Minggu, 07 Juni 2020

Minim Lapangan Kerja, Kinerja Ekonomi Jokowi Tak Memuaskan

Minim Lapangan Kerja, Kinerja Ekonomi Jokowi Tak Memuaskan

Foto: Pertumbuhan ekonomi di era Jokowi tak bisa menyerap banyak tenaga kerja. Bahkan PHK marak diberbagai industri. (ist)

Jakarta, Swamedium.com– Pengamat ekonomi politik senior Umar Juoro menyikapi hasil kinerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) di bidang ekonomi selama 2,5 tahun ini dianggap belum memuaskan. Salah satu yang paling penting dianggap publik adalah, lapangan pekerjaan yang masih terbatas.

“Di rezim ini kan banyak bangun infrastruktur. Tapi efeknya belum langsung bisa menyerap banyak lapangan kerja. Dan itu kekecewaan publik selama 2,5 tahun era Jokowi ini,” ungkap Umar di Jakarta, ditulis Kamis (23/3).

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi di era Jokowi ini tak bisa menyerap banyak tenaga kerja. Bahkan kalau pun ada yang terserap itu lebih banyak di sektor informal.

“Memang secara statitik, pengangguan jadi menurun. Tapi kan itu secara statistik. Karena faktanya belum banyak tersedia lapangan kerja. Justru yang mengkhawatirkan, mereka dapat kesematan kerja banyak di informal dengan upah mininimum,” ketus dia.

Menurutnya, isu-isu stategis dalam sektor perekonomian itu harus menjadi perhatian serius Jokowi-JK dalam 2,5 tahun mendatang. Karena, kata dia, sekalipun tingkat kepuasan masih di atas 50 persen, tapi jika tak ada perbaikan, publik akan semakin kecewa.

“Karena suara publik yang tak puas pun harus diperhatikan. Mereka masih mempermasalahkan kondisi ekonomi yang kurang baik seperti harga pangan yang masih tinggi dan tak tersedianya lapangan kerja,” cetus Umar.

Dalam hasil survey Indo Barometer soal Evaluasi Publik 2,5 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, ternyata ketidakpuasan terhadap rezim saat ini di sektor ekonomi cukup tinggi. Baik terhadap sosok Jokowi atau pemerintah secara umum.

Terhadap sosok Jokowi sendiri, kekecewaan publik karena masih adanya masalah seperti lapangan pekerjaan masih terbatas (14,3 persen), belum bisa mengatasi masalah ekonomi (9,2 persen), dan harga kebutuhan pokok mahal (8,7 persen).

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.