Jumat, 25 September 2020

Fahira Idris: Video Kampanye Ahok, Tebar Ketakutan dan Bentuk Keputusasaan

Fahira Idris: Video Kampanye Ahok, Tebar Ketakutan dan Bentuk Keputusasaan

Foto: "Bagi saya video kampanye ini bentuk kepanikan dan keputusasaan Ahok dan Tim Kampanyenya menjelang hari H," ujar Fahira Idris. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Video kampanye Pasangan Ahok-Djarot yang bertajuk ‘Beragam itu Basuki-Djarot’ mengundang kecaman dari beberapa pihak, termasuk Senator Jakarta, Fahira Fahmi Idris.

Menurut Fahira, video yang diklaim sebagai kampanye untuk mewujudkan semangat keberagaman dan toleransi, justru menebarkan pesan-pesan visual dan narasi yang mencoreng nilai dan makna yang terkandung di dalam keberagaman dan toleransi yang sudah berpuluh-puluh tahun tumbuh di Indonesia.

Menurutnya, video tersebut tidak lebih dari sebuah bentuk kampanye yang menjual ketakutan untuk memengaruhi publik agar terpaksa memilih calon yang menyebar video tersebut.

“Bagi saya video kampanye ini bentuk kepanikan dan keputusasaan Ahok dan Tim Kampanyenya menjelang hari H. Setelah berbagai hasil survei menunjukkan mereka akan kalah, ditambah program-programnya yang kurang inovasi sehingga selalu meniru program Anies-Sandi, Ahok dan Tim Kampanye mengambil jalan pintas menebar ketakutan ke Warga Jakarta sebagai senjata pemungkas yang ternyata senjata itu mengarah ke mereka sendiri,” tukas Fahira Idris, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (11/4).

Fahira mengungkapkan, video kampanye yang sempat diposting di akun sosial media pribadi Calon Gubernur Basuki Tjahaja Purnama lalu kemudian dihapus ini, tidak lebih dari sebuah iklan penyerangan terhadap pesaing politik dan terhadap suatu golongan tertentu yang dibungkus dengan propaganda dengan menyebar rumor meresahkan dan menakutkan.

Tujuannya jelas, lanjutnya, memaksa publik membenci seseorang atau golongan tertentu. Dalam konteks Pilkada, video seperti ini tujuannya agar publik memilih calon kepala daerah yang menebarkan propaganda ini.

“Bagi saya konten video ini sangat bahaya karena sudah mengarah kepada manipulasi psikologis yang dalam politik modern sudah dimuseumkan karena dianggap sebagai strategi yang kasar untuk meraih kemenangan dalam kompetisi politik. Seharusnya setelah diberi gelar ‘santri kehormatan’ dan ‘sunan’, Pak Ahok bisa lebih bijak, ternyata tidak,” sindir Fahira.

Wakil Ketua Komite III DPD ini melanjutkan, semakin bahaya video ini, karena sangat jelas penuh prasangka, menstigma, melabelisasi suatu golongan keyakinan tertentu sebagai biang kerusuhan. Bahkan sangat jelas ada spanduk provokatif yang sangat tendensius yang memberi pesan bahwa kaum yang berpeci dan bersorban punya kebencian rasial terhadap etnis tertentu.

“Biang konflik di dunia yang hingga saat ini tidak kunjung usai adalah prasangka, labelisasi, stigmatisasi, dan generalisasi suatu golongan terhadap golongan lain dan video ini menggambarkan itu semua. Saya berharap, warga Jakarta tidak terprovokasi dan tidak perlu melihat video ini. Kita harus terus menjaga akal sehat kita, walau selama pilkada ini berbagai provokasi tak kunjung henti,” pungkas Fahira. (*/ls)

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.