Jumat, 03 Desember 2021

Surat At Takasur dan Pengaruh Ekonomi bagi Transformasi Sosial Dalam Pemikiran Ibn Khaldun

Surat At Takasur dan Pengaruh Ekonomi bagi Transformasi Sosial Dalam Pemikiran Ibn Khaldun

Foto: ilustrasi (ist)

Oleh Muhammad Fadhila Azka*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com– Menurut Ibn Khaldun, kuasa dan daya beli yang ditentukan oleh upaya ekonomi yaitu pekerjaan adalah pembentuk kehidupan masyarakat.

Satu sistem yang dihasilkan dari pencapaian ekonomi yang menentukan kepemilikan atas aset bagi orang per orang juga terpenuhi nya semua keperluan akan membawa perubahan sosial dan struktur masyarakat. Orang yang hidup dengan kondisi Hadhari (metropolitan) berbeda dengan orang yang badui. Orang kota berbeda sistem kemasyarakatannya dengan orang yang hidup di kawasan lebih kecil dan sederhana. Jika di perkampungan, akan lebih terasa keakraban, gotong royong, maka di kota lebih individualistis.

Lalu, Ibn Khaldun juga mengatakan bahwa peningkatan jumlah penduduk dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi. Populasi meningkat jika ekonomi semakin baik. Hal ini, seharusnya justru merupakan asas analisa yang tepat untuk masa kini. Jangan kita terima begitu saja bahwa sedikit anak lebih baik. Jangan berfikir bahwa banyak anak banyak biaya. Sebab usaha memusnahkan ummat Islam adalah dari usaha terus mengikis jumlah ummat ini.

Kemudian juga dari pandangan Ibn Khaldun ini kita bisa membaca bahwa sebetulnya Barat atau bangsa lain yang menekan peningkatan populasinya justru sedang menuju kemiskinan dan kehancuran. Dalam Al Qur’an, dijamin bahwa Allah yang akan memberi orangtua rezeki dan menghidupkan anak cucu keturunannya.

Bagi Ibn Khaldun, Perkembangan ekonomi membutuhkan sumber daya manusia sebagai tenaga kerja. Butuh ketersediaan ahli-ahli yang profesional. Maka, segala sesuatu sesungguhnya tidak lepas dari membentuk manusia. Disinilah peran agama yaitu Islam, peran keluarga, peran pendidikan, dan peran pemimpin.

Ibn Khaldun dari hasil observasinya juga menyimpulkan adanya dampak negatif dari kehidupan yang mewah. Kehidupan yang metropolitan serba mewah dan maju, senang-senang semata akan menimbulkan kerusakan yang diwujudkan melalui korupsi, saling rampok, saling tipu, dan lainnya. Kehendak materi duniawi yang tidak dibatasi akan ingin senantiasa dipenuhi. Akibatnya, nilai yang berasaskan agama akan di campakkan. Suasana kemewahan yang berlebihan, menyebabkan manusia mengabaikan agama.

Pemikiran dan penjelasan Ibn Khaldun semua itu menunjukkan hubungan antara proses transformasi sosial dalam masyarakat yang salah satu pencetusnya adalah kondisi ekonomi yang akan memberi pengaruh kepada pola pikir dan kehidupan.

Bagaimana al Qur’an sebagai petunjuk abadi untuk seorang muslim atas hal itu semua? Di dalam surat At Takasur, Allah mewahyukan bahwa kemewahan, yaitu yang diwujudkan dengan menumpuk harta dan anak yang bertujuan untuk bermegah-megah itu hanya akan menyibukkan kita, melalaikan kita dari Allah, dari masa penguburan manusia di kubur yang dengannya semua kemewahan ditinggalkan.

Hal ini, dalam konteks sekarang juga terkait dengan pembangunan kota. Jika manusia sibuk dengan membangun kota saja tapi dengan itu manusia melupakan, bahkan mengingkari Allah maka kota itu hakikatnya hanya kuburan massal. Ini dapat menjadi asas juga untuk memilih pemimpin agar jangan memilih pemimpin yang berorientasi kepada materi saja, visi pemimpin seharusnya tidak hanya program pembangunan fisik, kemewahan tapi sebaiknya pemimpin memberi perhatian kepada pembangunan manusia dengan ilmu, ekonomi, dan ketaqwaan. Dalam lagu nasional kita juga disebutkan “Bangunlah jiwanya.. Bangunlah badan nya.. Untuk Indonesia Raya”.

Solusinya berada di surat al Munafiqun ayat 9, yaitu “Hai hamba Allah yang beriman, janganlah harta-harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah, Siapa yang demikian maka ia merugi.”

Jadi, ekonomi harus didasari dari pandangan Islam tentang dunia dan akhirat, pandangan yang yakin adanya kubur dan hari dimana akan bertanggung jawab semua manusia akan nikmat-nikmat. Lalu, manusia yang memiliki harta haruslah manusia yang tertanam pada dirinya Aqidah Islam dan keteguhan serta keistiqamahan tunduk di atur oleh Islam. (*)

*Penulis adalah pengajar di Sekolah Pemikiran Islam

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita