Jumat, 03 Desember 2021

Atap Sulawesi Kami Datang: Rante Mario 3.478 mdpl (Bagian 3, Habis)

Atap Sulawesi Kami Datang: Rante Mario 3.478 mdpl (Bagian 3, Habis)

Enrekang, Swamedium.com — Matahari menampakkan sinarnya, suara burung di kejauhan mengiringi tim kami merapikan perlengkapan ke dalam carrier. Pukul 08.00 WITA, tim mulai bergerak meninggalkan Pos 5, jalur menanjak dengan pohon yang mulai pendek ramping diselimuti oleh lumut.

Banner Iklan Swamedium

Sebelumnya:
Atap Sulawesi Kami Datang: Rante Mario 3.478 mdpl (Bagian 1)
Atap Sulawesi Kami Datang: Rante Mario 3.478 mdpl (Bagian 2)

Hari ke 4
Embun pagi yang tersisa cukup membuat basah jalur mendaki yang kami lewati menuju Pos 6. “Semangat, Ji, sebentar lagi kita sampai puncak….” ucap bang Mail menghibur. Jalur yang kami lewati masih didominasi oleh pohon ramping berselimut lumut, menanjak sesekali datar.

Pukul 09.00 WITA, kami sampai di Pos 6, satu jam sudah kami berjalan tanpa henti. Pos 6 berada di ketinggian 2.690 mdpl, area sedikit datar cukup untuk membuat 2 tenda. Setelah istirahat sebentar, kami pun melanjutkan pergerakan.

Pohon semakin kerdil, langit semakin terlihat, tanjakan demi tanjakan habis kami “lalap”, puncak-puncak Pegunungan Latimojong menyembul berselimut kabut tipis. Berjalan di igir-igir punggungan, di kiri dan kanan awan bergerombol hilir-mudik, “negeri di atas awan”.
Matahari yang bersinar terik perlahan digantikan oleh gumpalan kabut, semua tampak putih, track masih sama menanjak, jarak pandang kurang dari tiga meter.

Seorang anggota tim wanita tampak kelelahan, duduk sekenanya di lahan yang agak datar. “Keram, Bang, kaki sama tangan yang kiri….” ucapnya, carrier pun segera dilepas, istirahat sebentar dengan meluruskan kaki lebih tinggi dari jantung adalah pengobatan pertama yang baik, tablet garam pun segera dimakan, peredaran darah yang tertahan kembali lancar.

Pukul 11.00 WITA, area Pos 7 mulai terlihat, tampak beberapa tenda pendaki lain sudah berdiri, berjajar rapi. Tiga puluh menit kemudian, kami pun tiba di Pos 7. Pos yang berada di ketinggian 3.100 mdpl ini merupakan area yang cukup terbuka, dan dapat dengan mudah dihantam oleh angin dingin yang membawa butiran-butiran air dari kabut, terdapat sumber mata air di pos ini.

Tenda dan flysheet segera dibuka, target hari ini sudah tercapai, tim akan melakukan “Summit Attack” dari Pos 7. Waktu masih menunjukkan pukul 12.00 WITA, masih cukup panjang untuk bersantai-santai dan hunting foto. Cuaca di area ini selalu berubah-ubah dengan cepat, terkadang cerah, beberapa menit kemudian putih semua dengan rintik-rintik hujan, lalu cerah lagi begitu seterusnya.

Sunset hari ini begitu sempurna, gumpalan awan yang masuk ke celah-celah bukit, semburat oranye-kuning sinar matahari yang tenggelam di Barat, segelas kopi panas menambah indah suasana senja ini di 3.100 mdpl. Besok pagi kita menyapa Tugu Rante Mario.

Hari ke 5
Angin menderu-deru, membuat tenda dan flysheet bergetar-getar, dingin menembus di sela-sela ujung jari tangan dan kaki. “Jam 04.00, Bang… prepare summit….” ucap korlap hari ini mencoba membangunkan seluruh anggota tim. “Di luar masih hujan lumayan deres….” sambungnya. Krontang-kronteng suara peralatan memasak membuka keheningan pagi ini, api mulai menyala, gelas-gelas mulai disusun rapi, “Woooy… bangun woooy… Muncak kita, Ji…. “ teriak bang Nael seraya mengetuk-ngetuk panci dengan sendok.

Segelas serealia dan roti tandas masuk perut, teh manis panas membuat badan yang menggigil mulai hangat. Pukul 05.00 WITA, kami mulai pergerakan menuju puncak. Langit masih gelap, kabut basah begitu tebal membuat pakaian basah kuyup, track awal adalah tanjakan terjal batu-batu putih, seperti kapur, dan batu-batu merah gelap. Napas memburu, kadang batuk dan tersengal, cahaya-cahaya headlamp sebentar ada, sebentar hilang terhalang oleh kabut.

Selepas tanjakan, jalan lumayan landai, banyak “bonus”, langkah terasa ringan karena masing-masing anggota tim hanya membawa perlengkapan seperlunya, sisanya kami tinggal di tenda. Tidak terlalu lama berjalan, akhirnya kami tiba di Pos 8, dataran luas yang terbuka, angin begitu kencang menderu-deru, liar tanpa ada penghalang. Segera kami melanjutkan langkah menuju puncak, membelah bukit-bukit kecil, matahari belum menampakkan sinar dan hangatnya.

Pukul 06.00 WITA, kami sampai di Tugu Triangulasi 3.478 mdpl, akhirnya tim sampai juga di Rante Mario, puncak tertinggi di barisan puncak-puncak Pegunungan Latimojong.

Suasana masih remang, kabut membawa butiran air, angin yang menderu-deru, dingin begitu menusuk tulang. Seorang anggota tim putri jatuh tak sadarkan diri, bergegas kami evakuasi, diturunkan beberapa meter dari puncak, di sela-sela pohon ramping kami dirikan shelter darurat, flysheet pun dibuka, spanduk kegiatan dijadikan alas supaya tidak langsung menyentuh lumut basah.

Blanket (selimut) alumunium foil, body warmer, sleeping bag, tabung oksigen, kompor lapangan segera keluar untuk tindakan penyelamatan. Selang beberapa menit, cahaya matahari pun hadir memberikan kehangatan, benar-benar suatu anugerah Yang Mahakuasa. Korban sudah sadarkan diri, bisa berinteraksi kembali dengan anggota tim yang lain.

Pukul 07.30 WITA, kami pun kembali menapaki puncak Rante Mario, dalam suasana yang cerah dan hangat.
Atap Sulawesi, kami telah datang padamu.

Sebuah Catatan Harian
ATAP SULAWESI KAMI DATANG: RANTE MARIO 3.478 MDPL (Bagian 3, Habis)
Ditulis untuk swamedium.com
Mang Ucuy dan Tim UKM Dharmapala APP

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita