Kamis, 23 September 2021

Jerman Adakan Investigasi Baru atas Dugaan Spionase Turki

Jerman Adakan Investigasi Baru atas Dugaan Spionase Turki

The German (L) and the Turkish national flags flutter in front of the Chancellery in Berlin, where the German Chancellor was expected to welcome the Turkish Prime Minister on January 12, 2015 in Berlin. German Chancellor Angela Merkel and Turkish Prime Minister Ahmet Davutoglu meet for bilateral talks. AFP PHOTO / ODD ANDERSEN / AFP PHOTO / ODD ANDERSEN

Berlin, Swamedium.com — Jerman mengadakan investigasi baru terhadap dugaan spionase Turki di Jerman pada Selasa (28/3).

Banner Iklan Swamedium

Kementerian dalam negeri Jerman menyatakan bahwa pemerintah Jerman tidak akan menoleransi spionase asing di negaranya.

Ketegangan antara dua negara NATO itu semakin tinggi menjelang referendum Turki bulan depan yang memperluas kekuasaan presiden Recep Tayyip Erdoğan.

Pemerintah Jerman membuat marah rezim Turki karena melarang beberapa aksi kampanye menteri-menteri Turki di Jerman, sehingga Turki menyebutnya sebagai taktik “Nazi”.

Spionase Turki yang menargetkan para diaspora atau eksil Turki di Jerman telah memperlebar keretakan kedua negara tersebut.

“Kami melakukan investigasi terhadap suatu institusi atas tuduhan spionase,” kata seorang juru bicara kejaksaan federal Jerman (GBA).

Ia menolak berkomentar tentang laporan media Jerman bahwa institusi yang dimaksud ialah agensi intelijen nasional (Millî İstihbarat Teşkilatı, MİT) Turki.

Juru bicara GBA yang lain mengatakan bahwa investigasi ini tidak berkaitan dengan penyelidikan sebelumnya pada awal 2017 tentang kemungkinan spionase pemuka-pemuka agama yang dikirim oleh rezim Turki ke Jerman.

“Kedua kasus berhubungan dengan dugaan spionase Turki tetapi pada saat ini, tidak ada substansi yang sama di antara dua penyelidikan,” katanya.

Surat kabar Sueddeutsche Zeitung dan media-media yang lain melaporkan bahwa MİT memberikan agensi intelijen luar negeri Jerman sebuah daftar berisi lebih dari 300 yang diduga pendukung Fethullah Gülen serta 200 lembaga dan sekolah yang berafiliasi dengan sang ulama yang berada di Jerman.

Menurut laporan-laporan itu, investigasi Jerman mengindikasikan sebagian foto mungkin diambil dengan kamera tersembunyi.

Seorang sumber di pemerintahan Jerman mengatakan bahwa sudah jelas ada spionase berdasarkan sifat dari dokumen yang diberikan oleh Turki kepada Jerman.

Menteri dalam negeri Jerman, Thomas de Maiziere, mengatakan, Selasa (28/3), ia tidak heran dengan laporan media tersebut dan daftar nama itu akan diperiksa secara individual.

“Kami telah mengatakan kepada Turki berkali-kali bahwa (aktivitas spionase) itu tidak dapat diterima. Tanpa menghiraukan apa yang Anda pikirkan tentang gerakan Gülen (hizmet), hukum Jerman berlaku di sini dan semua warga negara yang tinggal di sini tidak akan dimata-matai oleh negara-negara asing,” tegas Thomas.

Sejak kudeta gagal tahun lalu, pemerintah Turki telah membersihkan institusi-institusi negara sekolah-sekolah, universitas-universitas, dan media-media dari puluhan ribu pendukung Gülen. Menyebabkan kekhawatiran Uni Eropa (UE) atas pelanggaran HAM di Turki.

Para pejabat Jerman dan UE pun khawatir jika menang pada referendum, Erdoğan (dengan pemerintahan presidensialnya) akan kian membungkam perbedaan pendapat serta mengacaukan demokrasi di Turki. (ais)

Sumber: kantor-kantor berita

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita