Minggu, 27 September 2020

Fahira: Demokrasi Sudah Lampu Merah, Jika Polisi Tak Bisa Ungkap Otak Kampanye Hitam

Fahira: Demokrasi Sudah Lampu Merah, Jika Polisi Tak Bisa Ungkap Otak Kampanye Hitam

Foto: Senator Jakarta Fahira Idris. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Pilkada DKI Jakarta putaran kedua ini benar-benar menjadi ujian bagi marwah demokrasi dan kedewasaan berpolitik warga Jakarta.

Bagaimana tidak, di Ibu Kota yang harusnya menjadi contoh pelaksanaan pilkada bagi daerah-daerah lain di Indonesia ini, berbagai praktik-praktik yang menodai demokrasi bersemai dengan begitu suburnya.

Praktik-praktik yang menodai demokrasi itu seperti indikasi politik uang, intimidasi, aksi premanisme, dan yang paling memperihatinkan begitu marajalelanya kampanye hitam berisi fitnah yang kesemuanya itu merupakan pidana pemilu.

Senator Jakarta Fahira Idris berpendapat, jika polisi tidak bisa mengungkapkan siapa otak dibalik semua kampanye hitam ini, maka demokrasi Indonesia sudah mengkhawatirkan.

“Gerakan kampanye hitam yang menghantam Anies-Sandi sangat terstruktur, sistematis, masif dengan disokong pendanaan yang besar. Sepanjang saya ikut pemilu atau pilkada, Pilkada DKI putaran kedua ini paling brutal. Jika polisi tidak mampu mengungkap otak dibalik semua kampanye hitam ini, demokrasi kita sudah lampu merah,” ujar Fahira Idris, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (5/4).

Fahira mengungkapkan, ditemukannya dua kontainer berisi jutaan brosur kampanye hitam yang memfitnah Anies-Sandi di sebuah rumah di Jakarta Barat merupakan bukti bahwa gerakan ini didanai dan terorganisir dengan baik sehingga seharusnya bukan menjadi hal yang sulit bagi polisi untuk segera mengungkap siapa pelakunya.

Belum lagi, lanjut Fahira kalau kita bicara soal pemasangan spanduk-spanduk fitnah terhadap Anies-Sandi di ratusan titik di seluruh wilayah Jakarta yang harusnya bisa dilacak lewat CCTV serta puluhan fitnah lainnya yang menghantam pasangan ini, terutama di media sosial.

Menurutnya, aksi kampanye hitam yang terjadi berulang-ulang ini menandakan para pelakunya tidak perduli bahwa tindakan mereka ini akan berurusan dengan pihak kepolisian dan akan ada konsekuensi hukum yang mereka terima jika mereka tertangkap.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.