Kamis, 21 Januari 2021

Indonesia, Negara Agraris yang Tragis

Indonesia, Negara Agraris yang Tragis

Oleh; Widiana Safaat

Banner Iklan Swamedium

Sungguh ironis. Pada tahun 2016, Global Food Security Index menempatkan Indonesia pada posisi 71 dari 133 negara dalam hal keamanan pangan.

Peringkat Indonesia terus menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, baik dari aspek keterjangkauan, ketersediaan, maupun aspek kualitas dan keamanan pangan. Hal ini sangat menyedihkan dan tragis, mengingat Indonesia merupakan negara tropis dimana produk pangan bisa diproduksi sepanjang tahun tanpa kendala musim yang ekstrim.

Memang ada peningkatan yang cukup signifikan untuk tahun 2005 – 2015, namun dibandingkan negara-negara Asia saja, posisi Indonesia yang wilayahnya lebih luas malah kalah jauh dibandingkan dengan negara lain. Misalnya, Malaysia yang berada di urutan ke 35, bahkan Singapura berada di urutan ke 3. Lebih menyedihkan lagi, posisi Indonesia berada di bawah negara-negara Afrika seperti Tunisia (53), Botswana (54), Azerbaijan (57), dan negara Afrika lainnya.

Kondisi ini merupakan tugas berat bagi seluruh pemangku kepentingan, untuk meningkatkan Keamanan Pangan negara kita. Keamanan Pangan sangat berkorelasi langsung dengan Keamanan Negara. Ini harus dilakukan secara simultan dengan pemecahan masalah kinerja infrastruktur pertanian, kerusakan DAS (daerah aliran sungai), dan alih fungsi lahan produktif yang tidak terbentung.

Sosialisasi diversifikasi pangan harus terus digalakkan oleh pemerintah. Kesalahan masa lalu yang disadari atau tidak telah menghilangkan, bahkan memudarkan kearifan lokal tidak boleh terulang kembali. Dahulu, beberapa daerah mempunyai ciri khas makanan pokok masing-masing, seperti orang Madura dengan jagungnya, orang Papua atau Maluku dengan sagu-nya. Tetapi yang terjadi sekarang sudah hampir seragam makanan pokoknya adalah nasi atau beras. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menjadikan beras sebagai komoditas yang sangat rentan untuk dipolitisasi. Perniagaannya dikuasai segelintir orang atau cukong dan celakanya lagi pasokannya dikendalikan dari negara lain.

Berbagai peraturan mulai dari undang-undang sampai petunjuk teknis yang lebih operasional sudah dibuat sedemikian rupa, Mari kita awasi dan evaluasi pelaksanaanya, kalau ada yang salah kita koreksi dan revisi (barangkali ada pasal, ayat atau bahkan peraturan titipan para cukong/negara asing).

Mari kita optimalkan potensi-potensi yang ada (lahan, air, SDM) dengan cara beragam sesuai kearifan lokal guna meningkatkan Keamanan Pangan yang pada gilirannya negara agraris yang “Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kerto Raharjo” dapat menjadi kenyataan.

Penulis
Divisi Riset dan Pengembangan Swadaya Petani Indonesia

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita