Senin, 17 Mei 2021

Atap Sulawesi Kami Datang: Rante Mario 3.478 mdpl (Bagian 2)

Atap Sulawesi Kami Datang: Rante Mario 3.478 mdpl (Bagian 2)

Foto: Trek awal berjalan menyusuri kebun-kebun kopi dan cengkeh milik para penduduk, dengan medan berbukit-bukit, di lembah sebelah kiri tampak sungai Karangan mengalir deras. (Nael/swamedium)

Enrekang, Swamedium.com — Track awal berjalan menyusuri kebun-kebun kopi dan cengkeh milik para penduduk, dengan medan berbukit-bukit, di lembah sebelah kiri tampak sungai Karangan mengalir deras, setelah melewati dua aliran air, kami dihadapkan pada sebuah bukit dengan medan cukup terjal, panas semakin terik membakar kulit, keringat mengalir deras dengan beban di pundak menapaki bukit terbuka, napas mulai tersengal karena debu-debu yang naik berterbangan.

Banner Iklan Swamedium

Sebelumnya: Atap Sulawesi Kami Datang: Rante Mario 3.478 mdpl (Bagian 1)

Hari ke 2
Pukul 10.00 WITA, kami pun tiba di Pos 1, lahan sempit yang terbuka di ketinggian 1.800 mdpl, tak ada tempat berteduh dari sengatan matahari. Segara flysheet kami gelar untuk tempat berteduh, teh manis hangat dan biskuit menjadi teman yang asyik untuk sedikit melepas lelah dan mengembalikan stamina.

“Ayo, bang Cuy, mainkan….” ucap om Jhon membuka perjalanan menuju Pos 2. Carrier sudah di pundak, masih jelas terlihat tanjakan di depan sebelum akhirnya memasuki hutan.

Setelah memasuki hutan, sengatan matahari sudah tak terasa, pohon-pohon tinggi membuat adem dan sejuk, tracknya pun cenderung landai. “Banyak “bonus”, nih, Abang-Abang….” teriak salah seorang anggota tim wanita dengan muka berseri-seri.

Selepas jalur landai, kami pun disuguhkan track menurun, tak jarang harus merambat di akar-akar pohon di igir-igir punggungan, licin sedikit berair. Suara aliran sungai yang membentuk air terjun kecil semakin jelas terdengar, menambah semangat kami untuk mempercepat langkah. Pos 2, ya Pos 2, sudah terlihat di bawah sana. Pos yang berada di pinggir sungai jernih, terdapat cerukan batu besar mirip gua.

Pukul 12.00 WITA, semua anggota tim sudah tiba di Pos 2, makan siang pun digelar di sebuah batu besar datar di pinggir sungai berair jernih.

Pukul 13.00 WITA, kami pun melanjutkan pergerakan. Belum sepuluh langkah meninggalkan pos 2, sudah dihadang oleh track hampir tegak lurus, tanah merah licin mengilap, lumayan tinggi. Segera leader membuat lintasan dengan memasang tali webbing sebagai pengaman dan mempermudah pergerakan. Satu per satu anggota tim mulai mendaki dengan gaya masing-masing dengan berpegangan pada tali webbing tersebut, cukup menyita waktu. Selepas track itu, masih ada tanjakan lainnya. Meskipun sudah tidak dibantu dengan tali pengaman, namun harus berpegangan pada batu ataupun akar-akar pohon.

Pukul 13.00 WITA, kami pun melanjutkan pergerakan, belum sepuluh langkah meninggalkan pos 2 sudah dihadang track hampir tegak lurus, tanah merah licin mengkilap, lumayan tinggi

Selang satu jam, sampailah tim di Pos 3. Pos yang tidak begitu besar di ketinggian 1.940 mdpl, hanya seperti tempat istirahat ketika lelah mendaki, “Ayo, lanjutkan, Ji….“ ucap bang Nael salah satu official dari tim Dharmapala-APP meniru logat Makassar.

Perjalanan pun kami lanjutkan menuju Pos 4 tanpa istirahat.
Jalur mulai membaik, tak seterjal sebelumnya, pemandangan yang begitu alami, anggrek-anggrek hutan, pohon rotan dengan duri-duri tajamnya begitu mendominasi di kanan-kiri jalur pendakian. Suhu mulai terasa lembab dan dingin, gumpalan lumut bergerombol menyelimuti badan-badan pohon besar. “Pos Empat kawan… kita udah sampe Pos Empat….” teriak bang Nael sambil melepaskan carrier ke tanah. “Sekarang jam 14.45 WITA….” lanjutnya. Kami pun beristirahat sebentar untuk sekadar berfoto-foto ria. Pos 4 berada pada ketinggian 2.140 mdpl, lumayan ada beberapa tempat datar untuk membuat tenda.

Setelah istirahat dan berfoto, kami pun melanjutkan pergerakan menuju pos berikutnya. Track mulai menanjak, didominasi oleh hutan lumut sepanjang jalur pendakian, akar-akar pohon seringkali membuat beberapa anggota tim jatuh “jungkir-balik” karena tersandung akar yang menonjol. Hutan semakin rapat, suhu semakin dingin dan lembab.

Pukul 16.00 WITA, tim kami tiba di Pos 5. Pos yang berada di ketinggian 2.605 mdpl, banyak area datar untuk mendirikan tenda.

Segera carrier dibongkar, tim begitu cekatan berbagi tugas, mendirikan tenda, menyiapkan logistik untuk makan malam. Senja pun berganti malam, kabut yang sempat datang perlahan berganti gerimis, suara binatang malam dan desir angin mengiringi istirahat malam kami. Lusa kita menjamah atap Sulawesi.

Hari ke 4
Matahari menampakkan sinarnya, suara burung di kejauhan mengiringi tim kami merapikan perlengkapan ke dalam carrier.

Pukul 08.00 WITA, tim mulai bergerak meninggalkan Pos 5, jalur menanjak dengan pohon yang mulai pendek ramping diselimuti oleh lumut. ——- Bersambung ——-

Sebuah Catatan Harian
ATAP SULAWESI KAMI DATANG: RANTE MARIO 3.478 MDPL (Bagian 2)
Ditulis untuk swamedium.com
Mang Ucuy dan Tim UKM Dharmapala APP

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita