan PT Arva Paramaniaga. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita