Selasa, 19 Januari 2021

Krisis Akal Budi

Krisis Akal Budi

Foto: DR. M. KAPITRA AMPERA, SH.,MH TIM ADVOKASI GNPF-ULAMA (ist)

Oleh Dr. M. Kapitra Ampera, SH., MH.*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com- Peradaban merupakan suatu entitas budaya, yaitu pengelompokan tertinggi dari orang-orang dengan identitas budaya, sehingga membedakannya dari kelompok yang lainnya.

Pembedanya adalah bahasa, sejarah, agama, adat istiadat, lembaga-lembaga, kelompok agama, dan lain-lain yang semuanya mempunyai tingkat keragaman budaya yang berbeda-beda. Dari perbedaan inilah akan menuju pada satu persamaan, yaitu menjadi sebuah peradaban.

Sejarah peradaban berpijak pada satu konsep yang amat penting, yakni logos yang diartikan oleh Husserl sebagai akal budi. Segala krisis yang dialami di berbagai belahan dunia adalah karena kegagalan kita memahami makna akal budi, dan menerapkannya dalam kehidupan.

Gagal pahamnya masyarakat dalam menerapkan logos (akal budi), dewasa ini terjadi dengan gencarnya arus globalisasi. Globalisasi membawa peradaban masyarakat ke dalam sebuah situasi yang batas-batas ruang dan waktu hampir tidak berfungsi lagi. Masyarakat di era globalisasi menembus kehidupan tanpa batas waktu, dan tanpa batas-batas geografis.

Walaupun globalisasi membawa banyak dampak positif, globalisasi juga menyebabkan perubahan cara pandang dan gaya hidup masyarakat yang bersifat negatif. Budaya Barat kerap kali diduplikasi tanpa filterisasi, sehingga meninggalkan budaya daerah yang kental dengan nilai-nilai akal budi.

Kemajuan teknologi informasi membuat lalu lintas ilmu pengetahuan, gudang rahasia, entertainment, pertunjukan, dan musik melalui jaringan internet dapat mengubah mind set (pola pikir) serta menuntut kegiatan untuk dilakukan serba instan, pergeseran ini mengakibatkan manusia banyak menggunakan logika dan kemampuannya tanpa menggunakan akal budi.

Di samping itu, jaringan komunikasi yang serba bebas ini juga disisipi dengan hal-hal buruk, seperti pornografi, ungkapan kebencian, dan olok-olokan kepada orang lain, yang kian hari dianggap sebagai hal yang wajar untuk dipertontonkan.

Perkembangan teknologi bila tetap diiringi dengan akal budi, akan dapat dimanfaatkan dengan baik. Informasi yang cepat beredar di dunia maya, membantu komunikasi yang baik antarmasyarakat, serta penyebaran informasi-informasi dan ilmu pengetahuan untuk mencerdaskan. Namun, Krisis Akal Budi seperti saat ini membawa akibat buruk dari pesatnya kemajuan teknologi, seperti sering munculnya informasi-informasi bohong (hoax), penggunaan media sosial sebagai wadah politik kotor dan penghinaan kepada orang lain, yang menyebabkan fitnah dan dapat memecah belah kerukunan masyarakat.

Selain itu, munculnya media massa serta tayangan online semestinya tetap mengedepankan budaya yang baik untuk ditiru oleh generasi bangsa dan mengandung pesan moral yang bermanfaat, bukan mempertontonkan kepribadian yang bertentangan dengan etika dan norma, sehingga, perbuatan baik dianggap tidak lagi populer, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Padahal, akal budi sangat memengaruhi karakter seseorang untuk menjadi orang yang baik. Jika hal ini terus dibiarkan, suatu keniscayaan akan hancurnya bangsa ini.

Samuel Huntington, dalam bukunya Benturan Peradaban, juga menyebutkan bahwa proses modernisasi dan perubahan sosial dunia yang terjadi telah membuat masyarakat tercabut dari identitas lokal dan memperlemah negara sebagai sumber identitas. Dalam hal ini, agama muncul sebagai sumber identitas dan pegangan, yaitu dalam bentuk gerakan fundamentalisme.

Fundamentalisme pada dasarnya menggiring perkembangan ilmu teknologi ke arah yang lebih humanis dengan cara mendekatkan nilai-nilai agama dengan unsur-unsur modernitas. Penekanan terhadap nilai-nilai universal yang terkandung dalam ajaran agama justru dapat mengurangi kemungkinan terjadinya konflik antarperadaban, dan menghindari tercampur baurnya budaya bangsa yang santun dengan budaya Barat yang hedonistik dan pragmatis.

Masyarakat Indonesia yang menganut agama Islam saat ini sadar akan pentingnya gantungan agama dalam kehidupan. Dapat dibuktikan dengan bertahannya eksistensi dalam satu semangat budaya yang “Islami” dan memiliki potensi jumlah penganut yang besar, serta memiliki kemampuan untuk memobilisasi penganutnya secara massal. Seperti halnya yang terjadi akhir-akhir ini persatuan umat Islam dalam menegakkan Al-Qur’an dan protes akan terjadinya Penodaan terhadap Al-Qur’an.

Perbuatan baik adalah ekspresi karunia dan perintah Allah. Maka, pegangan agama penting sebagai filter dari bahaya budaya asing yang dapat menghilangkan budaya bangsa sebagai identitas. Semuanya dapat terwujud, bila seluruh pihak, baik pemerintah, pekerja, pengusaha, masyarakat menggunakan akal budi dengan baik, berpegang pada agama (Ketuhanan Yang Maha Esa) sebagai salah satu falsafah Negara, agar terhindar dan keluar dari Krisis Akal Budi.

*Penulis adalah Tim Advokasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa-Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita