Selasa, 29 September 2020

Kenapa Tempe Dianggap Remeh di Indonesia?

Kenapa Tempe Dianggap Remeh di Indonesia?

Jakarta, Swamedium.com — Sejumlah praktisi dan akademisi berusaha membuat tempe naik kelas di negeri sendiri, mulai dari peningkatan mutu hingga mencari pengakuan dunia lewat UNESCO. Berhasilkah?

Di sudut Pasar Leather Lane di London, Inggris, sebuah kios milik William Mitchel tampak ramai dipenuhi pengunjung. Jam makan siang waktu itu, dan mereka mengantre demi nasi tempe yang hanya dijual setiap Rabu, Kamis, dan Jumat.

“Saya membeli (nasi dengan) dua lauk, kari tempe kuning dan tempe jinten. Menurut saya ini makanan yang paling enak di dua pasar yang ada dekat sini. Dan juga ini vegetarian, jadi tidak terasa penuh di perut,” kata satu pelanggan.

William Mitchel adalah warga Inggris yang belajar membuat tempe di Jawa. Dia memproduksi tempe sendiri di rumahnya di pinggir kota London, dimasak, lalu dijajakan di pasar.

“Saya beli setiap kedai ini buka,” kata pengunjung lainnya.

“Anda tahu dari mana tempe berasal?,” tanyanya lagi.

“Ya, Indonesia,” jawab pengunjunh itu.

Tempe sudah semakin dikenal di luar negeri. Warga Indonesia yang tinggal di Jepang, Rustono, malah dijuluki sebagai raja tempe. Dia membangun usahanya sejak tahun 1997 dan kini telah mengolah satu ton kedelai per hari. Tak cuma di Jepang, produksi tempenya sudah merambah ke Meksiko dan Korea.

“Di dunia internasional tempe itu sudah dikenal dari Indonesia. Ada orang Indonesia bilang tempe dipatenkan di Jepang, itu tidak benar. Itu bohong besar, saya berkali-kali menjelaskan itu,” kata Rustono.

“Di luar negeri mereka bilang ini ‘magic food’, kalau di Meksiko dibilangnya ‘heaven food‘. Mungkin berlebihan tapi mereka bilangnya begitu, apalagi di Jepang. Jadi masyarakat dunia menganggap tempe itu luar biasa sekali, tidak bisa dibandingkan dengan makanan yang lain. Dengan junk food misalnya, jauh,” sergahnya.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.