Kamis, 06 Mei 2021

Jalinan yang Penuh Makna

Jalinan yang Penuh Makna

Oleh Buya Yahya*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Dalam sebuah kebersamaan, terjalin sebuah persahabatan dan pertemuan. Akan tetapi, tidak semua dari yang bersahabat adalah sama-sama beruntung. Keberuntungan seseorang tersembunyi di balik kalbunya di saat bersahabat.

Dua orang yang bersahabat, ada kalanya satu dari keduanya selalu berharap kemuliaan di akhirat di balik persahabatan ini, sementara yang satu lagi tidak menjalin pesahabatan, kecuali untuk keuntungan di dunia.

Biarpun semuanya sama-sama ke masjid, makan bersama, atau bahkan tidur bersama, yang satu adalah orang beruntung dan yang satu lagi adalah orang yang celaka. Siapapun dari kita harus mencermati apa yang tersembunyi di balik kalbunya. Apa di balik kedekatan kita dengan seorang sahabat?

Jika seorang pejabat menjalin persahabatan dengan seorang ustadz, yang paling beruntung adalah yang memanfaatkan kedekatan tersebut untuk mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah SWT. Alangkah celakanya jika sang ustadz dekat dengan penguasa atau pejabat hanya mengharap keuntungan dunia, begitu juga jika seorang pejabat yang dekat dengan ustadz hanya untuk kepentingan dunianya.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barang siapa yang merendah kepada orang kaya (berpangkat di dunia) karena dunianya, maka telah hilang dua per tiga (nilai) agamanya.” Ini adalah petunjuk yang amat jelas dari Rasulullah SAW agar kita memahami makna sebuah kedekatan. Karena kejahatan hati amatlah tersembunyi dan tidak ada yang bisa mengoreksinya, kecuali diri sendiri.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW juga pernah bercerita. Ada dua orang yang berbeda dalam menjalani hidupnya. Yang pertama adalah orang yang terlihat baik karena kesehari-hariannya hanyalah beribadah di atas gunung. Yang satu lagi adalah seorang pemuda preman pasar yang secara lahir adalah kotor dan jahat karena pekerjaannya hanya membuat keributan dan mengganggu orang-orang di pasar.

Akan tetapi, suatu ketika dipertemukan oleh Allah SWT pada suatu tempat. Sang ahli ibadah saat itu kehabisan bekal, sehingga ia harus membeli bekal di tengah pasar. Dalam saat yang bersamaan, sang preman pasar berkeinginan untuk bisa dekat dengan ahli ibadah yang di atas gunung. Keduanya pun menuju tempat yang mereka tuju. Yang ahli ibadah turun ke pasar dan sang preman pasar pun menuju ke atas gunung.

Akhirnya, keduanya bertemu di suatu tempat, dan di saat itu ternyata Allah SWT mencabut hidayah dari sang ahli ibadah dan memindahkannya kepada sang preman pasar.

Dalam kisah tersebut Rasulullah SAW menjelaskan bahwa itu terjadi disebabkan oleh sesuatu yang tersembunyi di hati mereka berdua. Yang ada di hati sang preman di saat bertemu adalah makna pengagungan kepada ulama Allah SWT dengan penuh harap agar pertemuan tersebut menjadi sebab Allah SWT mencintainya.

Sementara itu, yang dirasakan oleh hati sang ahli ibadah bukanlah makna kerinduan kepada Allah SWT, akan tetapi hatinya penuh dengan kesombongan sebagai ahli ibadah. Yang ada ialah rasa meremehkan kepada sang preman, bukan melihatnya dengan kasih sayang dan sebagai lahan untuk amal baik dengan mengajaknya kepada kebenaran dan menjauhkannya dari kejahatan.

Maka, di sini kita harus bisa mencermati setiap jalinan yang kita rajut. Anda yang ustadz, apa makna kedekatan Anda dengan para pejabat dan saudagar? Anda yang pejabat, apa makna kedekatan Anda dengan para ulama, saudagar, dan fakir miskin? Anda yang saudagar, apa makna kedekatan Anda dengan para pejabat ulama dan fakir miskin? Sudahkah Allah SWT hadir dalam jalinan Anda? 

Wallahu A’lam bissawab​.

*Penulis adalah pengasuh LPD Al Bahja Cirebon

Rep.: JM
Red.: Pamungkas

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita