Senin, 28 September 2020

Mari Melepaskan Diri Dari Praktik Riba

Mari Melepaskan Diri Dari Praktik Riba

Jakarta, Swamedium.com – Pangsa pasar bank syariah yang baru di kisaran 5% dari total pangsa pasar perbankan nasional membuat perannya di industri keuangan nasional ibarat menggarami lautan atau sangat kecil. Padahal, sebagai negara yang mayoritas muslim, kita menyadari bahwa melepaskan umat Islam dari praktik ekonomi berbasis riba yang melekat pada bank konvensional menjadi sebuah kewajiban.

Dan, tanpa disadari, kini praktik riba sudah merasuk dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Terbukti banyak kasus keluarga yang berantakan akibat berselisih paham dalam soal utang piutang. Contoh terkini adalah kasus Siti Rokhayah, nenek berusia 83 tahun di Garut, Jawa Barat yang digugat oleh anak dan menantunya untuk membayar utang Rp1,8 miliar. Yang membuat hati lebih miris, nominal tagihan Rp1,8 miliar itu dari hasil melipatgandakan utang yang nilainya hanya Rp20 juta.

Tahun 2001, Nenek Rokhayah meminjam uang Rp20 juta kepada si penggugat (anak dan menantunya) karena usaha dodol yang dikelola bersama salah satu anaknya bangkrut. Uang itu dipakai untuk membayar utangnya di bank sebab kalau utang gagal bayar, maka rumahnya yang dijadikan jaminan di bank bisa disita.

Perhitungan utang sebesar Rp20 juta di tahun 2001 meningkat berlipat-lipat karena penggugat memperhitungkan kurs rupiah dan harga emas yang berlaku saat ini. Sungguh memprihatinkan, bila pola pikir riba sudah merasuk ke dalam sanubari, maka akal sehat pun bisa menjadi hilang. Di antara keluarga menjadi bertengkar dan putus hubungan silaturahminya gara-gara uang. Bahkan, anak berani ‘durhaka’ kepada ibu yang melahirkan demi kecintaannya pada uang.

Secara garis besar, riba dikelompokkan dalam dua hal, yaitu riba yang muncul dari jual beli dan riba akibat utang piutang. Dalam kasus nenek Rokhayah masuk kategori kedua, yaitu riba yang muncul akibat utang piutang.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.