Senin, 18 Januari 2021

Belajar Sukses Kaya Dari Warga Tionghoa

Belajar Sukses Kaya Dari Warga Tionghoa

Jakarta, Swamedium – Harus diakui bahwa banyak orang China di Indonesia sukses di dunia bisnis maupun karir. Banyak sisi positif yang bisa orang pribumi pelajari dari cara-cara orang keturunan Tionghoa ini dalam menjemput rejeki, sehingga mereka bisa mencapai kesuksesan secara finansial.

Banner Iklan Swamedium

Kesuksesan warga keturunan ini bukan hanya isapan jempol. Majalah Forbes yang rutin setiap tahun melakukan pemeringkatan terhadap orang-orang terkaya di dunia maupun Indonesia, baru-baru ini kembali merilis Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia. Tahukah anda, dari 10 Orang Terkaya tersebut, 8 diantaranya adalah warga keturunan China. Siapa saja mereka?

  1. R. Budi Hartono (warga keturunan China).Pemilik Grup Djarum. Kekayaan US$9 miliar atau Rp119 triliun.
  2. Michael Hartono (warga keturunan China). Pemilik Grup Djarum. Kekayaan US$8,9 miliar atau Rp118 triliun.
  3. Sri Pakash Lohia, (warga keturunan India).Pemilik Indorama. Kekayaan US$5,4 miliar atau Rp71,9 triliun.
  4. Chairul Tanjung (WNI).Pemilik CT Corp.Kekayaan US$4,6 miliar atau Rp61,2 triliun
  5. Tahir (warga keturunan China).Pemilik Grup Mayapada.Kekayaan US$2,8 miliar atau Rp37,2 triliun.
  6. Murdaya Poo (warga keturunan China).Pemilik JI Expo Kemayorann dan Central Cipta Murdaya Group.Kekayaan US$2,1 miliar atau Rp27,9 triliun.
  7. Theodore Rachmat (warga keturunan China).Pemilik Adaro Group.Kekayaan US$1,9 miliar atau Rp25,3 triliun.
  8. Mochtar Riady (warga keturunan China).Pemilik Grup Lippo. Kekayaan US$1,9 miliar atau Rp25,3 triliun.
  9. Prajogo Pangestu (warga keturunan China).  Pemilik Grup Barito Pacific. Kekayaan US$1,8 miliar atau Rp23,9 triliun
  10. Peter Sondakh (warga keturunan China).Pemilik Grup Rajawali. Kekayaan US$1,7 miliar atau Rp22,6 triliun.

Melihat Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia tersebut semakin memperjelas bahwa kesenjangan ekonomi antara pribumi dan non pribumi memang luar biasa besar. Tetapi, jika kita mau bersikap fair, tentu kita juga harus mawas diri, mengapa mereka bisa lebih sukses daripada penduduk asli.

Di masa lalu, ketidakadilan ekonomi ini mungkin tanpa sengaja diciptakan oleh penguasa, yang memberikan keistimewaan seluas-luasnya pada nonpribumi untuk menjadi pengusaha dibandingkan pribumi. Alasannya, kalau nonpribumi tidak bakal melirik kekuasaan bila banyak uang. Sebaliknya, kalau yang sukses pribumi dikhawatirkan nantinya pengin berkuasa di pemerintahan.

Saat itu, pemerintahan Orde Baru merangkul nonpribumi di bisnis dengan memberikan berbagai fasilitas yang bisa mendukung usahanya menjadi besar, seperti kredit lunak, monopoli usaha dan diberi proyek-proyek oleh penguasa.Dengan kondisi serba diproteksi, tentu siapa pun itu bisa menjadi pengusaha sukses.

Setelah bisnisnya menggurita, tentu tidak mudah tergoyahkan oleh pribumi yang kini mencoba untuk membangkitkan perekonomiannya dengan berwirausaha dan merebut kue kemakmuran yang selama ini lebih besar dinikmati oleh warga keturunan.

Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya menyesali masa lalu. Mari pribumi bangkit di perekonomian dengan menjadi wirausaha karena, pintu rezeki 90 persen memang datang dari perniagaan. Jadi kalau mau banyak uang, belajarlah jadi pengusaha. Dan, negara yang memiliki wirausaha dalam jumlah banyak akan lebih cepat mencapai kemakmuran.

Tak bisa dibohongi, sebagai pribumi, kita memang miris melihat 90% Orang Terkaya adalah warga keturunan.Karena itu, mari kita belajar kesuksesan dari orang China. Kita bisa mempelajari rahasia sukses China dari karakter, cara bekerja/berbisnis, cara mengelola uang dan gaya hidup.

Karakter. Dari sisi karakter, sudah menjadi rahasia umum jika rata-rata orang China itu pekerja keras, rajin, dedikasi tinggi, ulet, disiplin, hemat, impian hidupnya tinggi dan tidak cepat berpuas diri. Motivasinya, untuk sukses secara finansial sangat besar. Karakter ini jarang dimiliki oleh pribumi. Kita terbiasa jam karet, cepat merasa sukses, tidak disiplin dan suka meremehkan pekerjaan-pekerjaan kecil. Padahal, kalau diserahi tanggungjawab kecil saja tidak beres, bagaimana kalau besar?

Cara Bekerja. Dalam berbisnis, orang China biasanya berusaha terus untuk menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Tujuannya, agar nanti kembali membeli barang di tokonya. Mereka memberi pelayanan bagus, tidak berlebihan dalam mengambil untung dan terbuka untuk dikomplain. Makanya, banyak yang nyaman belanja di toko China daripada pribumi/

Cara Mengelola Uang. Orang China dikenal pintar mengelola uang. Dia lebih suka membeli barang secara kontan daripada kredit, tidak suka pamer di penampilan (kecuali sudah kaya sekali) dan hemat membelanjakan uangnya.

Ketika orang China mendapat uang dari jerih payahnya, tidak lantas membuat mereka berpuas diri dan menggunakan uang itu untuk beli ini dan itu. Mereka begitu kuat menanamkan doktrin untuk selalu berinvestasi. Percaya atau tidak, mereka hanya menggunakan 20 – 30% uangnya untuk keperluan sehari-hari, dan selebihnya mereka gunakan untuk investasi lainnya dan menabung.Kebiasaan menabung sudah dibiasakan dari sejak kecil.

Menyinggung tentang pakaian dan penampilan bagi mereka itu adalah kebutuhan nomor 100. Beda jauh dengan gaya orang pribumi yang kebanyakan lebih mengedepankan penampilan dari pada kualitas diri. Kita bisa lihat ketika toko baju dipenuhi oleh pengunjung, hampir semuanya orang pribumi, tragisnya sang pemilik toko lagi-lagi orang china.

Gaya Hidup. Mereka akan memilih hidup sangat sederhana sebelum dirinya merasa sukses. Kawan saya sewaktu kuliah, dalam keseharian biasa makan bubur yang sudah dicampur dengan sayuran agar hemat. Mereka juga lebih suka memasak sendiri daripada jajan. Padahal, keluarganya salah satu pemilik toko furnitur besar di kotanya.

Hal itu tidak berlaku pada pribumi. Setelah gajian atau mendapatkan keuntungan, langsung belanja, makan-makan di restoran. Untuk sekedar refreshing ini sebenarnya bagus, namun jika ketagihan dengan masakan-masakan yang enak bisa gawat.

Sedangkan soal rumah, orang-orang china tidak akan tergesa-gesa untuk bisa membangun rumah yang bagus dengan segala perlengkapan yang serba mewah. Tapi tidak untuk orang Indonesia. Punya uang sedikit saja sudah tidak betah untuk bisa memiliki istana.

Ketiga alasan itulah yang menjadi sebab mengapa orang-orang china banyak yang sukses menjalankan bisnis, dan membuat mereka cepat kaya. Perlu kita ketahui satu hal bahwasannya kata kaya itu tidak bisa dilihat dari apa-apa yang tampak dari luar saja.

Kelihatannya punya rumah mewah dan mobil yang bagus tapi hutangnya banyak, kelihatannya berpakaian jas dan berdasi tapi ternyata pinjam, apa yang bisa dibanggakan dari semua itu?

Seperti ditulis BisnisUKM, Jack Ma bisa sangat populer dalam dunia bisnis butuh perjuangan panjang. Butuh bertahun-tahun bagi dia untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Percaya apa tidak, jika dulu Jack Ma sempat rugi selama dua tahun ketika pertama kali membangun toko online yang sekarang bernama Alibaba itu?

Dia memang sengaja untuk mementingkan kebutuhan dan pelayanan yang nyaman pada setiap pelanggan yang datang sekalipun dia harus tekor. Sekarang? Anda tahu sendiri bagaimana dia.

Dan,sebagai warga pribumi harusnya bisa mencontoh hal-hal positifnya.atau menirunya agar sukses. Jangan cuma bisa iri dengan kekayaannya, tapi tidak mau meniru kerja keras dan perjuangannya untuk sukses. (maida)

Banner Iklan Swamedium

 

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita