Sabtu, 04 Desember 2021

Keindahan nan Teruji di Balik Jeruji Besi

Keindahan nan Teruji di Balik Jeruji Besi

Siapa yang menyangka bahwa seorang narapidana membuat gitar untuk musisi Meksiko-AS, Carlos Santana, saat dikurung di dalam lembaga pemasyarakatan. (Pinterest)

Los Angeles, Swamedium.com — Di dalam dinginnya lembaga pemasyarakatan (lapas), ada aktivitas seni para penghuni yang bergairah seolah-olah tanpa masalah.

Banner Iklan Swamedium

“Saya tidak punya banyak harta peninggalan,” ungkap Jeffrey Sutton, narapidana (napi) dengan hukuman 41 tahun atas pencurian bersenjata, tentang kehidupannya.

“Ini adalah hal positif yang membantu saya berfokus pada pembebasan,” lanjut Jeffrey sambil memoleskan cat hijau untuk dedaunan pada mural hutan anggur.

Kelas mural bagi para kriminalis tingkat tinggi merupakan bagian inisiatif baru pemerintah negara bagian California, Amerika Serikat (AS), untuk mengajarkan kesenian–termasuk seni rupa masyarakat asli Amerika, teater improvisasi, novel grafis, dan penulisan lagu–di seluruh lapas dewasa yang berjumlah 35 lapas, dari lapas Richard J. Donovan (RJDCF atau RJD, dekat perbatasan dengan Meksiko) hingga lapas Pelican Bay (PBSP, dekat negara bagian Oregon).

Pemerintah California setiap tahun menganggarkan 6 juta dolar AS untuk program kesenian di lapas. Jumlah itu akan bertambah menjadi 8 juta dolar AS tahun depan.

Tidak seperti program kesenian di seluruh Negara bagian yang mengandalkan para relawan, lapas satu ini–bekerja sama dengan dewan kesenian California–mendatangkan para seniman yang dihormati, seperti Guillermo Aranda, seorang muralis Chicano.

Para tahanan di lembaga pemasyarakatan San Valley sedang mengerjakan mural. (Jim Wilson/the New York Times)

Guillermo mengajarkan empat kelas di lapas Salinas Valley (SVSP), Soledad, California, setiap pekan.

Sementara itu, di dalam lapas San Quentin (SQSP atau SQ, di San Quentin, dekat San Francisco) studio seni menawarkan piring besar “pu-pu” dengan cat warna-warna metalik dan pensil gambar beraneka warna.

Seorang napi berseragam lapas biru, yang dihukum karena menembak pacar dari jarak dekat atau berkendara dengan sembrono, sehingga menewaskan dua anak kecil, berlengah-lengah dengan saksama pada kanvas.

Selain itu, Scott McKinstry (47), yang dihukum karena pembunuhan tingkat dua dan kepemilikan senjata api, telah melalui 7 tahun dari total 51 tahun masa tahanan hingga seumur hidup. Mural khayalinya diharapkan dapat menyemarakkan dinding ruang makanan.

Ia membuat mural bangunan beratap “mansard“, rumah-rumah era (ratu Inggris) Victoria berkuasa (1837–1901), dan detail-detail yang terinspirasi dari perupa kelahiran Jepang, Hiro Yamagata.

Seorang narapidana di lembaga pemasyarakatan San Quentin, Bruce Fowler, sedang mengerjakan patung yang terinspirasi oleh novel karya Ernest Hemingway, “the Old Man and the Sea”. (Jim Wilson/the New York Times)

Beralih ke Bruce Fowler (52), yang dihukum selama 21 tahun hingga seumur hidup karena kasus pembunuhan, berada di studio lapas SQ berusaha selesaikan patung yang terinspirasi oleh novel Ernest Hemingway, the Old Man and the Sea.

Ia membentuk seorang nelayan sedang memancing seekor ikan marlin besar, sementara perahunya tergoyang oleh ombak yang kuat.

Bagian patung dibentuk dari bahan yang diizinkan dalam lingkungan lapas yang ketat. Ombak papier-mâché yang menawan ialah campuran floor wax dan tisu toilet. Perahunya dibuat dari potongan-potongan meja tulis. Dayungnya ialah stik es krim dari kantin. Sang nelayan merupakan guntingan lembaran. Tali pancingnya ialah senar rusak dari kelas gitar.

“Di halaman lapas, para napi tentunya tampak sangat maskulin, tetapi di studio mereka dapat menurunkan kewaspadaan mereka,” ungkap Laura Pecenco, seorang profesor sosiologi di San Diego Miramar College dan direktur pembinaan proyek seni rupa di lapas RJD.

