Selasa, 29 September 2020

Saksi Ahli Terdakwa Sebut Orang yang Melaksanakan Al Quran adalah Orang Bodoh

Saksi Ahli Terdakwa Sebut Orang yang Melaksanakan Al Quran adalah Orang Bodoh

Foto: Saksi Ahli Agama yang dihadirkan Tim Kuasa Hukum terdakwa Prof Hamka Haq yang juga anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI. (Yoga/swamedium)

Jakarta, Swamedium.com- Prof. Dr. Hamka Haq yang hadir sebagai Ahli Agama Islam dalam lanjutan sidang ke-16 kasus penistaan agama di Auditorium Gedung Kementerian Pertanian RI, Ragunan, Jakarta Selatan pada hari ini (29/3) menyebut bodoh orang yang melaksanakan ketentuan ayat suci Al Quran.

Pernyataan yang kontroversial ini disampaikan ketika ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Jaksa Penuntut Umum. Anggota Komisi VIII DPR RI dari Partai PDIP ini ditanyakan terkait apakah bisa dianggap negatif perbuatan seseorang, sebut saja B yang mengatakan bodoh kepada orang lain yaitu sebut saja A yang mengimani suatu ayat Alquran.

Tak langsung menjawab pokok pertanyaan, Ahli ketiga yang diperiksa dari rencana 7 Ahli yang dihadirkan Tim Penasehat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ini lantas memberikan contoh Surat Al Maidah 38 yang menyebutkan sanksi potong tangan bagi orang yang mencuri. Menurutnya, ketentuan sanksi potong tangan dalam Surat Al Maidah 38 tidak berlaku di Indonesia, karena sanksi tersebut tidak diundangkan.

“Kalau tidak diundangkan maka tidak mengikat. Bodoh orang yang menyatakan sanksi potong tangan bisa dilaksanakan (di Indonesia)”, terang pria yang menjabat Wakil Ketua Mustasyar Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

Ahli yang juga mengajar di Pascasarjana UIN Makasar ini menerangkan alasan mengapa ketentuan Al Quran yang dicontohkan oleh Surah Al Maidah 38 ini tidak mengikat. Ia menjelaskan bahwa ketentuan Al Quran dalam konteks hukum di Indonesia diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) golongan.

Pertama, ketentuan perihal ibadah yang telah dilindungi dalam UUD Negara RI 1945 yaitu setiap warga negara bebas memeluk agama dan menjalankan ibadahnya masing-masing.
Kedua, ketentuan Al Quran yang telah diundangkan seperti misalnya perihal perkawinan. Ketentuan ini menurutnya mengikat karena sudah diatur dalam undang-undang.
Ketiga, ketentuan Alquran yang tidak diundangkan, seperti kembali ia mencontohkan ketentuan sanksi potong tangan yang disebutkan dalam Surah Al Maidah 38. Sebaliknya yang mengikat adalah sanksi penjara sebagaimana diatur dalam undang-undang, jelasnya.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.