Minggu, 24 Januari 2021

Mari Melepaskan Diri Dari Praktik Riba

Mari Melepaskan Diri Dari Praktik Riba

Jakarta, Swamedium.com – Pangsa pasar bank syariah yang baru di kisaran 5% dari total pangsa pasar perbankan nasional membuat perannya di industri keuangan nasional ibarat menggarami lautan atau sangat kecil. Padahal, sebagai negara yang mayoritas muslim, kita menyadari bahwa melepaskan umat Islam dari praktik ekonomi berbasis riba yang melekat pada bank konvensional menjadi sebuah kewajiban.

Banner Iklan Swamedium

Dan, tanpa disadari, kini praktik riba sudah merasuk dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Terbukti banyak kasus keluarga yang berantakan akibat berselisih paham dalam soal utang piutang. Contoh terkini adalah kasus Siti Rokhayah, nenek berusia 83 tahun di Garut, Jawa Barat yang digugat oleh anak dan menantunya untuk membayar utang Rp1,8 miliar. Yang membuat hati lebih miris, nominal tagihan Rp1,8 miliar itu dari hasil melipatgandakan utang yang nilainya hanya Rp20 juta.

Tahun 2001, Nenek Rokhayah meminjam uang Rp20 juta kepada si penggugat (anak dan menantunya) karena usaha dodol yang dikelola bersama salah satu anaknya bangkrut. Uang itu dipakai untuk membayar utangnya di bank sebab kalau utang gagal bayar, maka rumahnya yang dijadikan jaminan di bank bisa disita.

Perhitungan utang sebesar Rp20 juta di tahun 2001 meningkat berlipat-lipat karena penggugat memperhitungkan kurs rupiah dan harga emas yang berlaku saat ini. Sungguh memprihatinkan, bila pola pikir riba sudah merasuk ke dalam sanubari, maka akal sehat pun bisa menjadi hilang. Di antara keluarga menjadi bertengkar dan putus hubungan silaturahminya gara-gara uang. Bahkan, anak berani ‘durhaka’ kepada ibu yang melahirkan demi kecintaannya pada uang.

Secara garis besar, riba dikelompokkan dalam dua hal, yaitu riba yang muncul dari jual beli dan riba akibat utang piutang. Dalam kasus nenek Rokhayah masuk kategori kedua, yaitu riba yang muncul akibat utang piutang.

Makna Riba

Riba sendiri bermakna memberikan tambahan atas jumlah pinjaman pada saat pengembalian berdasarkan prosentase tertentu dari jumlah pokok pinjaman yang dibebankan pada pihak peminjam (debitur). Dampaknya, peminjam atau pihak yang berutang akan menanggung beban pengembalian yang jumlahnya semakin hari semakin besar.

Para pemungut riba atau disebut rentenir ini tidak peduli keadaan ekonomi si peminjam karena yang dipikirkannya hanya keuntungan berlipat ganda dari uangnya. Jahatnya ekonomi berbasis riba itulah yang membuat Islam melarang keras praktek riba di masyarakat, sebagaimana firman Allah berikut ini:

لَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (QS. Al Baqarah [2]: 275)

Allah mengibaratkan pemakan riba seperti orang gila, yang tidak punya malu. Banyak ayat yang mempertegas larangan riba. Seperti firman Allah berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda (QS. Ali Imran 3: 130).

Riba tidak sama dengan jual beli. Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Mereka yang tetap menyuburkan dan memakan riba, maka Allah mengancam akan memusnahkan atau menghancurkan hartanya.

Pertama, menghancurkan yang bersifat konkret. Misalnya pelakunya ditimpa bencana atau musibah, seperti jatuh sakit dan membutuhkan pengobatan mahal. Ada keluarganya yang jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang banyak, anak nakal. Atau hartanya terbakar, atau dicuri orang. Akhirnya, harta yang dia dapatkan habis dengan sangat cepatnya.

Kedua, menghancurkan yang bersifat abstrak, yaitu menghilangkan (menghancurkan) berkahnya. Dia memiliki harta yang sangat berlimpah, akan tetapi dia seperti orang fakir miskin yang tidak bisa memanfaatkan hartanya sendiri. Dia simpan untuk ahli warisnya, namun dia sendiri tidak bisa memanfaatkan hartanya.

Di dunia saja, para pemakan riba sudah ditunjukkan azabnya oleh Allah. Kita bisa perhatikan di lingkungan sekitar, bagaimana nasib para pemakan riba yang meski berkecukupan harta, namun hidupnya tidak berkah. Semoga umat Islam segera terbebas dari praktik riba seiring dengan upaya umat Islam untuk membangkitkan sistem ekonomi syariah di negeri ini. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita