Selasa, 11 Mei 2021

Sentimen Negatif terhadap Warga Muslim, Media Inggris Sebut Birmingham sebagai “Ibu Kota Teroris”

Sentimen Negatif terhadap Warga Muslim, Media Inggris Sebut Birmingham sebagai “Ibu Kota Teroris”

Suasana seusai shalat Jumat di Birmingham Central Mosque. (Shafik Mandhai/Al Jazeera)

Birmingham, Swamedium.com — Warga Sparkbrook, Birmingham, Inggris, berjumlah 32.000 orang. Lebih dari 70 persennya memeluk agama Islam.

Banner Iklan Swamedium

Jika ditotal dengan distrik yang lain, populasi Muslim di Birmingham berjumlah 234.000 orang, terbanyak di Inggris, selain di London.

Citra Muslim di sana memburuk karena pelaku penyerangan Westminster, Adrian Russell Elms atau Khalid Masood, tinggal di sana sebelum melakukan penyerangan.

Beberapa surat kabar Inggris menyebut serangan itu sebagai contoh terkini kekerasan ektremis yang dikaitkan dengan Muslim dari Kota terbesar kedua di Inggris itu.

The Telegraph menggambarkan Birmingham sebagai salah satu “Titik rawan teror di Inggris” dan the Daily Mail membahasakan bagaimana Kota itu menjadi “Ibu Kota teroris Inggris”.

“Itu menyerang kami sebagai Muslim dengan tiba-tiba,” kata Abdullah, mahasiswa teknik, mengungkapkan frustrasinya terhadap pemberitaan media.

Pemuda berkebangsaan Yaman yang lahir di Birmingham itu kecewa dengan menyatakan, “Mereka (media) menulis komunitas Muslim di sini yang bertanggung jawab atas seluruh persoalan ini. Akan tetapi, kami tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Itu hanya seseorang yang melakukannya, tetapi kami semua turut disalahkan.”

“Kami tinggal bersebelahan dengan tetangga kami. Kami tidak memiliki masalah di sini,” jelas Abdullah tentang kehidupan bertetangga di Sparkbrook, Birmingham.

“Tiada aturan yang jelas dan pasti tentang definisi teroris,” tegas Belal Ballali, warga Birmingham sejak 24 tahun yang lalu dari ibu kota Skotlandia, Edinburgh, kepada Al Jazeera. Ia menyampaikan dengan aksen Skotlandia bahwa Birmingham hanya memiliki sedikit ekstremis.

Belal pun mengkritisi pemberitaan media pascaserangan Westminster yang berfokus pada hubungannya dengan Birmingham. Menurutnya, media itu melebih-lebihkan hubungan Adrian dengan komunitas Muslim Birmingham.

“(Adrian) tinggal di sebuah flat di Jalan Hagley … Setiap orang yang mengenal Birmingham tahu itu terpisah dari komunitas-komunitas Muslim dan sebagian besar merupakan hunian para pelajar,” terang Belal.

Pria turunan Libya dan Mesir itu menuturkan bahwa insiden-insiden kriminalisasi itu diolah oleh media-media sayap kanan untuk mencitrakan seluruh komunitas Muslim bermasalah.

“Ketika orang-orang senantiasa mengarang cerita bahwa Muslim merupakan masalah, bahwa mereka (Muslim) ingin mengambil alih. Tidak heran bahwa orang-orang yang menjadi narasumber di Fox News mengatakan sesuatu, seperti Birmingham adalah zona Muslim yang tidak boleh dikunjungi,” ungkapnya tentang Steve Emerson yang menggambarkan Birmingham sebagai kota Muslim secara keseluruhan, tentunya nonmuslim jangan memasukinya.

“Baiklah, lihat di sekitar Anda,” sergah Belal sambil menunjuk orang-orang yang sebagian besar orang Barat. “Berapa banyak Muslim yang Anda lihat di sini?”

Saat menjadi isu keamanan, hanya polisi dan agensi intelijen yang mengetahui dengan pasti tingkat ancaman yang berasal dari kota ini, jelas Kamran Khan, warga asli Birmingham dan akademisi Kings College London.

Pada saat shalat Jumat di Birmingham Central Mosque, ada poster-poster bertuliskan “Islam menentang terorisme”. Tudingan sebaliknya hanyalah sentimen. (ais)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita