Senin, 21 September 2020

Komisi IX DPR: Biaya Pendidikan Kedokteran Terlalu Mahal.

Komisi IX DPR: Biaya Pendidikan Kedokteran Terlalu Mahal.

Foto Penyebaran dokter dan dokter spesialis di Tanah Air hingga saat ini masih tidak merata. Biaya pendidikan kedokteran yang melangit menjadi salah satu penyebab ketimpangan dalam distribusi dokter. (ist)

Jakarta, Swamedium.com- Penyebaran dokter dan dokter spesialis di Tanah Air hingga saat ini masih tidak merata. Biaya pendidikan kedokteran yang melangit menjadi salah satu penyebab ketimpangan dalam distribusi dokter.

Hal tersebut diungkapan Anggota Komisi IX Ahmad Zainuddin dalam keterangan persnya, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (29/3).

Dirinya mencontohkan, seorang siswi bernama Suharsi harus menelan pil pahit lantaran batal meneruskan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah. Padahal alumni SMAN 1 Sigi ini telah berstatus sebagai mahasiswi universitas tersebut setelah lulus SNMPTN 2016.

“Suharsi harus meninggalkan mimpinya menjadi dokter karena tidak mampu membayar biaya masuk sebesar Rp 275 juta. Biaya itu untuk masuk ke Universitas Tadulako di Sulawesi Tengah. Bagaimana dengan biaya di kampus-kampus favorit di Jawa? Bagaimana juga dengan biaya masuk pendidikan spesialis? Tentu lebih mahal,” kata Zainuddin.

Menurut Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Kesenjangan ini terjadi karena mahalnya pendidikan kedokteran, terlebih dokter sekarang lebih berpikir pragmatis daripada tanggungjawabnya sebagai seorang dokter. Bila masalah ini belum bisa diselesaikan oleh pemerintah maka selamanya tidak akan terjadi pemerataan distribusi dokter dan dokter spesialis.

“Karena setiap dokter akan mencari tempat praktik yang cepat menghasilkan uang banyak yaitu di kota-kota besar dan daerah padat penduduk. Dan mereka merasa pemerintah tidak berhak terlalu banyak mengatur mereka,” tuturnya.

Perpres No 4 tahun 2017 tentang Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) yang baru saja diteken Presiden Joko Widodo tidak akan sukses karena para dokter sepesialis hanya akan berada di daerah tempat wajib kerja satu atau dua hari saja dalam seminggu. Selebihnya, dokter bersangkutan akan praktik di tempat lain yang akan menghasilkan uang lebih banyak.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.