Rabu, 12 Mei 2021

Amnesti Pajak Ditutup 31 Maret, Orang Kaya Masih Banyak yang Mangkir

Amnesti Pajak Ditutup 31 Maret, Orang Kaya Masih Banyak yang Mangkir

Jakarta, Swamedium.com – Meski pemerintah sudah berbaik hati mengeluarkan program pengampunan pajak, banyak orang kaya yang selama ini memarkir dananya di luar negeri masih enggan untuk jujur dengan kepemilikan hartanya dan membayar pajak. Terbukti, program amnesti pajak yang akan ditutup pada 31 Maret 2017, bisa dipastikan tidak mencapai target.

Banner Iklan Swamedium

Hingga 9 hari sebelum program tahap akhir ini ditutup , Dashboard Amnesti Pajak yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan baru menunjukkan realisasi dana tebusan sebesar Rp108 triliun atau sekitar 65% dari target Rp165 triliun.

Realisasi lebih memprihatinkan terjadi pada dana repatriasi atau harta yang dialihkan dari luar negeri ke dalam negeri, yang baru sebesar Rp145 triliun atau hanya 14,5% dari ekspektasi awal Presiden Joko Widodo yang optimistis bisa mencapai Rp1000 triliun. Nilai dana repatriasi itu pun masih dalam bentuk komitmen, yang realisasinya biasanya lebih kecil. Pencapaian tersebut, tentu jauh dari harapan saat awal program ini dicanangkan oleh presiden.

Dari sisi jumlah peserta yang ikut program pengampunan pajak juga jauh dari harapan. Menkeu. Sri Mulyani mengharapkan peserta amnesti pajak bisa mencapai 2 juta orang. Tetapi, realisasinya diperkirakan tidak mencapai 10 ribu orang. Sampai Februari 2017, pesertanya tercatat baru 6.593 orang.

Indikasi tidak tercapainya target amnesti pajak itu sudah terlihat sejak pelaksanaan program tahap kedua yang berakhir Desember tahun lalu. Sinyal tidak akan mencapai target semakin jelas jelang akan berakhirnya keseluruhan program itu pada 31 Maret 2017.

Melihat indikasi kegagalan itu,pemerintah tidak tinggal diam, bahkan makin agresif dalam menjaring wajib pajak (WP). Terbukti, amnesti pajak yang niat awalnya untuk membawa masuk dana WNI yang parkir di luar negeri, akhirnya justru menyasar ke seluruh rakyat tanpa terkecuali. Para ibu rumah tangga hingga pensiunan pun menjadi bingung, kasak-kusuk, takut dibilang menyembunyikan pajak. Padahal, amnesti pajak seharusnya untuk yang melakukan penghindaran pajak. Dan, yang biasa menghindari pajak adalah yang banyak uang.

Tak heran, bila program amnesti pajak juga menimbulkan pro kontra. Mantan Politisi PDI-P dan Menteri Keuangan di era Gus Dur Kwik Kian Gie mengkhawatirkan program amnesti pajak ini hanya akan menjadi bahan mainan dari para pengemplang pajak apabila tidak diikuti dengan langkah rekonsiliasi sistem perpajakan nasional. Alasannya, amnesti pajak merupakan instrumen untuk pemberantasan kejahatan dibidang perpajakan, bukan alat untuk meningkatkan penerimaan negara.

“Pertanyaannya sekarang, apakah tax amnesty kita bersifat rekonsiliasi atau tidak. Artinya, mereka yang melakukan amnesti pajak ini harus dengan syarat, (berjanji) tidak melakukan pengemplangan pajak di kemudian hari,” tuturnya saat diskusi Tax Amnesty di Kwik Kian Gie School of Business.

Tampaknya, pengemplang pajak masih bernyali besar untuk menghindari pajak. Banyak yang tetap tidak memanfaatkan program amnesti pajak, sehingga Presiden Jokowi mengancam dengan jurus baru, yaitu Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpuu) terkait transparansi harta. Mulai Juni 2018, kata Presiden, siapapun tidak bisa lagi menyembunyikan hartanya di dalam, maupun di luar negeri untuk menghindari pajak.

“Ini sudah tandatangan semua negara. Kalau Perppu itu tidak saya keluarkan, dikucilkan kita. Dianggap negara yang tidak kredibel, dianggap negara ecek-ecek. Tidak mau, kita ingin dipercaya, kita membangun trust itu di dunia internasional,” tegasnya.

Senada dengan Presiden, Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiaseteadi juga menyatakan akan mengambil langkah keras melalui penegakan hukum dan pengetatan peraturan pajak setelah program amnesti pajak ini berakhir.

Menurut Kwik, amnesti pajak tidak lazim menjadi alat untuk meningkatkan penerimaan negara. Tetapi, faktanya pemerintah mengharapkan dana amnesti pajak ini bisa menutupi bolong APBN-P 2016 yang angkanya dinilai ambisius.

Lantas, apa yang akan terjadi jika program amnesti pajak tidak capai target? Tentu saja, akan terjadi defisit anggaran lebih besar lagi. Ibarat rumah tangga, kalau penghasilan minus, apa yang akan dilakukan keluarga itu untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya?Bisa dengan cara berutang, memotong anggaran (efisiensi) atau menaikkan rasio  defisit anggaran dari 2,5% yang diatur undang-undang menjadi lebih besar lagi.

Tambah Utang

Menkeu Sri Mulyani sudah mengambil langkah hati-hati dengan melakukan pemangkasan anggaran diberbagai departemen. Bila anggaran dipangkas, sudah pasti banyak program yang sudah direncanakan bakal direvisi ulang atau tertunda pelaksanaannya.

Bila dengan pemangkasan anggaran masih tidak cukup, bisa dipastikan menambah utang lagi.  Menambah utang, mungkin itu cara yang lebih simpel.Bahkan, banyak negara atau lembaga keuangan asing yang masih bersedia memberikan utang ke Indonesia. Perlu diketahui, per Januari 2017, utang luar negeri Indonesia sudah mencapai 320,28 miliar dollar AS atau kira-kira setara Rp4.274 triliun.

Dalam ajaran Islam, utang merupakan kegiatan muamalah yang dibolehkan, tetapi harus ekstra hati-hati dalam melakukannya. Sebab, utang bisa mengantarkan seseorang ke surga, tetapi bisa juga sebaliknya, yaitu menjerumuskan kita ke neraka. Masih mau berutang lagi? Kedaulatan negara bisa jadi taruhannya.

Kalau bisa memilih, tentu kita tidak ingin menambah utang. Saat kampanye dulu pun, Presiden Jokowi dalam salah satu janjinya justru akan mengurangi utang, bukan menambah utang. Akankah janji itu dipenuhinya, tentu fakta nanti yang akan berbicara.

Dalam situasi ekonomi yang sulit, tidak boros dalam belanja negara dan mendorong kemandirian ekonomi (berdikari) adalah pilihan terbaik. Untuk memotivasi rakyatnya hidup hemat, almarhum Presiden Soeharto pernah mencanangkan gerakkan untuk mengencangkan ikat pinggang. Barangkali, gerakkan itu relevan untuk dimunculkan kembali. Mari kita kencangkan ikat pinggang yang sudah kencang ini!! (maida)

Banner Iklan Swamedium

 

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita