Minggu, 07 Juni 2020

Krisis Akal Budi

Krisis Akal Budi

Foto: DR. M. KAPITRA AMPERA, SH.,MH TIM ADVOKASI GNPF-ULAMA (ist)

Oleh Dr. M. Kapitra Ampera, SH., MH.*

Jakarta, Swamedium.com- Peradaban merupakan suatu entitas budaya, yaitu pengelompokan tertinggi dari orang-orang dengan identitas budaya, sehingga membedakannya dari kelompok yang lainnya.

Pembedanya adalah bahasa, sejarah, agama, adat istiadat, lembaga-lembaga, kelompok agama, dan lain-lain yang semuanya mempunyai tingkat keragaman budaya yang berbeda-beda. Dari perbedaan inilah akan menuju pada satu persamaan, yaitu menjadi sebuah peradaban.

Sejarah peradaban berpijak pada satu konsep yang amat penting, yakni logos yang diartikan oleh Husserl sebagai akal budi. Segala krisis yang dialami di berbagai belahan dunia adalah karena kegagalan kita memahami makna akal budi, dan menerapkannya dalam kehidupan.

Gagal pahamnya masyarakat dalam menerapkan logos (akal budi), dewasa ini terjadi dengan gencarnya arus globalisasi. Globalisasi membawa peradaban masyarakat ke dalam sebuah situasi yang batas-batas ruang dan waktu hampir tidak berfungsi lagi. Masyarakat di era globalisasi menembus kehidupan tanpa batas waktu, dan tanpa batas-batas geografis.

Walaupun globalisasi membawa banyak dampak positif, globalisasi juga menyebabkan perubahan cara pandang dan gaya hidup masyarakat yang bersifat negatif. Budaya Barat kerap kali diduplikasi tanpa filterisasi, sehingga meninggalkan budaya daerah yang kental dengan nilai-nilai akal budi.

Kemajuan teknologi informasi membuat lalu lintas ilmu pengetahuan, gudang rahasia, entertainment, pertunjukan, dan musik melalui jaringan internet dapat mengubah mind set (pola pikir) serta menuntut kegiatan untuk dilakukan serba instan, pergeseran ini mengakibatkan manusia banyak menggunakan logika dan kemampuannya tanpa menggunakan akal budi.

Di samping itu, jaringan komunikasi yang serba bebas ini juga disisipi dengan hal-hal buruk, seperti pornografi, ungkapan kebencian, dan olok-olokan kepada orang lain, yang kian hari dianggap sebagai hal yang wajar untuk dipertontonkan.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.