“Kriteria menjadi seniman yang baik berbeda dengan menjadi napi yang baik,” terang Laura. “Menjadi seniman yang baik memerlukan kemampuan menerima kritik.”

Inisiatif pemerintah California bertepatan dengan sejumlah reformasi sejak 2011, ketika mahkamah agung AS memerintahkan untuk mengurangi kepadatan lapas.

Sekitar 117.500 tahanan di seluruh lapas di negara bagian California nantinya akan dibebaskan atau mungkin dibebaskan bersyarat.

“Kelas-kelas seni semata tidak mengubah pola pikir atau perilaku kriminal, tetapi mereka dapat mengubah perilaku selama berada di lapas,” jelas Mary Butler, presiden Chief Probation Officers California.

Program kelas seni di lapas-lapas California didukung oleh Gubernur Jerry Brown.

“Kesenian, dengan ekspresi kreatif dan disiplin, membantu menyiapkan para tahanan untuk kembalinya mereka ke masyarakat yang mungkin terjadi,” ucap Jerry.

Ada sedikit data ilmiah yang mendukung hipotesis bahwa program seni dapat mengurangi residivisme, tetapi Susan Turner, seorang profesor kriminologi, hukum, dan kemasyarakatan University of California, Irvine (UCI) sedang mengevaluasi inisiatif baru pemerintah California itu dengan asosiasi William James, LSM spesialis program seni nontradisional.

Tom Lackey, politikus Republik, mengunjungi program teater salah satu lapas di sekitar rumahnya. “Enam juta (dolar AS) bukan lelucon,” ungkapnya.

“Saya dapat katakan (program seni) itu membangun moral dan harga diri di antara para tahanan, yang sangat sulit dilakukan. Bagaimana Anda menentukan nilai seseorang dalam dolar? Ini sebuah investasi yang menghasilkan keuntungan,” tuturnya mengapresiasi program seni.

Penjualan karya seni lapas menjadi kontroversial. Peraturan di California dan sebagian besar negara bagian AS tidak memperkenankan para tahanan aktif terlibat dalam bisnis tanpa persetujuan kepala sipir. Akan tetapi, tiada yang dapat mencegah seorang tahanan mengirimkan karya seninya kepada anggota keluarganya yang dapat menjualkannya.

Para tahanan di lapas SQ telah memproduksi karya seni untuk kegiatan amal dan karya mereka telah dipamerkan. Sebagian besar karya itu ditempatkan di bangunan baru Hukum dan Kriminologi, Universitas Derby di Inggris.

Gitar-gitar karya seorang mantan penghuni lembaga pemasyarakatan yang kini telah menjadi seorang luthier profesional, Robert Vincent, dikirim ke Los Angeles hingga New York. (Tiffany Camhi)

Dalam setiap lingkungan seni, kadang kala ada bintang. Robert Vincent ialah seorang mantan pengecat mobil sesuai pesanan yang dihukum selama 16 tahun hingga seumur hidup atas pembunuhan tingkat dua. Ia ditahan di lapas Sacramento, California.

Robert mengembangkan keahlian khususnya dengan menjadi seorang luthier–seseorang yang membuat dan/atau memperbaiki alat-alat musik bersenar, seperti biola dan gitar–melalui bimbingan dan pengawasaan pembuat gitar klasik dan flamenco, Kenny Hill.

Selama masa kurungan, Robert dipercayakan oleh Harry Belafonte, seorang penyanyi, penulis lagu, aktor, dan aktivis sosial AS kawakan, untuk membuatkan gitar bagi temannya, Carlos Santana, musisi Meksiko dan AS yang terkenal pada ’60-an hingga ’70-an bersama grup musiknya, Santana, sebagai pionir gabungan musik rock dengan musik Amerika Latin.

Kini, Robert merupakan seorang luthier profesional di dekat San Diego, California.

Tahukah Anda? Mungkin putranya, Raymond (31), belajar menggambar dengannya selama berkunjung ke lapas karena saat ini putranya itu menjadi seorang perupa.

Raymond merupakan seniman yang bekerja di lapas yang sama ketika bapaknya pernah menjadi salah seorang penghuninya selama belasan tahun.

“Saya sudah terbiasa dengan para tahanan dengan tato yang memenuhi wajah mereka. Itu tampak sangat biasa,” ujar Raymond, seniman putra mantan napi. (Pamungkas)

Sumber: the New York Times

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita