Senin, 10 Mei 2021

Petahana Sangat Gelisah Walau Bertarung di “Kandang Sendiri”?

Petahana Sangat Gelisah Walau Bertarung di “Kandang Sendiri”?

Foto: Edriana Noerdin, Research Director at Women Research Institute. (fb edriana)

Oleh: Edriana Noerdin

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com- Seperti terlihat dalam foto di atas, kami pendukung Mas Anies Baswedan yang datang ke studio Metro TV tadi malam tidak lebih dari 10 orang, sesuai dengan permintaan penyelenggara.

Penyelenggara, yaitu Metro TV meminta pendukung masing-masing paslon hanya boleh 10 orang karena 400 orang audiens lainnya adalah mahasiswa. Alasannya, acara debat ini adalah perang gagasan bukan perang sorakan sehingga tidak boleh membawa supporter. Kami pun konsekuen hanya bawa 10 orang itu.

Tetapi faktanya lain. Begitu masuk ruangan kami melihat banyak sekali penonton dari kalangan tertentu yang terlihat dari penampilan dan raut wajah mereka. Hal ini kemudian terbukti begitu Petahana masuk ruangan, mereka semua bertepuk tangan dan bersorak sorai bak suporter sepakbola.

Namun begitu Mas Anies yg masuk ruangan, semua diam, bahkan ada yg bilang “huuuu”. Dan situasi ini terjadi terus menerus ketika debat sedang berlangsung. Setiap petahana bicara mereka berteriak dan bertepuk tangan sehingga Najwa harus berkali-kali mengingatkan penonton untuk tenang. Tapi begitu Anies yang bicara mulai terdengar “huuu” atau penonton pada diam dengan ‘geruntelan’ tidak suka. Aura tersebut sangat terasa bagi kami pendamping mas Anies yg menjadi minoritas di studio yang besar tersebut.

Namun dukungan massa itupun tidak mampu membuat petahana menjadi tenang. Petahana terlihat sangat tegang dan berusaha keras menahan diri. Beliau terlihat berkeringat atau mungkin memang dengan sengaja mencuci muka pada saat istirahat berusaha untuk menurunkan tensi bicaranya.

Salut saya kepada Mas Anies yang dengan sangat tenang, santai, penuh senyum dan terkesan tanpa beban sama sekali sejak memasuki ruangan “kandang lawan”, dan tetap fokus mengatakan bahwa kami ingin merangkul semua golongan dengan membangun manusianya bukan hanya fisiknya saja. Karena inilah beda utama antara Mas Anies yang ingin membangun warga Jakarta dengan petahana yang hanya fokus pada pembangunan fisik semata.

Disini terlihat dengan jelas bahwa Mas Anies berjiwa besar, bertarung di kandang lawan, walau diingatkan banyak orang untuk tidak usah hadir. Mas Anies tetap pada prinsipnya bahwa sebagai Gubernur nanti beliau harus berdiri di atas semua golongan, dan kalau perlu memang harus mendatangi “sarang lawan” atau “sarang orang yang berseberangan dengan kita” katanya. Makanya, beliau akan tetap memenuhi undangan semua golongan tanpa pandang bulu. Termasuk, datang ke Metro TV.

Yang sangat berbeda dari penampilan kedua cagub pada Sabtu (25/3) malam itu adalah:

1. Petahana setiap jeda istirahat selalu langsung lari ke belakang layar. Begitupun pendukung beliau selalu bergegas, sibuk sekali buru-buru menemui petahana di belakang layar. Terlihat sekali dari wajah mereka bahwa mereka semua sangat gelisah dan melakukan koordinasi tak henti-henti. Najwa selalu mengingatkan beliau setiap acara akan dimulai. Gerak tubuh beliau sangat tegang.

2. Sementara Mas Anies sepanjang acara, 2 jam, tidak pernah meninggalkan arena, selalu duduk tenang, hanya sekali ke toilet dan itupun sangat singkat. Kami pendukungnya pun duduk dengan tertib. Bahkan diingatkan Najwa berkali-kali bahwa di belakang disediakan ruangan kalau pendamping mau melakukan koordinasi dengan Mas Anies. Tapi kami semua percaya bahwa sebagai Gubernur Mas Anies sangat mampu mengatasi tekanan apapun dan beliau sangat menguasai masalah yang sedang dibahas.

Dalam kata penutup ketika ditanya bagaimana caranya kedua Cagub DKI menjaga perdamaian di Jakarta, terlihat perbedaan yang sangat tajam antara keduanya, yang kira-kira mengatakan seperti ini:

Anies: “Saya akan merangkul semua golongan, berdialog dengan semua kelompok, kanan kiri, atas bawah tanpa kecuali”.

Petahana: “Saya akan bangun masjid-masjid, mengirim marbot-marbot untuk umroh dan memilih takmirnya yang membawa Islam Nusantara … dan bukan yg aneh-aneh menuntut hak yang sama”.

Terakhir Mas Anies mengatakan “Marilah kita bersatu untuk kembali menjahit tenun kebangsaan yang sekarang sudah terkotak-kotak”.

Pemimpin harus mampu mempersatukan, berdiri diatas semua golongan, stabil dan merangkul semua kelompok, bisa menjaga perdamaian, bisa menenangkan masyarakat. Jakarta yang sangat beragam penduduknya ini tidak bisa dipimpin oleh seseorang yang berperilaku tak ubahnya seorang provokator yang selalu menimbulkan keresahan dan ketidakamanan. (edriana noerdin)

Penulis adalah Direktur Riset dari Women Research Institute

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita