Rabu, 12 Mei 2021

Aroma Politis Dibalik Pencopotan Direksi BNI Syariah

Aroma Politis Dibalik Pencopotan Direksi BNI Syariah

Jakarta, Swamedium.com – Keputusan pemegang saham PT BNI Syariah dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 23 Maret 2017, yang mencopot Direktur Utama Imam Teguh Saptono dan Direktur Bisnis Konsumer Kukuh Rahardjo digantikan oleh Abdullah Firman Wibowo dan Dhias Widhiyati, kental dengan aroma politis. Adakah kaitannya dengan dukungannya pada Aksi Bela Islam Jilid 1 dan Jilid II?

Banner Iklan Swamedium

Sulit dipungkiri tidak ada alasan politis dibalik pergantian mendadak dua pejabat yang baru dilantik setahun lalu itu. Pejabat sebuah instansi pemerintahan, biasanya diganti kalau kinerjanya buruk, terlibat kasus hukum atau tidak disukai rezim yang berkuasa. Dan, tidak ada alasan kinerja maupun hukum pada keduanya. Tak heran, bila alasan politis yang lebih muncul di permukaan.

Dari sisi performa bisnis, BNI Syariah memiliki kinerja paling kinclong dibandingkan bank lainnya. Meroketnya kinerja bank ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Imam Teguh Saptono. Meski, doktor agribisnis dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini baru menjabat sebagai direktur utama pada 23 Februari 2016, namun Imam telah menjadi direktur bisnis sejak tahun 2012.

Dalam setahun masa jabatannya sebagai direktur utama pun, BNI Syariah menunjukkan performa positif disaat perbankan lainnya menurun. Laporan keuangan BNI Syariah per 31 Desember 2016 menunjukkan pertumbuhan positif dengan posisi laba sebesar Rp 277,37 miliar atau meningkat 21,38 persen dibanding Desember 2015 sebesar Rp 228,52 miliar.

Dibawah kepemimpinan Imam, Manajemen BNI Syariah juga telah merancang berbagai program dan produk baru yang dinilai pelaku bisnis sangat inovatif. Salah satu program yang dinilai kreatif dan inovatif yakni BNI Wakaf Hasanah yang telah menghimpun dana sebanyak Rp 4 miliar sejak diluncurkan pada akhir tahun lalu. Program ini nantinya juga akan di bundling dengan program wisata halal yang direncanakan diluncurkan pertengahan tahun ini.

Baca Juga:
Pergantian Dirut BNI Syariah Dinilai Mendadak

Produk unggulan lainnya adalah Griya Swakarya yang memungkinkan BNI Syariah memiliki inventori seperti perumahan untuk dijual. Perseroan juga bisa membangun, mengelola, dan memiliki inventori lain semisal gedung kantor. Produk ini merupakan yang pertama untuk perbankan syariah dan baru BNI Syariah yang memiliki izin pelaksanaannya.

Setelah mendapatkan pencerahan tentang Ekonomi Islam yang anti riba dan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi, Imam bertekad membangun BNI Syariah sesuai khittahnya sebagai bank syariah. Konsep syariah memiliki lima tujuan, yakni memperbaiki agama, memperbaiki akal pikiran, memperbaiki keturunan, memperbaiki dan menyelamatkan jiwa serta memelihara harta kekayaan.

Konsep tersebut diwujudkan dengan memosisikan BNI Syariah menjadi Hasanah Lifestyle Banking, yang akan mencukupi kebutuhan muslim dari lahir sampai meninggal. Contohnya, produk Waqaf Hasanah dengan target pasar usia 40 tahun keatas. Produk ini memberi kesempatan pada muslim untuk bermanfaat bagi orang lain. Misalnya, dia berwakaf 1 juta rupiah maka dana itu akan disalurkan ke aset produktif, seperti pembangunan sekolah atau rumah sakit yang nantinya juga menghasilkan pendapatan.

Ada juga produk Tapcash Hasanah atau kartu yang bisa dipakai untuk naik kereta api atau commuter line. Kemudian, produk bank asuransi, yang didalamnya terdapat polis asuransi jiwa, wakaf dan pendidikan. Dengan produk ini, saat nasabah meninggal, dana dari asuransi bisa dipakai untuk membangun sebuah masjid.

Terobosan lainnya di bidang properti, BNI Syariah menggandeng developer kecil yang membangun rumah dalam jumlah kecil, sehingga memperbanyak jumlah mitra pengembang dan membangun komunitasnya.

Beragam terobosan Imam itu mengundang decak kagum dari banyak pihak. Sayangnya, rezim yang berkuasa saat ini tidak berpihak pada muslim, termasuk Imam Teguh Saptono. Kinerja bagus, sosok yang lurus tidak korupsi, mengapa dicopot?

Aksi Bela Islam

Seperti kita ketahui, Penyidik Direktorat II Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dit Tipedeksus) Bareskrim Polri menetapkan pegawai Bank BNI Syariah Islahudin Akbar (IA) sebagai tersangka kasus pencucian uang terkait penyalahgunaan dana Yayasan Keadilan untuk Semua (YKUS) atau Justice For All ke pihak lain, yaitu Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF)-MUI pimpinan Ustadz Bachtiar Natsir.

GNPF meminjam rekening YKUS sebagai penampung sumbangan masyarakat untuk Aksi Bela Islam pada 4 November 2016 (Aksi Bela Islam 411) dan 2 Desember 2016 (Aksi Bela Islam 212). IA sebagai pegawai bank dituduh berperan mencairkan dana dari rekening YKUS atas perintah Ketua GNPF-MUI, Ustadz Bachtiar Natsir alias UBN.

Tidak ada yang salah dengan IA. Sebagai pegawai bank, IA memang harus mencairkan dana yang diminta oleh nasabah. Pengambilan dana milik GNPF yang dititipkan ke rekening YKUS tersebut juga sudah seizin dari Ketua YKUS, yaitu Adnin Armas. Selain itu, kasus tersebut sampai sekarang belum jelas kebenarannya.

Adakah aksi perombakan jajaran direksi itu ada kaitannya dengan dugaan keterlibatan IA dalam aksi bela Islam itu?

Imam T Saptono hanya menjawab,”Berdakwah itu butuh perjuangan (karena tidak semua orang suka). Dan, BNI Syariah saat ini belum punya umat.”  (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita