Jumat, 03 Desember 2021

Tuntut Mundurnya PM Rusia, Ratusan Demonstran Ditahan

Tuntut Mundurnya PM Rusia, Ratusan Demonstran Ditahan

Tokoh antikorupsi dan oposisi, Alexei Navalny, melambaikan tangan di dalam mobil polisi saat ditahan dalam aksi protes di Moskva pada Ahad (26/3). (Maxim Shemetov/Reuters)

Moskva, Swamedium.com — Polisi menahan ratusan pengunjuk rasa di seluruh Rusia pada Ahad (26/3), termasuk pemimpin oposisi, Alexei Navalny, setelah ribuan orang turun ke jalanan-jalanan untuk berdemonstrasi menentang korupsi dan menuntut mundurnya perdana menteri Dmitry Medvedev.

Banner Iklan Swamedium

Aksi itu merupakan yang terbesar sejak aksi antikremlin pada 2011–2012, setahun sebelum pemilihan presiden (pilpres) yang diikuti oleh Vladimir Putin.

Jajak pendapat menyatakan oposisi liberal, yang diwakili oleh Navalny, memiliki peluang kecil dalam menjatuhkan Putin, yang nilainya tinggi.

Akan tetapi, Navalny dan para pendukungnya berharap dapat menyalurkan ketidakpuasan publik terhadap korupsi pejabat, sehingga mendapatkan lebih banyak dukungan.

Reporter Reuters menyaksikan polisi menangkap Navalny saat ia berjalan di Jalan Tverskaya bersama para pendukungnya dalam aksi yang tidak didukung oleh pemerintah sebagaimana helikopter polisi berputar-putar di udara.

Polisi memasukkan Navalny ke dalam mobil polisi. Ratusan pengunjuk rasa mengelilingi mobil itu, berusaha membuka pintunya.

“Saya senang karena begitu banyak orang keluar (ke jalanan-jalanan) dari timur (negeri) ke Moskva,” kata Navalny sebelum ia ditahan.

Pemerintah Rusia di Kremlin mengatakan pada Jumat (24/3) bahwa rencana aksi di pusat Moskva, yang telah ditolak oleh otoritas Kota, merupakan provokasi ilegal.

Seorang petugas penegak hukum berusaha menangkap demonstran di atas sebuah lampu di Moskva pada Ahad (26/3). (Sergei Karpukhin/Reuters)

Pihak kepolisian mengatakan sekitar 7.000–8.000 orang berada di Jalan Tverskaya dan di sekitar area pada pertengahan sore. Lalu, mereka yang ditahan pada akhir sore berjumlah sekitar 500 orang.

Memasuki malam hari, ratusan polisi antihuru-hara berbaris di Lapangan Manezh di ujung Jalan Tverskaya dan mendesak para pengunjuk rasa menjauhi tembok Kremlin.

Sebagian pengunjuk rasa berteriak, “Putin seorang pencuri.” Sementara itu, turis-turis berkeliling di dekat area itu.

Sedangkan, Grigory Okhotin, seorang pendiri OVD Info, sebuah organisasi HAM yang mengawasi berbagai penahanan, menyatakan sekitar 600 orang ditahan di Moskva pada Ahad (26/3).

Selain itu, polisi Rusia menahan 17 orang yang lainnya. Mereka bekerja pada lembaga antikorupsi yang dipimpin oleh Navalny, yakni FBK.

“Tujuh belas anggota lembaga ditangkap oleh polisi di kantor lembaga saat kami sedang menyiarkan secara online aksi hari ini. Kami didakwa dengan ketidakpatuhan terhadap polisi,” kata Roman Rubanov, direktur FBK kepada Reuters melalui telepon dari suatu kantor polisi Moskva.

Aksi-aksi serupa berlangsung di seluruh Rusia.

30 orang ditahan saat aksi di Kota Vladivostok. Para pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan, “Perdana menteri harus menanggapi”.

Beberapa polisi menahan seorang wanita pengunjuk rasa di Vladivostok pada Ahad (26/3). (Yuri Maltsev/Reuters)

“Saya keluar (untuk memprotes) menentang korupsi dan ingin pemerintah menanggapi dakwaan dalam film Navalny,” kata seorang pelajar, Denis Korneev (17), dalam aksi di Moskva.

Empat orang ditangkap dalam aksi di Yekaterinburg menurut kesaksian beberapa orang kepada Reuters.

Para pengunjuk rasa membentangkan spanduk, “Kami adalah otoritas di sini”. Sementara itu, para nasionalis dan pendukung rezim dari United Rusia menyaksikannya.

Media lokal melaporkan bahwa aksi besar-besaran berlangsung juga di kota-kota yang lain, seperti Sankt-Peterburg dan Novosibirsk. Sedangkan, media negara mengabaikan aksi-aksi itu.

Navalny ingin maju menantang presiden petahana, Vladimir Putin, dalam pemilihan presiden (pilpres) tahun depan.

Pada awal tahun, FBK mengumumkan dugaan korupsi perdana menteri dan mantan presiden Rusia, Dmitry Medvedev. Menuding Dmitry telah menimbun kekayaan yang jauh lebih banyak daripada batas kewajaran gaji resminya.

Juru bicara Dmitry menyebut dugaan itu sebagai “serangan propaganda” yang tidak layak dikomentari lebih lanjut. Ia mengatakan bahwa mereka berkumpul dalam rangka menjelang pilpres. (ais)

Sumber: Reuters

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita